Sindrom Raja Midas

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
 

 

 

TENTUNYAAnda pernah menonton film koboi yang berburu harta karun dengan petunjuk peta yang kadang ditemukan tidak sengaja dalam sebuah rumah tua tanpa penghuni.

Setelah mereka berkelana melalui perjalanan panjang penuh risiko, akhirnya berhasil menemukan seonggok harta karun berupa emas berlian yang tersimpan dalam peti.Apa yang biasa terjadi begitu serombongan koboi tadi dihadapkan pada rezeki nomplok di depan matanya? Ego dan sikap serakahnya spontan muncul. Masing-masing ingin memiliki sendiri dengan cara membinasakan yang lain.

Maka koboi tadi mulai bertengkar menonjolkan jasanya dan biasanya berujung adu tembak. Karena sama-sama jago tembak, akhirnya tak ada yang memenangi pertandingan. Semua mati terkena peluru lawan. Perjuangan panjang untuk mendapatkan harta karun sia-sia dan berakhir dengan mati konyol. Sikap rakus itu rupanya merupakan sifat bawaan manusia yang mesti diwaspadai.Jangan sampai gairah untuk mengejar kekayaan dunia yang mestinya menjadi sarana kebahagiaan hidup malah berbalik menjadi malapetaka.

Dalam mitologi Yunani sifat serakah dan lupa diri ini dihadirkan dalam sosok Raja Midas. Midas adalah seorang figur penguasa dalam legenda Yunani Kuno, sosok seorang raja yang rakus, sangat bangga dengan jabatan yang dipeluknya. Yang paling mencolok adalah kesenangannya menumpuk kekayaan bagi diri dan keluarganya sekalipun harus mengorbankan kepentingan rakyatnya.

Mayoritas rakyat benci kepada Raja Midas, tetapi tidak memiliki nyali dan keberanian untuk melawannya. Jangankan melawan, mengkritik secara terbuka pun tidak berani. Paling banter rakyat hanya berbisik-bisik di warung kopi atau membicarakannya dengan bahasa sindiran. Tiba-tiba, pada suatu hari, masyarakat heboh bersorak-sorai karena mendengar Raja Midas menjadi gila gara-gara sang permaisuri mati dan berubah menjadi patung emas. Selidik punya selidik, rakyat akhirnya mengetahui penyebab tragedi itu.

Rupanya Sang Raja yang telah kaya-raya dan tak tertandingi di antero negeri itu masih belum puas atas kemewahannya, kemegahan, serta jabatan yang dimilikinya. Maka bersemedi dan berdoalah Raja Midas kepada sang dewa meminta agar tangannya dianugerahi kekuatan magis sehingga benda apa pun yang disentuhnya berubah menjadi emas. Begitulah, wangsit dan restu dari langit kahyangan turun mengisyaratkan bahwa permohonan Raja Midas dikabulkan sang dewa.

Maka Raja Midas bergegas pulang ingin segera menyulap istananya dengan tangan magisnya agar menjadi istana emas dan menjadi raja terkaya di muka bumi. Demikianlah, sesampai di istana, Raja Midas mulai menyentuh dan mengusap pagarnya sambil mengucapkan mantera-mantera yang diterimanya sehingga pagar istana itu seketika berubah menjadi emas.Dengan semangat dan muka sangat ceria, lalu disentuhlah bangunan rumah seisinya satu per satu sehingga berubahlah menjadi istana emas.

Dengan bangga dan pongah dipandanglah bangunan istana emasnya itu. Raja Midas merasa puas dan yakin tak ada lagi orang lain di negerinya yang mampu menandingi kekayaannya. Demikianlah, setelah puas memandangi istana emasnya yang sangat megah dengan tamannya yang luas, Raja Midas mulai merasa haus dan lapar. Maka bergegaslah masuk ke ruang makan ingin segera mengisi perutnya yang kosong dan membasahi tenggorokannya yang kering.

Apa yang terjadi? Begitu makanan dan minuman tersentuh tangannya, semuanya berubah menjadi emas.Raja Midas kaget,lapar, haus, dan bingung sehingga berteriak- teriak minta tolong. Dengan tergopoh-gopoh, datanglah sang permaisuri yang sudah lama memang sudah rindu untuk bertemu dengan suaminya. Begitu berjumpa dipeluknyalah sang permaisuri untuk melepas rindu sambil menangis kebingungan bagaikan anak kecil.Kebingungan Raja Midas semakin menjadi-jadi ketika mendapatkan kenyataan bahwa sang permaisurinya pun berubah menjadi patung emas akibat sentuhan tangannya.

Sungguh tragis, sejak saat itu Raja Midas pun merasa kesepian, bingung, sedih,menyesal, mengutuk dirinya, dan akhirnya menjadi gila. Rakyat pun hanya bisa mencemooh bercampur kasihan. Lalu, siapa Raja Midas itu? Mungkin diri kita sendiri. Mungkin benar-benar hanya sebuah legenda. Namun sebagai sebuah tipologi, mungkin saja ia melekat pada karakter penguasa dan politikus yang rakus, yang menempatkan kemewahan popularitas, tahta, dan harta sebagai tujuan hidupnya.

Namun dambaan hidupnya tadi hanya mengantarkannya pada kesengsaraan. Sindrom Raja Midas bisa menimpa siapa saja yang sangat bangga pada kekuasaan hanya untuk mengejar dan menumpuk kekayaan materi. Dalam skala kecil, sekali lagi, bisa saja karakter Raja Midas itu bersemayam pada diri kita,hanya saja tidak sempat muncul dan teraktualisasikan ke permukaan secara mencolok karena tak ada fasilitas dan kesempatan untuk berkuasa.(*)

 

Sindrom Raja Midas

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
 

 

 

TENTUNYAAnda pernah menonton film koboi yang berburu harta karun dengan petunjuk peta yang kadang ditemukan tidak sengaja dalam sebuah rumah tua tanpa penghuni.

