Situ Kuru, Riwayatmu Kini

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Semilir angin berhembus dari hamparan danau yang bening. Sementara suara gemericik air mengalir tenang tanpa henti. Di pinggiran danau, tepatnya di belakang kos-kosan di Jalan Pesanggrahan, sejumlah mahasiswa sore itu sibuk membaca buku sambil menikmati sejuknya semilir angin.

Tapi nanti dulu. Suasana seperti itu hanya dapat dinikmati di era 1970-an saat Situ Kuru belum banyak terjamah tangan manusia. Sekarang, jangankan akan melihat lagi mahasiswa duduk bersender di kursi sambil membaca buku, danau yang bening pun sudah keruh dan bahkan kerap menimbulkan aroma tak sedap. Beberapa lahan di pinggiran danau bahkan kini sudah padat dengan rumah penduduk.

Keindahan Situ Kuru tempo doeloe tak hanya dinikmati mahasiswa, warga pun ikut senang karena bisa memancing atau sekadar mencari udara segar.

“Dulu, para warga sekitar biasa menikmati semilir angin di tepian Situ Kuru sambil memancing,” ungkap Yusuf (51 tahun), warga setempat.

Ia juga bercerita, jika musim panas tiba, tak sedikit warga dari luar yang datang ke Situ Kuru, seperti dari Ciputat, Kampung Sawah, dan Rempoa. Mereka dapat duduk-duduk sambil menikmati indahnya pemandangan situ dengan kejernihan airnya. Saking jernihnya pula, air Situ Kuru sering dimanfaatkan warga untuk mencuci beras atau mandi. “Bahkan, dulu kalau sedang capek dan kehausan, kami suka minum air situ langsung meski tidak setiap hari,” kenang Yusuf.

Situ Kuru berada persis di samping kampus UIN Jakarta yang dibelah Jalan Pesanggrahan. Luas danau semula mencapai sekitar lima hektar, namun kini telah menyusut hingga 7.500 meter persegi saja. Belum diketahui persis kapan sejarah situ tersebut dibangun. Tapi yang jelas, riwayat Situ Kuru kini semakin memprihatinkan. Selain sudah banyak yang diurug, tak sedikit pula warga mendirikan bangunan berupa hunian dan tempat usaha. Ironisnya, bangunan-bangunan itu didirikan tanpa izin yang jelas.

“Ada sekitar 30 bangunan yang berdiri tanpa surat izin,” kata Widya, Ketua RT 03/RW 03 Kelurahan Cempaka Putih. Ia menyebut, pemilik bangunan di kawasan itu tak hanya warga pendatang melainkan juga ada di antaranya pegawai dan dosen UIN Jakarta.

Dosen Planologi Institut Teknologi Indonesia (ITI) Tangerang Kusparmadi mengatakan, di Kota Tangerang Selatan ini terdapat sembilan situ, yakni Situ Pamulang atau Tujuh Muara di Pamulang, Situ Kedaung di Pamulang, Situ Parigi di Pondok Aren, Situ Rawa Kutub di Serpong Utara, Situ Gintung di Cirendeu Ciputat Timur, Situ Legoso (sekarang Situ Kuru) di Kelurahan Cempaka Putih, Ciputat Timur, Situ Rumpang di Kecamatan Ciputat, Situ Bungur di Kelurahan Pondok Ranji Kecamatan Ciputat Timur, dan Situ Antap di Ciputat.

“Dari sembilan situ yang telah kita inventarisir, empat di antaranya telah hilang keberadaannya,” kata Kusparmadi seperti dikutip Radar Banten (20/2). Dijelaskan Kusparmadi, keempat situ yang dinyatakan hilang itu masing-masing adalah Situ Kuru di Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Ciputat Timur, Situ Rumpang di Kecamatan Ciputat, Situ Bungur, di Kelurahan Pondok Ranji, Ciputat Timur, dan Situ Antap di Ciputat.

