Sidney Jones: Bedakan antara Islam Radikal Garis Keras dan Konservatif

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Hotel Ambhara, UIN Online – Direktur International Crisis Group, Sidney Jones, mengungkapkan diketahuinya ragam Islam radikal di Solo merupakan temuan penting. Pasalnya Solo merupakan daerah yang kaya budaya dan sejarah. Namun, perlu dibedakan antara Islam radikal garis keras dengan Islam radikal konservatif.

Hal itu disampaikan Sidney Jones saat menanggapi dan mengkritik hasil penelitian para peneliti Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Jakarta dalam Seminar Hasil Penelitian Pemetaan Ideologi Masjid-Masjid di Solo yang digelar CSRC di Hotel Ambhara Jakarta, Kamis (7/01).

Jones mengatakan, Islam radikal adalah Islam yang memahami doktrin Islam secara harfiah dan menolak interpretasi rasional maupun kontekstual terhadap Al-Qur’an dan Hadist. Penganut aliran radikal cenderung tidak toleran terhadap aliran lain yang berbeda faham.

Menurutnya, mereka memperjuangkan Islam total, yang atas dasar mendirikan khilafah atau Negara Islam dan mendesak formalisasi Syari’at Islam.

Sedangkan Islam moderat menurut Jones adalah aliran yang toleran dengan tetap menggunakan interpretasi rasional. Mereka lebih mengutamakan substansi ajaran ketimbang formalitas skriptural, mendukung Pancasila,  UUD 1945, dan NKRI, setuju dengan demokrasi, mengakui hak-hak minoritas dan dalam tingkat tertentu mengakui kebebasan agama.

“Hasil penelitian ini sangat menarik bagi saya karena memberikan banyak informasi tentang Kota Solo yang sangat kaya akan sejarah dan budaya. Penelitian ini juga penting untuk mengerti proses radikalisasi di daerah Solo,” ujarnya saat ditemui UIN Online di sela acara.

Ia juga mengimbau untuk lebih hati-hati dalam meneliti masjid-masjid yang dianggap radikal, seperti Masjid Gumuk yang disebutkan dalam hasil penelitian.

“Tetapi tidak bisa di-judge sebagai aliran radikal melalui kriteria yang sudah ada, karena sulit untuk mengetahui apakah ada infiltrasi ideologi yang lebih keras lagi,” ujar Jones dalam komentarnya tentang hasil penelitian.

Ia juga menyarankan para peneliti untuk meneliti dari faktor-faktor lain agar bisa membedakan antara radikal dan moderat agar menjadi lebih jelas.

“Masih harus ada yang disempurnakan dari penelitian ini, terkait dengan perbedaan spesifik antara Radikal garis keras, moderat,  dan radikal konservatif, terutama untuk aliran radikal, karena kita tidak bisa menggabungkan semua,” paparnya. [Irma Wahyuni]

 

Sidney Jones: Bedakan antara Islam Radikal Garis Keras dan Konservatif

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Hotel Ambhara, UIN Online – Direktur International Crisis Group, Sidney Jones, mengungkapkan diketahuinya ragam Islam radikal di Solo merupakan temuan penting. Pasalnya Solo merupakan daerah yang kaya budaya dan sejarah. Namun, perlu dibedakan antara Islam radikal garis keras dengan Islam radikal konservatif.

Hal itu disampaikan Sidney Jones saat menanggapi dan mengkritik hasil penelitian para peneliti Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Jakarta dalam Seminar Hasil Penelitian Pemetaan Ideologi Masjid-Masjid di Solo yang digelar CSRC di Hotel Ambhara Jakarta, Kamis (7/01).

Jones mengatakan, Islam radikal adalah Islam yang memahami doktrin Islam secara harfiah dan menolak interpretasi rasional maupun kontekstual terhadap Al-Qur’an dan Hadist. Penganut aliran radikal cenderung tidak toleran terhadap aliran lain yang berbeda faham.

Menurutnya, mereka memperjuangkan Islam total, yang atas dasar mendirikan khilafah atau Negara Islam dan mendesak formalisasi Syari’at Islam.

Sedangkan Islam moderat menurut Jones adalah aliran yang toleran dengan tetap menggunakan interpretasi rasional. Mereka lebih mengutamakan substansi ajaran ketimbang formalitas skriptural, mendukung Pancasila,  UUD 1945, dan NKRI, setuju dengan demokrasi, mengakui hak-hak minoritas dan dalam tingkat tertentu mengakui kebebasan agama.

“Hasil penelitian ini sangat menarik bagi saya karena memberikan banyak informasi tentang Kota Solo yang sangat kaya akan sejarah dan budaya. Penelitian ini juga penting untuk mengerti proses radikalisasi di daerah Solo,” ujarnya saat ditemui UIN Online di sela acara.

Ia juga mengimbau untuk lebih hati-hati dalam meneliti masjid-masjid yang dianggap radikal, seperti Masjid Gumuk yang disebutkan dalam hasil penelitian.

“Tetapi tidak bisa di-judge sebagai aliran radikal melalui kriteria yang sudah ada, karena sulit untuk mengetahui apakah ada infiltrasi ideologi yang lebih keras lagi,” ujar Jones dalam komentarnya tentang hasil penelitian.

Ia juga menyarankan para peneliti untuk meneliti dari faktor-faktor lain agar bisa membedakan antara radikal dan moderat agar menjadi lebih jelas.

“Masih harus ada yang disempurnakan dari penelitian ini, terkait dengan perbedaan spesifik antara Radikal garis keras, moderat,  dan radikal konservatif, terutama untuk aliran radikal, karena kita tidak bisa menggabungkan semua,” paparnya. [Irma Wahyuni]