Serambi Mujahid Mesopotamia Sarat Kaidah Jurnalistik

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Aula Student Center, UIN Online – Puluhan mahasiswa menghadiri acara Bedah Novel Serambi Mujahid Mesopotamia karya Yoki R. Sukarjaputra, di Aula Student Center, Kamis (3/6). Bahasa novel ini sangat mudah dicerna, sama seperti novelis-novelis lainnya yang terkenal di Indonesia. Bedanya, karya Yoki lebih banyak diungkap dengan bahasa jurnalisme sastrawi.

“Novel ini sangat inspiratif dan diharapkan dapat memotivasi generasi muda Indonesia,” ujar Yoki. Ia menambahkan bahwa hasil karyanya tersebut bukan hanya ditujukan kepada masyarakat Indonesia saja, namun seluruh masyarakat di seantero dunia. Novel setebal 248 halaman ini menarik jadi subjek kajian penelitian. Karena ada berbagai kalangan yang menilai ini adalah karya sastra jurnalistik dan sebagian pula menilai jurnalisme sastrawi.

“Sebaiknya jangan terlalu cepat menyimpulkan, kita cermati terlebih dahulu tentang makna keduanya,” ujar sastrawan dan wartawan Kompas, Yurnaldi. Menurutnya, untuk membedakan sastra jurnalistik dengan jurnalisme sastrawi dapat dibedakan pada pemuatan karya tulisnya.

Namun, menurut Yurnaldi, yang mengutip Thomas Kennerly Wolfe Jr, ada tiga hal yang menjadi ciri jurnalisme sastrawi. Pertama, mengandalkan dialog dan adegan dalam tulisan; kedua, menggunakan teknik immerse reporting, yaitu reporter seakan-akan menyusup dalam cerita yang sedang dikerjakan; ketiga, tak hanya menggunakan teknik liputan dua liputan (cover both side) melainkan multi-liputan (cover all side), bahkan bertahun-tahun, agar hasil liputannya mendalam.

Menurut Yurnaldi, polemik yang sering terjadi di Indonesia yaitu, mengidentifikasikan jurnalisme sastrawi dengan bahasa puitis atau estetis. Padahal, jurnalisme tidak selalu menggunakan bahasa yang mendayu-dayu, sebaliknya harus lugas. “Sebenarnya unsur jurnalistik 5W + 1H dalam novel ini tetap ada. Yoki mengembangkan who menjadi karakter, what menjadi alur, where menjadi latar, when menjadi kronologis, why menjadi motif dan how menjadi narasi,” ujarnya.

Dia menambahkan, dalam karya sastra ini dibutuhkan informasi yang lebih banyak. Sebab dalam pekerjaan new journalism, liputannya digarap di luar kebiasaan reporter koran, yakni mengamati seluruh suasana, meluaskan dialog, memakai sudut pandang dan mencari bentuk monolog interior yang biasa dipakai.

Hal senada juga diutarakan Yoki, “Memang ketika menggarap novel ini, saya sangat meresapi dan mendalami karakter Rayhan, yang memiliki semangat juang yang tinggi. Untuk setting shot novel ini, diimajinasikan selayaknya berada di Irak, ketika perang berkecamuk”. Yoki berharap novelnya diminati oleh seluruh lapisan masyarakat dan suatu saat bisa diangkat ke layar lebar.

Acara tersebut ditutup dengan pembagian novel secara gratis kepada 10 orang mahasiswa dan bazar buku yang bekerjasama dengan Mizan Corner Book. //  Lyna

Serambi Mujahid Mesopotamia Sarat Kaidah Jurnalistik

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Aula Student Center, UIN Online – Puluhan mahasiswa menghadiri acara Bedah Novel Serambi Mujahid Mesopotamia karya Yoki R. Sukarjaputra, di Aula Student Center, Kamis (3/6). Bahasa novel ini sangat mudah dicerna, sama seperti novelis-novelis lainnya yang terkenal di Indonesia. Bedanya, karya Yoki lebih banyak diungkap dengan bahasa jurnalisme sastrawi.

“Novel ini sangat inspiratif dan diharapkan dapat memotivasi generasi muda Indonesia,” ujar Yoki. Ia menambahkan bahwa hasil karyanya tersebut bukan hanya ditujukan kepada masyarakat Indonesia saja, namun seluruh masyarakat di seantero dunia. Novel setebal 248 halaman ini menarik jadi subjek kajian penelitian. Karena ada berbagai kalangan yang menilai ini adalah karya sastra jurnalistik dan sebagian pula menilai jurnalisme sastrawi.

“Sebaiknya jangan terlalu cepat menyimpulkan, kita cermati terlebih dahulu tentang makna keduanya,” ujar sastrawan dan wartawan Kompas, Yurnaldi. Menurutnya, untuk membedakan sastra jurnalistik dengan jurnalisme sastrawi dapat dibedakan pada pemuatan karya tulisnya.

Namun, menurut Yurnaldi, yang mengutip Thomas Kennerly Wolfe Jr, ada tiga hal yang menjadi ciri jurnalisme sastrawi. Pertama, mengandalkan dialog dan adegan dalam tulisan; kedua, menggunakan teknik immerse reporting, yaitu reporter seakan-akan menyusup dalam cerita yang sedang dikerjakan; ketiga, tak hanya menggunakan teknik liputan dua liputan (cover both side) melainkan multi-liputan (cover all side), bahkan bertahun-tahun, agar hasil liputannya mendalam.

Menurut Yurnaldi, polemik yang sering terjadi di Indonesia yaitu, mengidentifikasikan jurnalisme sastrawi dengan bahasa puitis atau estetis. Padahal, jurnalisme tidak selalu menggunakan bahasa yang mendayu-dayu, sebaliknya harus lugas. “Sebenarnya unsur jurnalistik 5W + 1H dalam novel ini tetap ada. Yoki mengembangkan who menjadi karakter, what menjadi alur, where menjadi latar, when menjadi kronologis, why menjadi motif dan how menjadi narasi,” ujarnya.

Dia menambahkan, dalam karya sastra ini dibutuhkan informasi yang lebih banyak. Sebab dalam pekerjaan new journalism, liputannya digarap di luar kebiasaan reporter koran, yakni mengamati seluruh suasana, meluaskan dialog, memakai sudut pandang dan mencari bentuk monolog interior yang biasa dipakai.

Hal senada juga diutarakan Yoki, “Memang ketika menggarap novel ini, saya sangat meresapi dan mendalami karakter Rayhan, yang memiliki semangat juang yang tinggi. Untuk setting shot novel ini, diimajinasikan selayaknya berada di Irak, ketika perang berkecamuk”. Yoki berharap novelnya diminati oleh seluruh lapisan masyarakat dan suatu saat bisa diangkat ke layar lebar.

Acara tersebut ditutup dengan pembagian novel secara gratis kepada 10 orang mahasiswa dan bazar buku yang bekerjasama dengan Mizan Corner Book. //  Lyna