Sopir Taksi yang Tercerahkan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Untuk kesekian kalinya saya menjadi pendengar manis sopir taksi yang memperolok-olok bupati, wali kota, dan anggota DPR yang korup dan masuk tahanan. Faiz, sopir taksi Kota Semarang ini,merasa bersyukur dan bangga menjadi sopir ketimbang pejabat negara atau wakil rakyat yang korup.

Mereka membuat rakyat sengsara dan keluarganya menanggung malu. Pertengahan April lalu, saya berkeliling naik taksi di Semarang. Rupanya dia mengenal wajah saya yang suka tampil di layarkaca, sehingga dia membuka pembicaraan seputar politik. Saya mulai dengan memberi apresiasi Kota Semarang yang tertib dan bersih. Namun, jawabannya sungguh membuat saya tercengang. Menurut Faiz,masyarakat Jawa Tengah itu religius dan mewarisi budaya luhur.

“Tetapi saya heran, mengapa pemimpinnya pada lupa diri. Banyak yang korup. Dulunya mereka miskin, hidup pas-pasan, tetapi setelah menjabat jadi berubah. Mabuk kekuasaan, yang ujung-ujungnya menyengsarakan diri, keluarga, dan rakyat. Sekarang mereka masuk penjara,” kata Faiz bersemangat. Ketika menyebut korupsi dan masuk penjara, saya menjadi penasaran, ingin tahu, siapa saja mereka itu.

Maka sopir taksi itu nyerocos: Wali Kota Semarang Soemarmo HS, status hukum tersangka, kini ditahan KPK; Ketua DPRD Jawa Tengah, Murdoko, tersangka,dan kini ditahan KPK; Akhmat Zaenuri, Sekda Kota Semarang, sedang proses Pengadilan Tipikor; Probo Yulastoro, mantan Bupati Cilacap, sedang menjalani hukuman penjara; Hendy Boedoro, mantan Bupati Kendal, terdakwa dan kini dalam penjara; Bambang Bintoro, mantan Bupati Batang, posisi tersangka; Agung Purno Sardjono dan Sumartono anggota DPRD Kota Semarang, terdakwa; Tasiman, mantan Bupati Pati, status terdakwa; Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Riza Kurniawan, status tersangka.

Demikianlah, sopir taksi tadi begitu lancar menyebut sekian nama orang penting di Jawa Tengah yang terlibat korupsi, termasuk pejabat di Tegal dan Sragen. Karena begitu meyakinkan, sementara saya tentu agak ragu dan sulit menghafal nama-nama yang dia sebut, maka saya menghubungi Saudara Nur Hidayat Sardini, dosen Undip Semarang, minta klarifikasi dan konfirmasi tentang isu tersebut.

Juga Saudara Sonya, perwakilan Kompas di Semarang.Ternyata keduanya membenarkan cerita sopir taksi tersebut. Astaghfirullah, batin saya. Mau dibawa ke mana negara dan rakyat Indonesia ini? Cerita Faiz tidak hanya berhenti di situ. “Banyak orang berambisi ingin mencalonkan diri jadi bupati atau wali kota. Mereka sudah keluar uang puluhan miliar untuk biaya kampanye, tetapi ternyata kalah.

Ujungnya mereka jatuh miskin, sakit-sakitan, keluarga berantakan, bahkan ada yang sudah meninggal, ”celotehnya berlanjut,“ dulu saya malu jadi sopir taksi. Tetapi sekarang saya bangga. Ini pilihan Tuhan yang terbaik buat saya dan keluarga,” ujarnya. Faiz sering mendapat penumpang pengusaha dan politisi yang lagi pusing. Kepalanya dipukul-pukul sendiri. Ada yang kalah judi, terkena peras, dan merasa diancam polisi atau pengadilan kalau tidak bisa melunasi utang-utangnya.

Yang membuat Faiz dilematis adalah ketika mendapatkan order dari perempuan penghibur. Dia ingin mencari rezeki yang halal dan bersih, tetapi kadang mesti mengantar tamu atau perempuan yang kerjanya begituan. “Untunglah saya sedikit-sedikit belajar hakikat hidup dan tawajjuh dari seorang ustaz,” kata Faiz, “saya merasa dekat dengan Allah, bahkan saya sering menasihati penumpang taksi yang lagi bingung, tidak punya tujuan hidup yang jelas.”

Mendengarkan obrolan sopir taksi serasa saya memperoleh kuliah dari seorang guru kehidupan yang bijak bestari. Ternyata di mata seorang sopir taksi, kejujuran, kerja keras, dan selalu mensyukuri hidup itu jauh lebih berharga ketimbang jabatan, popularitas, dan gemerlap harta. “Saya pernah mabuk harta dan ambisi jabatan, tetapi itu masa lalu,” kata Faiz, “Tuhan selalu menguji hamba-Nya, termasuk saya, yang sekarang jadi sopir taksi. Semoga saya lulus dalam ujian ini dan memperoleh kehidupan yang berkah,” doanya menutup obrolan.