Seminar Kebangsaan ; Pancasila Berdaulat, Bangsa Selamat

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Auditorium Utama, Berita UIN Online— Pancasila harus menjadi pandangan hidup, falsafah, ideologi dan dasar pelaksanaan ketatanegaraan oleh seluruh lapisan masyarakat. Selain Undang-Undang Dasar 1945, Pancasila lahir dari pemikiran dan pengalaman para pendahulu bangsa untuk mempersatukan masyarakat Indonesia yang plural.

Demikian simpulan dari Seminar Kebangsaan bertema Pancasila Berdaulat, Bangsa Selamat di Auditorium Utama, Senin (20/10). Seminar diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Konsentrasi (HMK) Jurnalistik UIN Jakarta dan bekerjasama dengan Pengurus Perguruan Tinggi (PPT) Ikatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Indonesia (IMIKI) UIN Jakarta.

Seminar kebangsaan dibuka Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FIDIKOM) Dr Arief Subhan MA dan Wakil Walikota Tangerang Selatan Benyamin Davnie. Hadir sebagai narasumber Laksamana TNI (Purn) Slamet Soebijanto, Dr Rudy Alfian, Gus Amos, Drs Syaiful Abdullah S.Ag.

Dalam sambutannya, dekan berharap seminar memupuk nasionalisme mahasiswa dan civitas akademik. Menurutnya, menjadikan Pancasila sebagai landasan dan falsafah sejalan dengan komitmen UIN Jakarta dalam meneguhkan keindonesiaan, keislaman, dan kemodernan secara bersamaan.

“Seminar ini sangat penting melihat akhir-akhir ini pancasila seperti dilupakan. Oleh karena itu, pancasila adalah pilihan paling tepat dijadikan dasar negara Indonesia,”tambahnya.

Sedangkan Davnie mengungkapkan, Wilayah Tangerang Selatan memiliki tingkat kepadatan penduduk cukup tinggi. Kondisi demikian menjadikannya rentan konflik sosial. Untuk itu, penanaman nilai-nilai moralitas seperti ditegaskan Pancasila menjadi hal yang diperlukan.

Sementara itu, Slamet Soebijanto mengungkapkan, Pancasila merupakan refleksi jati diri bangsa. “Karena Pancasila adalah produk pengalaman sejarah, budaya, sifat, jati diri bangsa Indonesia yang kemudian menjadi azas bangsa yang mengacu pada kebenaran agama-agama yang ada di Indonesia,” tandasnya.

Sebagai catatan, survei nasional Pusat dan Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta tahun 2007 mencatat mayoritas responden survey (84,7%) mendukung Pancasila sebagai landasan ideologi dibanding menjadikan Indonesia sebagai negara Islam (22,8%).

Setahun kemudian, Survei KOMPAS tahun 2008 mencatat, pengetahuan masyarakat mengenai Pancasila merosot tajam; 48,4 % responden berusia 17-49 tahun tidak bisa menyebutkan sila-sila Pancasila secara benar dan lengkap; 42,7 % responden berusia 30-45 tahun salah menyebutkan sila-sila Pancasila, dan responden berusia 46 tahun keatas lebih parah, yakni sebanyak 60,6 persen salah menyebutkan kelima point Pancasila. (SM/LRF)