Semut adalah makhluk Allah SWT terkuat secara fisik. Boleh jadi benar. Menurut sebuah riset, semut mampu mengangkat benda 20x lipat dari berat badannya, sedangkan atlet angkat besi/berat paling banter mampu mengangkat beban 5x lipat dari berat badannya. Mengapa? Allah berfirman:

قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النمل ادخلوا مساكنكم لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ (النمل:)18

“… berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.”

Semut itu kuat, karena ternyata 70% dari struktur dan komponen fisiknya itu berupa kaca, makanya dalam ayat tersebut Allah SWT menyatakan “la yahthimannakum” (kata hathama-yahthimu) itu makna asalnya adalah memecahkan. Benda yang pecah, antara lain, terbuat dari kaca.

Makanya, kalau menggigit, gigitan semut itu sungguh menyakitkan. Selain itu, kekuatan semut juga terletak pada kemampuan komunikasinya. Kerajaan semut ini dipimpin seorang ratu yang memiliki kemampuan berkomunikasi efektif bagi warganya.

“Komunitas semut” berhasil menghindar dari injakan Nabi Sulaiman AS dan tentaranya berkat instruksi sang ratu yang kemudian dipatuhi oleh warganya. Semut bisa berkomunikasi dengan Nabi Sulaiman AS. Sungguh luar biasa…

Barangkali karena itulah, Allah SWT menjadikan semut atau an-Naml sebagai salah satu nama surat Alquran. Beberapa peribahasa juga dikaitkan dengan semut, seperti: ada gula, ada semut. Manusia saja bisa kesemutan. Antrian pelamar PNS baru itu sudah menyemut sejak dini hari. Sarang semut dari Papua itu berkhasiat. Bahkan, salah satu stasiun kereta api pun dinamai semut.

Dr Muhbib A Wahab, dosen Program Magister FITK UIN Jakarta. (mf)