Auditorium Harun Nasution, Berita UIN Online – Industri televisi nasional didesak menayangkan tayangan yang bersifat edukatif menggantikan tayangan berbau SARA, menonjolkan unsur sensualitas, mistik, dan sadisme. Hal ini karena siaran televisi merupakan tayangan yang dinikmati mayoritas masyarakat Indonesia.

Demikian pesan yang tersaji dari Seminar Industri Televisi Nasional “Televisi Ko Gitu?” di Auditorium Harun Nasution, Selasa (26/09). Seminar digelar DNK TV Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FIDKOM) UIN Jakarta bekerjasama dengan RCTI dan MNC TV.

Seminar yang dibuka Dekan FIDKOM UIN Jakarta Dr. Arief Subhan MA menghadirkan sejumlah narasumber penting. Diantaranya Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia RI Nuning Rodiyah, Sekretaris Manager DNK TV Dedi Fahrudin M,I.Kom, Direktur I News Dr. Nicolaus Uskono M.Si.

Dalam paparannya, Nuning mengingatkan para pelaku industri televisi mengurangi siaran menonjolkan unsur sensualitas, mistik, dan sadism. Merujuk Undang-Undang Nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran Televisi, penyiaran televisi merupakan media komunikasi massa dengar pandang, yang menyalurkan gagasan dan informasi dalam bentuk suara dan gambar secara umum, baik terbuka maupun tertutup, berupa program yang teratur dan berkesinambungan.

Sebagai media komunikasi massa, jelasnya, televisi berpengaruh besar bagi penontonya. “Jadi jelas apa jenis tayangan yang seharusnya menjadi tayangan-tayangan di TV yang selalu menjadi konsumsi masyarakat Indonesia setiap harinya,” ungkapnya.

Nicolaus mengungkapkan, pihaknya telah berupaya mematuhi ketentuan penyiaran yang diatur regulasi dengan membatasi tayangan yang mengandung unsur SARA, seksualitas, supranatural, sadism, dan seagames. Sebagai industri nasional, jelasnya, pihaknya menyadari jika tayangan televisi dikonsumsi banyak masyarakat Indonesia.

Untuk itu, sambungnya, ia juga mendorong industri televisi lainnya untuk menyiarkan tayangan-tayangan yang sehat. “TV tidak boleh menayangkan yang berbau SARA, seksualitas, supranatural, sadisme,” tandasnya.

Sementara itu, Dedi dalam paparannya mengungkapkan kekhawatirannya jika DNK TV sendiri sebagai media TV milik kampus UIN Jakarta belum bisa menjadi media yang baik untuk mahasiswa UIN khususnya dan masyarakat luas umumnya. Kendati demikian, DNK TV juga bertanggungjawab untuk mendorong perbaikan kualitas tayangan televisi lokal nasional.

“Inilah alasan kami mengadakan seminar nasional dengan mengundang dari pihak regulator, mediator, dan akademis. Tujuannya agar semua bisa berkoordinasi untuk mampu menghadirkan tayangan-tayangan televisi yang lebih bermutu dan berefek positif,” tegasnya. (syarifaeni fahdiah/zm)

Share This