Sistem Imun Sebagai Tentara Terdepan Tubuh Manusia

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

 

Reporter : Hilda Savitri

Gedung Auditorium, BERITA UIN Online – Sistem imun sangat penting bagi tubuh manusia. Tanpa sistem imun kekebalan tubuh manusia akan sangat lemah dan mudah dihinggapi penyakit. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit menyerang tubuh kita adalah dengan melakukan imunisasi.

Demikian benang merah yang terungkap dalam seminar nasional bertema “Immunology Nowadays” yang digelar di Gedung Auditorium Prof Dr Harun Nasution, Sabtu (10/11). Hadir sebagai pembicara pakar alergi dan imunologi Dr dr Iris Rengganis, SpPD K-AI, FINASIM serta Dosen Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Jakarta Nurmeilis, M.Si.

Iris mengungkapkan, sistem imun yang ada dalam tubuh manusia sudah sangat lengkap dan mampu mencegah berbagai macam penyakit. Seseorang hanya harus mencaga dan melakukan pengawasan agar sistem imun yang ada dalam dirinya tetap dapat bekerja optimal.  Imun yang ada dalam diri seseorang, lanjut Iris, harus seimbang. Jika imun terlalu lemah maka penyakit akan mudah masuk ke dalam tubuh. Namun sebaliknya, jika imun terlalu aktif maka akan berbalik menyerang tubuh orang tersebut.

“Imun dalam diri kita berfungsi sebagai tentara terdepan dalam melawan berbagai macam penyakit,” ujarnya.

Iris menambahkan, seseorang juga harus memperhatikan waktu penggunaan obat yang tepat dan harus memperhatikan indikasi yang timbul saat terserang penyakit. Penggunaan obat yang salah dapat menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan.

Mengatakan, sejak awal tahun 2000 perkembangan obat-obatan yang dapat memodulasi sistem imun tubuh manusia (imunomodulator) telah berkembang pesat.Saat ini beberapa bahan tumbuhan dilaporkan dapat meningkatkan fungsi sistem imun dan dapat mempercepat penyembuhan penyakit infeksi. Penggunaan tanaman sebagai bahan dasar imunodulator diharapkan dapat memperkecil kemungkinan efek samping yang akan timbul.

Akan tetapi, lanjut ia, sampai saat ini belum ada standarisasi kualitas dan dosis yang jelas dari imunodulator berbahan herbal tersebut. Hal itu disebabkan data dosis dan respon uji klinis masih sangat terbatas.

“Beberapa tumbuhan yang dapat dijadikan  bahan herbal modulator itu seperti meniran, mengkudu, jahe, lidah buaya, dan sebagainya,” katanya.