Sivitas Akademika Harus Care

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

UIN Jakarta sudah sejak lama memiliki sistem informasi manajemen perguruan tinggi atau Simperti berbasis web. Masalahnya, pemanfaatan Simperti di kalangan sivitas akademika belum dilakukan secara optimal. Benarkah? Untuk mengetahui lebih jauh tentang Simperti, berikut wawancara Nanang Syaikhu dari UINJKT Online dengan Kepala Biro PKSI Drs H Abdul Malik. Petikannya:

UIN Jakarta sudah memiliki sistem informasi manajemen perguruan tinggi (Simperti). lalu, sudah sejaumana pemanfaatannya hingga sekarang?
Ibarat rumah, rumah itu sudah ada. Hanya saja belum dimanfaatkan secara maksimal oleh kita. Mungkin baru beberapa persen saja. Untuk itu, perlu sosialisasi tentang pemanfaatan simperti UIN Jakarta ini. Sebenarnya sosialisasi ini sudah dilakukan sejak tahun lalu. Bahkan, kita juga sudah mengadakan workshop sebanyak tiga kali. Tapi di lapangan  kita akui belum maksimal.

Apakah ini terkait dengan soal SDM di lapangan?
Ya sosialisasi sudah dilakukan, tapi ini mungkin menyangkut mindset. Sebagian pegawai kita masih memiliki mindset lama. Bukannya tidak bisa menggunakan komputer, hanya belum care saja. Karena itu, perlu adanya perubahan mindset dan kita akan terus menerus menyosialisasikannya karena sudah dianggarkan dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran atau DIPA.

Sebagian kecil di program studi (jurusan) kita juga belum care. Tapi kita terus mendorong seluruh sivitas akademika untuk menggunakannya. Mungkin suatu saat ada sistem yang memaksa. Seperti rambu lalu lintas, supaya jalan pelan tapi selalu dilanggar, maka perlu ada aturan yang memaksa misalnya dengan membuat semacam polisi tidur.

Sekarang ini UIN Jakarta sedang menuju world class university. Artinya di bidang administrasi harus bisa mengimbangi, termasuk mengubah mindset tadi. Kalau mengubah sarana itu gampang, yang susah adalah mengubah mindset.

Bagaimana untuk mengubah mindset SDM itu?
Kita memang tidak bisa melakukan perubahan secara drastis. Tapi mekanisme ini akan jalan terus, tidak menunggu, sampai orang akan yakin sendiri bahwa simperti itu efektif dan efisien. Sistem ini akan selalu mengalami perubahan terus menerus. jadi, siapa yang tidak peduli, kita akan tergilas zaman.

Simperti ini juga milik bersama, milik orang banyak, bukan hanya milik satu orang. jadi biarkan sistem yang berjalan.

Menurut Anda, apakah aplikasi Simperti ini berpengaruh terhadap kinerja SDM dibandingkan dengan cara manual. Maksudnya kinerja dan jumlah SDM menjadi berkurang?

Sistem manual itu padat karya. Sistem komputerisasi hanya diperlukan beberapa orang saja untuk menyelesaikan pekerjaan administrasi. Ini lebih efektif, efisien dan canggih. Pengalihan padat karya ke komputerisasi memang harus pelan-pelan, sebab pekerjaan lima orang, bisa jadi hanya dikerjakan satu orang saja.

Apa saja target pembangunan dan pengembangan Simperti tahun ini?
Target tahun ini, mahasiswa bisa menanyakan nilai hasil perkuliahan melalui layanan short message service (SMS) atau SMS Gatway. Selain itu, dari sistem keuangan tahun ini, targetnya bisa melihat laporan seluruh transaksi dengan sekali pencet. Kita juga bisa mengetahui data pegawai dengan memasukkan nama atau Nomor Induk Pegawai atau NIP-nya. Perpustakaan juga akan dibuat berbasis web. Jadi ketika butuh buku, kita tidak harus langsung ke perpustakaan untuk mencarinya melainkan cukup melalui internet. Bahkan, kalau mungkin,  perpustakaan seluruh IAIN dan UIN di Indonesia nanti akan diintegrasikan.

