Skeptisisme terhadap Agama

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

KATA agama, sebagaimana juga kata religion,memiliki puluhan definisi sehingga kata yang sama bisa memiliki makna dan maksud berbeda di antara mereka yang mengucapkannya.

Di Indonesia ada yang membuat perbedaan tegas antara agama dan kepercayaan kepada Tuhan. Yang pertama diyakini datang dari Tuhan melalui Rasul-Nya yang kemudian terabadikan pesan ilahi itu ke dalam kitab suci, sedangkan yang kedua tidak mengenal konsep ketuhanan dan kerasulan. Tetapi, kategori yang populer dengan istilah ”agama langit” dan ”agama bumi” ini juga mengundang perdebatan.

Baik bumi dan langit keduanya adalah ciptaan Tuhan. Di Indonesia banyak penganut aliran kepercayaan yang juga meyakini Tuhan sekalipun tidak memiliki konsep kenabian. Dalam berbagai literatur, umat Buddha hampir tidak pernah bicara tentang Tuhan. Begitu pun Kong Hu Cu yang lebih dikenal sebagai filsafat hidup. Tetapi, karena terikat konstitusi negara yang berlandaskan Pancasila, keduanya yang telah resmi diakui sebagai agama mesti mengakui Tuhan Yang Maha Esa.

Pengakuan ini langkah bijak untuk memperoleh perlindungan hukum dan administrasi karena keberadaan sebuah agama atau aliran kepercayaan memerlukan perlindungan hukum. Tetapi, urusan keyakinan yang bersifat pribadi, negara tidak bisa mencampuri. Di Barat pernah terjadi skeptisisme terhadap lembaga keagamaan karena dianggap korup dan terlibat berbagai konflik dan perang berdarah-darah.

Munculnya faham humanisme-sekularisme dan Marxisme antara lain dipicu oleh kebobrokan organisasi dan penguasa gereja waktu itu yang menekan penalaran ilmiah serta lebih sibuk dengan perebutan kekuasaan dengan mengatasnamakan Tuhan. Butuh waktu sangat lama gereja dan agama-agama di Barat untuk bisa menarik kembali simpati masyarakat Barat yang sudah merasa hidup damai dan nyaman tanpa agama. Mereka percaya kepada Tuhan, tetapi enggan bergabung dengan lembaga keagamaan.

Tidak hanya terjadi di Barat yang mayoritas Kristiani, di dunia Islam pun gejala ini mulai tampak terjadi. Berbagai ekspresi keagamaan dengan bahasa kekerasan dan kebencian telah menimbulkan kekecewaan dan skeptisisme di kalangan remaja-remaja dan mereka yang tengah tertarik mempelajari agama. Saya berjumpa kalangan eksekutif kota yang tengah tertarik mempelajari Islam yang merasa kecewa melihat materi dan metode dakwah yang dirasakan kurang tepat bagi kalangan intelektual dan eksekutif yang pergaulannya lintas agama dan bangsa.

Berbagai tindak kekerasan atas nama agama yang mendominasi pemberitaan di media massa juga membuat kecewa. Agama yang selalu dibayangkan sebagai sumber kedamaian, ilmu pengetahuan, dan kebajikan hidup ternyata diwarnai dengan fanatisme- ekstremisme yang tidak memberi ruang untuk berdialog dengan santun, cerdas, dan bersahabat. Agama lalu menjadi pemisah dan sumber kecurigaan serta persaingan yang tidak sehat dalam kultur sebuah perusahaan atau perkantoran.

Ini sangat tidak sehat dan akan menggerogoti profesionalitas dan produktivitas kerja. Semestinya agama menjadi pendorong untuk berlomba dalam berprestasi, sebagai tali pengikat persahabatan yang saling menghargai perbedaan, bukan penyebar suasana pengap, ruwet, curiga, dan saling gertak. Orang yang mudah terpancing untuk marah, apa pun alasannya, akan mudah ditunggangi dan dibelokkan oleh mereka yang menyimpan agenda politik partisan.

Mereka sangat rentan dimanfaatkan sebagai ujung tombak untuk melukai atau menusuk kelompok tertentu. Ini sudah sering terjadi di mana-mana. Ironisnya, banyak di antara mereka yang dijadikan sebagai ujung tombak merasa jadi pembela agama dan berjuang di jalan Tuhan, dan seringkali menunjukkannya dengan berperilaku brutal terhadap orang di luar kelompoknya meskipun sesama muslim. Akhir-akhir ini banyak orang mulai merasa skeptis terhadap ormas dan gerakan keagamaan karena isu keagamaan yang mencuat ke permukaan selalu seputar soal kekerasan dan pertikaian.

Media massa pun sering tidak selektif dan edukatif dalam menyajikan beritanya. Simbol-simbol keulamaan dalam Islam seperti kiai, ustad, dan habib yang semestinya dijaga kehormatannya, kemudian tercoreng dan tak lagi memperoleh simpati dan kepercayaan masyarakat. Padahal di Indonesia ketiganya memiliki konotasi ahli agama atau pendakwah agama yang dihormati. Terhadap fenomena seperti itu, ada tiga macam bentuk respons.

Pertama, ada kelompok mayoritas yang bersikap moderat dan memilih diam, dua kutub lainnya adalah mereka yang bersuara lantang dan terkesan galak dalam membela Islam, dan mereka yang bersikap skeptis dan sinis pada organisasi dan gerakan keagamaan. Di Barat pernah muncul slogan: Spirituality-Yes, Religion-No. Ada lagi ungkapan lain: Yes to God, No to Religion. Bukan mustahil bahwa di Indonesia slogan-slogan seperti ini bisa saja berkembang.(*)