Sihar Ramses Simatupang: Penulis Perlu Miliki Idealisme

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Irma Wahyuni

Gedung FAH, UINJKT Online – Kritikus Sastra Sihar Ramses Simatupang mengimbau para penulis novel agar memiliki idealisme dalam karya-karyanya. 

“Tidak semua penulis memiliki idealisme, itulah yang sebenarnya penting dalam sebuah karya sastra,” ujar Ramses saat ditemui UINJKT Online setelah mengisi acara Bedah Novel “Lanang” di Ruang Teater FAH, Kamis (28/5).

Menurut Ramses, membaca sebuah karya sastra adalah menghubungkan antara idealisme penulis dengan karya yang ditulisnya. “Karena apapun idealismenya, dalam karya sastra itulah, dibebankan segala pikiran si pengarang terhadap sejarah masyarakatnya,” kata Ramses.

Ia berpendapat, banyak sekali penulis muda yang karyanya cukup populer tetapi tidak memiliki idealisme. Itulah sebabnya, lanjut Ramses, karya mereka hanya dibaca pada dekade-dekade tertentu saja, bahkan hanya dibaca pada tahun-tahun awal penerbitan saja.

Ramses memaparkan, banyak karya para penulis muda yang karyanya hanya berorientasi pada hiburan atau untuk meraih finansial saja. “Itulah kondisi perkembangan sastra kita saat ini, sedikit sekali penulis yang memiliki idealisme,” katanya. 

Ia berpesan kepada para penulis muda agar memiliki idealisme dalam berkarya. ”Tulislah karya yang kuat baik dari bahasa, cerita maupun temanya sehingga dibaca sampai ke tahun-tahun berikutnya, bahkan hingga penulisnya telah tiada,” gagasnya. []

Sihar Ramses Simatupang: Penulis Perlu Miliki Idealisme

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Irma Wahyuni

Gedung FAH, UINJKT Online – Kritikus Sastra Sihar Ramses Simatupang mengimbau para penulis novel agar memiliki idealisme dalam karya-karyanya. 

“Tidak semua penulis memiliki idealisme, itulah yang sebenarnya penting dalam sebuah karya sastra,” ujar Ramses saat ditemui UINJKT Online setelah mengisi acara Bedah Novel “Lanang” di Ruang Teater FAH, Kamis (28/5).

Menurut Ramses, membaca sebuah karya sastra adalah menghubungkan antara idealisme penulis dengan karya yang ditulisnya. “Karena apapun idealismenya, dalam karya sastra itulah, dibebankan segala pikiran si pengarang terhadap sejarah masyarakatnya,” kata Ramses.

Ia berpendapat, banyak sekali penulis muda yang karyanya cukup populer tetapi tidak memiliki idealisme. Itulah sebabnya, lanjut Ramses, karya mereka hanya dibaca pada dekade-dekade tertentu saja, bahkan hanya dibaca pada tahun-tahun awal penerbitan saja.

Ramses memaparkan, banyak karya para penulis muda yang karyanya hanya berorientasi pada hiburan atau untuk meraih finansial saja. “Itulah kondisi perkembangan sastra kita saat ini, sedikit sekali penulis yang memiliki idealisme,” katanya. 

Ia berpesan kepada para penulis muda agar memiliki idealisme dalam berkarya. ”Tulislah karya yang kuat baik dari bahasa, cerita maupun temanya sehingga dibaca sampai ke tahun-tahun berikutnya, bahkan hingga penulisnya telah tiada,” gagasnya. []