Apa harapan anda dengan adanya Simperti ini?
Harapan saya, dengan adanya Simperti UIN Jakarta ini, kita berharap semua sivitas akademika ada rasa care untuk memanfaatkannya secara maksimal.

Mengapa UIN Jakarta harus memanfaatkan simperti?
Kalau ingin menguasai dunia, maka yang pertama harus dikuasai adalah teknologi informasi dan komunikasi atau TIK, sehingga yang tidak peduli TIK akan tertinggal sendiri. Karena itu, UIN Jakarta berupaya untuk menguasai dan mengembangkan TIK ini. Sebab, di zaman sekarang ini kita tidak bisa hidup tanpa penguasaan terhadap TIK.

UIN Jakarta juga tak akan menjadi world class university jika tanpa menguasai TIK. Karena siapa saja yang tidak mengikuti tik dia akan tertinggal. Nggak usah didorong-dorong pun dengan sendirinya orang pasti akan tertinggal. Era teknologi sekarang ini tampaknya tak bisa ditawar-tawar lagi karena memang sudah waktunya.

Berdasarkan hasil survey yang dikemukakan sebuah majalah yang terbit di amerika, menyebutkan bahwa bidang TIK berada pada urutan pertama dari ilmu yang paling dibutuhkan di dunia saat ini. Sementara urutan kedua adalah bidang atau ilmu akuntansi. Bidang kedokteran, masih menurut survey itu, justru berada pada urutan kesepuluh.

Ini apa artinya menurut Anda?
Ya itu tadi, bahwa kunci untuk menguasai dunia itu adalah bidang TIK. Jadi  tanpa penguasaan terhadap TIK ini mustahil dunia akan dikuasai. 10 tahun lalu orang mungkin masih berpikir bahwa globalisasi ditandai dengan industri. Semua bidang diindustrikan, seperti bidang pertanian dan perikanan. Tapi sekarang tidak lagi. Globalisasi justru ditandai dengan era TIK.*

Sivitas Akademika Harus Care

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

UIN Jakarta sudah sejak lama memiliki sistem informasi manajemen perguruan tinggi atau Simperti berbasis web. Masalahnya, pemanfaatan Simperti di kalangan sivitas akademika belum dilakukan secara optimal. Benarkah? Untuk mengetahui lebih jauh tentang Simperti, berikut wawancara Nanang Syaikhu dari UINJKT Online dengan Kepala Biro PKSI Drs H Abdul Malik. Petikannya:

UIN Jakarta sudah memiliki sistem informasi manajemen perguruan tinggi (Simperti). lalu, sudah sejaumana pemanfaatannya hingga sekarang?
Ibarat rumah, rumah itu sudah ada. Hanya saja belum dimanfaatkan secara maksimal oleh kita. Mungkin baru beberapa persen saja. Untuk itu, perlu sosialisasi tentang pemanfaatan simperti UIN Jakarta ini. Sebenarnya sosialisasi ini sudah dilakukan sejak tahun lalu. Bahkan, kita juga sudah mengadakan workshop sebanyak tiga kali. Tapi di lapangan  kita akui belum maksimal.

Apakah ini terkait dengan soal SDM di lapangan?
Ya sosialisasi sudah dilakukan, tapi ini mungkin menyangkut mindset. Sebagian pegawai kita masih memiliki mindset lama. Bukannya tidak bisa menggunakan komputer, hanya belum care saja. Karena itu, perlu adanya perubahan mindset dan kita akan terus menerus menyosialisasikannya karena sudah dianggarkan dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran atau DIPA.

Sebagian kecil di program studi (jurusan) kita juga belum care. Tapi kita terus mendorong seluruh sivitas akademika untuk menggunakannya. Mungkin suatu saat ada sistem yang memaksa. Seperti rambu lalu lintas, supaya jalan pelan tapi selalu dilanggar, maka perlu ada aturan yang memaksa misalnya dengan membuat semacam polisi tidur.

