Sistem Keuangan Islam Bisa Bangkit dengan Akhlak

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Jaenuddin Ishaq

 

Masjid Fathullah, UIN Online – Sistem keuangan Islam saat ini masih bisa dibangkitkan, selama pelaku ekonomi memiliki pondasi untuk membangkitkannya. Di antaranya memiliki akhlak baik. 

 

Demikian dikatakan Ketua Jurusan Manajemen Dakwah (MD) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Drs Hasanuddin Ibnu Hiban MA saat khutbah Jumat di Masjid Fathullah UIN, Jumat (4/9).

 

Hasanuddin menyebutkan, ada lima macam pondasi yang harus dipikirkan oleh pelaku ekonomi Islam. Pertama, tauhid, yakni meng-Esa-kan Allah SWT.  Kedua, al-‘Adl (Adil), yakni memberikan sesuatu secara sama rata. “Kata adil juga memiliki arti tidak mau mencari keuntungan semata,” ujar Hasanuddin.

 

Ketiga, lanjutnya, yang harus diperhatikan pelaku ekonomi Islam yaitu nubuwah (memiliki sifat kenabian), seperti sifat shidiq, amanah, tabligh, dan fathonah.  “Tanpa fathonah (cerdas), misalnya, seseorang tidak mampu untuk mengatur strategi keuangan dengan baik. Tentunya semua sifat itu, saling berkaitan,” tutur Hasanuddin yang juga koordinator Forum Komunikasi Jurusan Manajemen Dakwah (FKMD) UIN/IAIN/STAIN se-Indonesia periode 2009-2012.    

 

Keempat, khilafah (pemerintah). Dan kelima ma’ad (hasil atau kembali). “Setelah kita berupaya semaksimal mungkin, semuanya akan kembali kepada Allah SWT,” ungkapnya.

 

Terkait dengan puasa, Hasanuddin mengatakan, dalam ekonomi Islam di samping ada harta untuk diri sendiri juga terdapat milik bersama yang perlu dibagikan. “Karena itu kita mengenal lembaga zakat,” jelas pengurus MUI kota Tangerang Selatan itu. []

 

Sistem Keuangan Islam Bisa Bangkit dengan Akhlak

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Jaenuddin Ishaq

 

Masjid Fathullah, UIN Online – Sistem keuangan Islam saat ini masih bisa dibangkitkan, selama pelaku ekonomi memiliki pondasi untuk membangkitkannya. Di antaranya memiliki akhlak baik. 

 

Demikian dikatakan Ketua Jurusan Manajemen Dakwah (MD) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Drs Hasanuddin Ibnu Hiban MA saat khutbah Jumat di Masjid Fathullah UIN, Jumat (4/9).

 

Hasanuddin menyebutkan, ada lima macam pondasi yang harus dipikirkan oleh pelaku ekonomi Islam. Pertama, tauhid, yakni meng-Esa-kan Allah SWT.  Kedua, al-‘Adl (Adil), yakni memberikan sesuatu secara sama rata. “Kata adil juga memiliki arti tidak mau mencari keuntungan semata,” ujar Hasanuddin.

 

Ketiga, lanjutnya, yang harus diperhatikan pelaku ekonomi Islam yaitu nubuwah (memiliki sifat kenabian), seperti sifat shidiq, amanah, tabligh, dan fathonah.  “Tanpa fathonah (cerdas), misalnya, seseorang tidak mampu untuk mengatur strategi keuangan dengan baik. Tentunya semua sifat itu, saling berkaitan,” tutur Hasanuddin yang juga koordinator Forum Komunikasi Jurusan Manajemen Dakwah (FKMD) UIN/IAIN/STAIN se-Indonesia periode 2009-2012.    

 

Keempat, khilafah (pemerintah). Dan kelima ma’ad (hasil atau kembali). “Setelah kita berupaya semaksimal mungkin, semuanya akan kembali kepada Allah SWT,” ungkapnya.

 

Terkait dengan puasa, Hasanuddin mengatakan, dalam ekonomi Islam di samping ada harta untuk diri sendiri juga terdapat milik bersama yang perlu dibagikan. “Karena itu kita mengenal lembaga zakat,” jelas pengurus MUI kota Tangerang Selatan itu. []