Setelah mereka berkelana melalui perjalanan panjang penuh risiko, akhirnya berhasil menemukan seonggok harta karun berupa emas berlian yang tersimpan dalam peti.Apa yang biasa terjadi begitu serombongan koboi tadi dihadapkan pada rezeki nomplok di depan matanya? Ego dan sikap serakahnya spontan muncul. Masing-masing ingin memiliki sendiri dengan cara membinasakan yang lain.

Maka koboi tadi mulai bertengkar menonjolkan jasanya dan biasanya berujung adu tembak. Karena sama-sama jago tembak, akhirnya tak ada yang memenangi pertandingan. Semua mati terkena peluru lawan. Perjuangan panjang untuk mendapatkan harta karun sia-sia dan berakhir dengan mati konyol. Sikap rakus itu rupanya merupakan sifat bawaan manusia yang mesti diwaspadai.Jangan sampai gairah untuk mengejar kekayaan dunia yang mestinya menjadi sarana kebahagiaan hidup malah berbalik menjadi malapetaka.

Dalam mitologi Yunani sifat serakah dan lupa diri ini dihadirkan dalam sosok Raja Midas. Midas adalah seorang figur penguasa dalam legenda Yunani Kuno, sosok seorang raja yang rakus, sangat bangga dengan jabatan yang dipeluknya. Yang paling mencolok adalah kesenangannya menumpuk kekayaan bagi diri dan keluarganya sekalipun harus mengorbankan kepentingan rakyatnya.

Mayoritas rakyat benci kepada Raja Midas, tetapi tidak memiliki nyali dan keberanian untuk melawannya. Jangankan melawan, mengkritik secara terbuka pun tidak berani. Paling banter rakyat hanya berbisik-bisik di warung kopi atau membicarakannya dengan bahasa sindiran. Tiba-tiba, pada suatu hari, masyarakat heboh bersorak-sorai karena mendengar Raja Midas menjadi gila gara-gara sang permaisuri mati dan berubah menjadi patung emas. Selidik punya selidik, rakyat akhirnya mengetahui penyebab tragedi itu.

Rupanya Sang Raja yang telah kaya-raya dan tak tertandingi di antero negeri itu masih belum puas atas kemewahannya, kemegahan, serta jabatan yang dimilikinya. Maka bersemedi dan berdoalah Raja Midas kepada sang dewa meminta agar tangannya dianugerahi kekuatan magis sehingga benda apa pun yang disentuhnya berubah menjadi emas. Begitulah, wangsit dan restu dari langit kahyangan turun mengisyaratkan bahwa permohonan Raja Midas dikabulkan sang dewa.

Maka Raja Midas bergegas pulang ingin segera menyulap istananya dengan tangan magisnya agar menjadi istana emas dan menjadi raja terkaya di muka bumi. Demikianlah, sesampai di istana, Raja Midas mulai menyentuh dan mengusap pagarnya sambil mengucapkan mantera-mantera yang diterimanya sehingga pagar istana itu seketika berubah menjadi emas.Dengan semangat dan muka sangat ceria, lalu disentuhlah bangunan rumah seisinya satu per satu sehingga berubahlah menjadi istana emas.

Dengan bangga dan pongah dipandanglah bangunan istana emasnya itu. Raja Midas merasa puas dan yakin tak ada lagi orang lain di negerinya yang mampu menandingi kekayaannya. Demikianlah, setelah puas memandangi istana emasnya yang sangat megah dengan tamannya yang luas, Raja Midas mulai merasa haus dan lapar. Maka bergegaslah masuk ke ruang makan ingin segera mengisi perutnya yang kosong dan membasahi tenggorokannya yang kering.

Apa yang terjadi? Begitu makanan dan minuman tersentuh tangannya, semuanya berubah menjadi emas.Raja Midas kaget,lapar, haus, dan bingung sehingga berteriak- teriak minta tolong. Dengan tergopoh-gopoh, datanglah sang permaisuri yang sudah lama memang sudah rindu untuk bertemu dengan suaminya. Begitu berjumpa dipeluknyalah sang permaisuri untuk melepas rindu sambil menangis kebingungan bagaikan anak kecil.Kebingungan Raja Midas semakin menjadi-jadi ketika mendapatkan kenyataan bahwa sang permaisurinya pun berubah menjadi patung emas akibat sentuhan tangannya.

Sungguh tragis, sejak saat itu Raja Midas pun merasa kesepian, bingung, sedih,menyesal, mengutuk dirinya, dan akhirnya menjadi gila. Rakyat pun hanya bisa mencemooh bercampur kasihan. Lalu, siapa Raja Midas itu? Mungkin diri kita sendiri. Mungkin benar-benar hanya sebuah legenda. Namun sebagai sebuah tipologi, mungkin saja ia melekat pada karakter penguasa dan politikus yang rakus, yang menempatkan kemewahan popularitas, tahta, dan harta sebagai tujuan hidupnya.

Namun dambaan hidupnya tadi hanya mengantarkannya pada kesengsaraan. Sindrom Raja Midas bisa menimpa siapa saja yang sangat bangga pada kekuasaan hanya untuk mengejar dan menumpuk kekayaan materi. Dalam skala kecil, sekali lagi, bisa saja karakter Raja Midas itu bersemayam pada diri kita,hanya saja tidak sempat muncul dan teraktualisasikan ke permukaan secara mencolok karena tak ada fasilitas dan kesempatan untuk berkuasa.(*)