Sekarang ini UIN Jakarta sedang menuju world class university. Artinya di bidang administrasi harus bisa mengimbangi, termasuk mengubah mindset tadi. Kalau mengubah sarana itu gampang, yang susah adalah mengubah mindset.

Bagaimana untuk mengubah mindset SDM itu?
Kita memang tidak bisa melakukan perubahan secara drastis. Tapi mekanisme ini akan jalan terus, tidak menunggu, sampai orang akan yakin sendiri bahwa simperti itu efektif dan efisien. Sistem ini akan selalu mengalami perubahan terus menerus. jadi, siapa yang tidak peduli, kita akan tergilas zaman.

Simperti ini juga milik bersama, milik orang banyak, bukan hanya milik satu orang. jadi biarkan sistem yang berjalan.

Menurut Anda, apakah aplikasi Simperti ini berpengaruh terhadap kinerja SDM dibandingkan dengan cara manual. Maksudnya kinerja dan jumlah SDM menjadi berkurang?

Sistem manual itu padat karya. Sistem komputerisasi hanya diperlukan beberapa orang saja untuk menyelesaikan pekerjaan administrasi. Ini lebih efektif, efisien dan canggih. Pengalihan padat karya ke komputerisasi memang harus pelan-pelan, sebab pekerjaan lima orang, bisa jadi hanya dikerjakan satu orang saja.

Apa saja target pembangunan dan pengembangan Simperti tahun ini?
Target tahun ini, mahasiswa bisa menanyakan nilai hasil perkuliahan melalui layanan short message service (SMS) atau SMS Gatway. Selain itu, dari sistem keuangan tahun ini, targetnya bisa melihat laporan seluruh transaksi dengan sekali pencet. Kita juga bisa mengetahui data pegawai dengan memasukkan nama atau Nomor Induk Pegawai atau NIP-nya. Perpustakaan juga akan dibuat berbasis web. Jadi ketika butuh buku, kita tidak harus langsung ke perpustakaan untuk mencarinya melainkan cukup melalui internet. Bahkan, kalau mungkin,  perpustakaan seluruh IAIN dan UIN di Indonesia nanti akan diintegrasikan.

Apa harapan anda dengan adanya Simperti ini?
Harapan saya, dengan adanya Simperti UIN Jakarta ini, kita berharap semua sivitas akademika ada rasa care untuk memanfaatkannya secara maksimal.

Mengapa UIN Jakarta harus memanfaatkan simperti?
Kalau ingin menguasai dunia, maka yang pertama harus dikuasai adalah teknologi informasi dan komunikasi atau TIK, sehingga yang tidak peduli TIK akan tertinggal sendiri. Karena itu, UIN Jakarta berupaya untuk menguasai dan mengembangkan TIK ini. Sebab, di zaman sekarang ini kita tidak bisa hidup tanpa penguasaan terhadap TIK.

UIN Jakarta juga tak akan menjadi world class university jika tanpa menguasai TIK. Karena siapa saja yang tidak mengikuti tik dia akan tertinggal. Nggak usah didorong-dorong pun dengan sendirinya orang pasti akan tertinggal. Era teknologi sekarang ini tampaknya tak bisa ditawar-tawar lagi karena memang sudah waktunya.

Berdasarkan hasil survey yang dikemukakan sebuah majalah yang terbit di amerika, menyebutkan bahwa bidang TIK berada pada urutan pertama dari ilmu yang paling dibutuhkan di dunia saat ini. Sementara urutan kedua adalah bidang atau ilmu akuntansi. Bidang kedokteran, masih menurut survey itu, justru berada pada urutan kesepuluh.

Ini apa artinya menurut Anda?
Ya itu tadi, bahwa kunci untuk menguasai dunia itu adalah bidang TIK. Jadi  tanpa penguasaan terhadap TIK ini mustahil dunia akan dikuasai. 10 tahun lalu orang mungkin masih berpikir bahwa globalisasi ditandai dengan industri. Semua bidang diindustrikan, seperti bidang pertanian dan perikanan. Tapi sekarang tidak lagi. Globalisasi justru ditandai dengan era TIK.*