“Keempat situ itu keberadaannya kini sudah tak terlihat di peta bahkan tak terpantau satelit,” jelasnya. Kusparmadi mengaku prihatin dengan keberadaan situ-situ tersebut. Ke depan, ia berharap agar Pemkot Tangsel segera melakukan pendataan kembali terhadap keberadaan situ-situ yang ada di kawasan tersebut.

“Keberadaan situ itu sangat penting bagi masyarakat dan ini PR bagi Pemkot Tangsel,” terangnya. Ia juga mengatakan, fungsi keberadaan situ ini sebagai penampung air dan mengantisipasi banjir. Jika situ ini berubah alih fungsi dikhawatirkan membuat sebagian wilayah Tangerang Selatan rawan banjir.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengairan Dinas Bina Marga Kabupaten Tangerang Yulianto mengatakan, awalnya keberadaan situ-situ itu tidak terurus. Akibatnya, terjadi pendangkalan dan oleh warga lalu dijadikan area permukiman.

Rektor UIN Jakarta Prof Dr Komaruddin Hidayat saat berdiaolog dengan Pejabat Walikota Tangsel HM Saleh MT dalam beberapa kesempatan sempat meminta agar Situ Kuru dibenahi dan dikembalikan fungsinya sebagai daerah resapan air. Harapan yang sama dikemukakan kembali saat berdialog dengan sejumlah anggota DPRD Kota Tangsel di kampus UIN Jakarta. “Kami meminta agar Situ Kuru dibenahi karena sekarang sudah banyak diambilalih sebagai permukiman warga,” katanya.

Tak hanya itu, UIN Jakarta melalui Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPM) belum lama ini juga telah melayangkan surat permohonan serupa. Surat yang ditujukan ke Pemkot Tangsel, DPRD Tangsel, dan Balai Besar Kali Ciliwung dan Cisadane itu mendesak agar Situ Kuru segera dialihfungsikan kembali sebagai daerah resapan air dan taman wisata. “Kami ingin Situ Kuru seperti tahun 70-an dan kelak dibuatkan joging track untuk olahraga,” kata Dr Yayan Sopyan, Sekretaris LPM. (ns/ana sabhana azmy, dari berbagai sumber)

Situ Kuru, Riwayatmu Kini

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Semilir angin berhembus dari hamparan danau yang bening. Sementara suara gemericik air mengalir tenang tanpa henti. Di pinggiran danau, tepatnya di belakang kos-kosan di Jalan Pesanggrahan, sejumlah mahasiswa sore itu sibuk membaca buku sambil menikmati sejuknya semilir angin.

Tapi nanti dulu. Suasana seperti itu hanya dapat dinikmati di era 1970-an saat Situ Kuru belum banyak terjamah tangan manusia. Sekarang, jangankan akan melihat lagi mahasiswa duduk bersender di kursi sambil membaca buku, danau yang bening pun sudah keruh dan bahkan kerap menimbulkan aroma tak sedap. Beberapa lahan di pinggiran danau bahkan kini sudah padat dengan rumah penduduk.

Keindahan Situ Kuru tempo doeloe tak hanya dinikmati mahasiswa, warga pun ikut senang karena bisa memancing atau sekadar mencari udara segar.

“Dulu, para warga sekitar biasa menikmati semilir angin di tepian Situ Kuru sambil memancing,” ungkap Yusuf (51 tahun), warga setempat.

Ia juga bercerita, jika musim panas tiba, tak sedikit warga dari luar yang datang ke Situ Kuru, seperti dari Ciputat, Kampung Sawah, dan Rempoa. Mereka dapat duduk-duduk sambil menikmati indahnya pemandangan situ dengan kejernihan airnya. Saking jernihnya pula, air Situ Kuru sering dimanfaatkan warga untuk mencuci beras atau mandi. “Bahkan, dulu kalau sedang capek dan kehausan, kami suka minum air situ langsung meski tidak setiap hari,” kenang Yusuf.

