Silaturahim Atau Silaturahmi?

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Ada yang bertanya soal penulisan silaturahmi dan silaturahim, mana yang benar? Kalau mau ‘cuek’ soal bahasa, peduli amat dengan istilah. Tapi ada satu kaidah; “Tidak ada perdebatan dalam istilah jika hakihatnya sama.”

Saya beri contoh begini; Saya mau silaturahim ke Rektor UIN Jakarta, supaya panjang umur dan dimudahkan rezeki. Benarkah contoh ini? Contoh ini pakai kata ‘silaturahim’. Kenapa tidak pakai kata silaturahmi? Hal yang ‘ecek-ecek’ tapi sering diabaikan orang. Kalimat yang lebih tepat; saya mau silaturahmi ke Rektor UIN Jakarta……….

Silaturahim berasal dari bahasa Arab, ‘sillah ar-rahim’ (Shillah), artinya hubungan rahim; tali kasih sayang. Jadi kata ‘silaturahim’ ini merujuk pada hubungan kekeluargaan. Ikatan janin, ikatan darah daging.

Ada yang menganggap kata ‘silaturahim’ lebih tepat daripada ‘silaturahmi’. Benarkah? Seperti kita tahu, dua serapan ini sering digunakan dalam bahasa Indonesia. Kata silah itu bersandar pada kata ‘silah’ (shillah), hubungan, tali. Sementara ar-rahim dan ar-rahm, ini memang ada dua bentuk nomina. Yang dimaksud bentuk nomina itu, bentuk kata benda. Kata-kata yang merujuk pada bentuk suatu benda.

Ada aura berbeda dari kata rahim dan rahmi. Rahim merujuk pada ‘tempat janin’. Sementara ‘rahmi’ terserap dari ‘ar-rahm’, kasih sayang. Ada hadis Nabi: Barang siapa yang ingin dimudahkan rezekinya dan dipanjangkan usianya hendaklah menghubungkan rahimnya (bersilaturahim). Bahkan Nabi sangat keras bagi orang yang memutuskan hubungan: Tidak akan masuk surga pemutus (silaturahim).

Dalam ruang lingkup kampus, kenapa kita gemar memutus silaturahmi hanya perbedaan pilihan? Kenapa gemar memutus silaturahmi karena di dalam diri kita masih bersemayam ego dan impian-impian pribadi yang keluar dari nalar.

Bagi saya, silaturahim dan silaturahmi, hakikatnya mengandung makna yang sama tapi penggunaannya dalam kalimat berbeda. Dan secara harfiah berbeda. Intinya keterikatan hubungan. Siapa yang memutus hubungan pada konteks ‘tempat janin’, hubungan keluarga, ubungan anak dan orangtua, ia akan terputus dari surga yang dijanjikan Allah. (Ingat kata orangtua disambung. Disambung karena ada ikatan janin. Penulisan kata orang tua, dipisah, ini orang tua dalam makna siapa saja orang yang dianggap tua tanpa ikatan darah).

Jadi tidak boleh kita memutus hubungan (ikatan janin) dengan keluarga sendiri meski benci ke adik atau kakak, ia satu rahim. Dan pada kata rahmi, tali kasih sayang, pun sama. Tidak boleh memutus kasih sayang terhadap sesama.

Inti dari dua kata silaturahim dan silaturahmi, ada pada fungsi kata tersebut. Kata silaturahim lebih merujuk pada hubungan kekeluargaan, sementara silaturahmi bersandar pada sikap kasih sayang secara universal.

Silaturahim atau silaturahmi, dua-duanya bisa digunakan. Tapi jangan ada kalimat mari kita bangun ‘hubungan silaturahim’. Kata ‘hubungan’ ini mubazir. Kenapa ‘hubungan silaturahim atau hubungan silaturahmi’ mubazir? Karena kata silaturahim dan silaturahmi, sudah punya arti hubungan.

Maka salah jika kita menulis, ‘Mari bangun hubungan silaturahmi dengan istri-istri tetangga sebelah’ sementara hubungan dengan istri sendiri, tersendat. Tersendat perihal silaturahim, hubungan kasih sayang.

*****


Edy A Effend
i, penulis esai-esai budaya di Kompas dan berbagai media massa. Dan saat ini mengajar di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta