Soal Keberagaman, Indonesia Dapat Mencontoh Kanada

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Hamzah Farihin

Jakarta, BERITA UIN Online - Ahli politik Kanada yang juga penulis buku “Nationalism and Ethnic Conflict in Indonesia”, Prof Jacques Bertrand dari Universtias Toronto mengatakan hal yang dapat dipelajari Indonesia dari Kanada mengenai masalah multikulturalisme adalah identitas keberagaman dapat dibangun sesuai dengan kondisi masyarakat.

“Anda dapat membangun identitas suatu bangsa dengan fleksibilitas dari masyarakat yang ada dengan proses yang berlangsung terus-menerus namun tentu tanpa menerapkan kekerasan,” jelasnya saat konferensi International “Promoting Multiculturalism in Southeast Asia: Is There a Lesson We Can Learn from Canada’s Experience” yang digelar Pusat pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) dan Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta bekerja sama dengan Kantor Kedutaan Besar Kanada di Jakarta, Rabu (23/3).

Pemerintah Kanada, menurutnya, melakukan negosiasi terus-menerus dengan etnis-etnis di Kanada mengenai keinginan masing-masing kelompok dan diperlukan kompromi dari kedua belah pihak untuk mendapatkan hasil.

“Demokrasi adalah dasar untuk mendukung keberagaman karena demokrasi menghormati hak masing-masing indvidu dan Anda tidak dapat menghormati individu tanpa menghormati kebudayaan mereka,” jelasnya.

Konferensi yang berlangsung selama dua hari ini menampilkan pembicara terkemuka dari beberapa negara antara lain Prof Lyn Parker dari Western Australia University, Prof  Leslie Bauzon dari University of the Philippines dan Dr Raihanah Moh Mydin dari University Kebangsaan Malaysia. Sedangkan dari pembicara dari Indonesia antara lain Prof Azyumardi Azra, Prof Bachtiar Effendy, Dr Irman Lanti dan Dr Luthfi Assyaukanie.

Konferensi international ini merupakan salah satu tonggak kerjasama di dalam hubungan kuat yang telah terjalin antara Kedutaan Besar Kanada dan UIN Jakarta. Melalui berbagai program yang telah dilakukan kedua lembaga ini, diharapkan dapat menjembatani celah antara sistem pendidikan Islam dan non-Islam, di mana ribuan dosen, staf dan mahasiswa dari beberapa universitas Islam di Indonesia termasuk UIN Jakarta telah menimba ilmu di Kanada.