Situ Kuru berada persis di samping kampus UIN Jakarta yang dibelah Jalan Pesanggrahan. Luas danau semula mencapai sekitar lima hektar, namun kini telah menyusut hingga 7.500 meter persegi saja. Belum diketahui persis kapan sejarah situ tersebut dibangun. Tapi yang jelas, riwayat Situ Kuru kini semakin memprihatinkan. Selain sudah banyak yang diurug, tak sedikit pula warga mendirikan bangunan berupa hunian dan tempat usaha. Ironisnya, bangunan-bangunan itu didirikan tanpa izin yang jelas.

“Ada sekitar 30 bangunan yang berdiri tanpa surat izin,” kata Widya, Ketua RT 03/RW 03 Kelurahan Cempaka Putih. Ia menyebut, pemilik bangunan di kawasan itu tak hanya warga pendatang melainkan juga ada di antaranya pegawai dan dosen UIN Jakarta.

Dosen Planologi Institut Teknologi Indonesia (ITI) Tangerang Kusparmadi mengatakan, di Kota Tangerang Selatan ini terdapat sembilan situ, yakni Situ Pamulang atau Tujuh Muara di Pamulang, Situ Kedaung di Pamulang, Situ Parigi di Pondok Aren, Situ Rawa Kutub di Serpong Utara, Situ Gintung di Cirendeu Ciputat Timur, Situ Legoso (sekarang Situ Kuru) di Kelurahan Cempaka Putih, Ciputat Timur, Situ Rumpang di Kecamatan Ciputat, Situ Bungur di Kelurahan Pondok Ranji Kecamatan Ciputat Timur, dan Situ Antap di Ciputat.

“Dari sembilan situ yang telah kita inventarisir, empat di antaranya telah hilang keberadaannya,” kata Kusparmadi seperti dikutip Radar Banten (20/2). Dijelaskan Kusparmadi, keempat situ yang dinyatakan hilang itu masing-masing adalah Situ Kuru di Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Ciputat Timur, Situ Rumpang di Kecamatan Ciputat, Situ Bungur, di Kelurahan Pondok Ranji, Ciputat Timur, dan Situ Antap di Ciputat.

“Keempat situ itu keberadaannya kini sudah tak terlihat di peta bahkan tak terpantau satelit,” jelasnya. Kusparmadi mengaku prihatin dengan keberadaan situ-situ tersebut. Ke depan, ia berharap agar Pemkot Tangsel segera melakukan pendataan kembali terhadap keberadaan situ-situ yang ada di kawasan tersebut.

“Keberadaan situ itu sangat penting bagi masyarakat dan ini PR bagi Pemkot Tangsel,” terangnya. Ia juga mengatakan, fungsi keberadaan situ ini sebagai penampung air dan mengantisipasi banjir. Jika situ ini berubah alih fungsi dikhawatirkan membuat sebagian wilayah Tangerang Selatan rawan banjir.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengairan Dinas Bina Marga Kabupaten Tangerang Yulianto mengatakan, awalnya keberadaan situ-situ itu tidak terurus. Akibatnya, terjadi pendangkalan dan oleh warga lalu dijadikan area permukiman.

Rektor UIN Jakarta Prof Dr Komaruddin Hidayat saat berdiaolog dengan Pejabat Walikota Tangsel HM Saleh MT dalam beberapa kesempatan sempat meminta agar Situ Kuru dibenahi dan dikembalikan fungsinya sebagai daerah resapan air. Harapan yang sama dikemukakan kembali saat berdialog dengan sejumlah anggota DPRD Kota Tangsel di kampus UIN Jakarta. “Kami meminta agar Situ Kuru dibenahi karena sekarang sudah banyak diambilalih sebagai permukiman warga,” katanya.

Tak hanya itu, UIN Jakarta melalui Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPM) belum lama ini juga telah melayangkan surat permohonan serupa. Surat yang ditujukan ke Pemkot Tangsel, DPRD Tangsel, dan Balai Besar Kali Ciliwung dan Cisadane itu mendesak agar Situ Kuru segera dialihfungsikan kembali sebagai daerah resapan air dan taman wisata. “Kami ingin Situ Kuru seperti tahun 70-an dan kelak dibuatkan joging track untuk olahraga,” kata Dr Yayan Sopyan, Sekretaris LPM. (ns/ana sabhana azmy, dari berbagai sumber)