Semarak Hari Kemerdekaan di UIN Jakarta

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Akhwani Subkhi

Minggu 17 Agustus lalu, ada hal yang berbeda dari hari-hari biasanya di halaman kampus II UIN Jakarta. Halaman parkir kampus ini dipenuhi pria dan wanita yang mengenakan kemeja putih celana hitam/gelap dan pakaian muslimah. Sejak sekitar pukul 06.00 mereka sudah berada dan berkumpul di sana. Mereka adalah sivitas akademika UIN Jakarta yang hendak melaksanakan apel peringatan detik-detik proklamasi.

Apel ini dilaksanakan dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 63 tahun dan mengenang/menghormati jasa para pahlawan dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Apel ini diikuti oleh rektor, para pembantu rektor, dekan, guru besar, kepala biro,  dosen, karyawan, dan mahasiswa serta undangan.

Sekitar pukul 07.10 upacara peringatan 17 Agustus dimulai. Pada tahun-tahun sebelumnya, apel peringatan hari kemerdekaan dilangsungkan di halaman kampus I. Sigit Prabowo yang bertindak sebagai komandan upacara kontan berteriak dengan lantang menyiapkan peserta upacara. “Siap gerak!” ucapnya tegas. Ucapan Sigit segera diikuti oleh sivitas akademika yang bergegas menyiapkan diri masing-masing. Jelang beberapa menit, Rektor UIN Jakarta Prof Dr Komaruddin Hidayat yang bertindak sebagai inspektur upacara memasuki lapangan upacara dan langsung naik ke podium.

Penghormatan dan laporan bahwa upacara siap dimulai pun langsung ditujukan kepada inspektur upacara yang dipimpin oleh komandan upacara. Setelah penghormatan dan laporan, giliran pasukan pengibar bendera yang mengenakan seragam putih-putih memasuki lapangan upacara. Dengan gerak langkah teratur mereka maju selangkah demi salangkah menuju inspektur upacara untuk mengambil bendera Merah Putih yang akan dikibarkan di tiang bendera.

“Bendera siap!” cetus salah seorang pengibar bendera dengan suara lantang. Seketika peserta apel langsung memberi hormat kepada sang saka merah putih. Lagu Indonesia Raya karya WR Soepratman pun dikumandangkan oleh Paduan Suara Mahasiswa (PSM) mengiringi penaikan bendera tersebut. Setelah pembacaan teks Pancasila, Drs Studi Rizal LK MA membacakan teks UUD 1945, disambung Abdul Rozak M.Si membacakan teks proklamasi.

Kini, giliran inspektur upacara memberikan amanat kepada peserta upacara. Ketika memberikan amanat, Komaruddin menghimbau agar bangsa ini tetap membangun jiwa optimis di tengah kesulitan seperti sekarang ini. Menurut dia, keadaan politik dan ekonomi pada masa lalu lebih sulit jika dibandingkan dengan keadaan sekarang. “Dalam membangun jiwa optimis harus disertai jiwa kritis,” tuturnya.

Menyikapi ada individu yang tidak mau memberi hormat kepada bendera bangsa, menurut laki-laki yang kerap disapa Mas Komar ini merupakan bentuk tidak menghormati jasa pahlawan. Ia meminta agar memberi hormat kepada bendera dipahami secara kontekstual dan proporsional. Menurutnya, maksud memberi hormat kepada bendera merupakan wujud rasa syukur kita kepada Allah SWT yang telah memberikan kemerdekaan dan sebagai etika menghormati para pejuang perang. “Para founding father republik ini adalah orang Islam. Mereka mencintai Indonesia dengan akidah keislaman,” jelasnya.

Sekitar pukul 07.50 upacara peringatan hari kemerdekaan RI ke 63 usai. Inspektur upacara diperkenankan meninggalkan podium. Kemudian komandan upacara langsung membubarkan barisan peserta upacara. Setelah prosesi upacara berakhir, rektor melepaskan balon dan menanam sebuah pohon sebagai simbol peringatan hari kemerdekaan dan penghijauan di kampus. Sedangkan, para peserta upacara seusai mengikuti apel mereka mengikuti perlombaan.

Beragam lomba sudah disediakan panitia di kampus ini. Ada lomba lari, balap karung, menggiring bola menggunakan terong, panjat pinang, dan bakiak. Beragam lomba tersebut diperuntukan bagi sivitas akademika, baik pria maupun wanita. [Nif/Ed]

 

 

Semarak Hari Kemerdekaan di UIN Jakarta

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Akhwani Subkhi

Minggu 17 Agustus lalu, ada hal yang berbeda dari hari-hari biasanya di halaman kampus II UIN Jakarta. Halaman parkir kampus ini dipenuhi pria dan wanita yang mengenakan kemeja putih celana hitam/gelap dan pakaian muslimah. Sejak sekitar pukul 06.00 mereka sudah berada dan berkumpul di sana. Mereka adalah sivitas akademika UIN Jakarta yang hendak melaksanakan apel peringatan detik-detik proklamasi.

Apel ini dilaksanakan dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 63 tahun dan mengenang/menghormati jasa para pahlawan dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Apel ini diikuti oleh rektor, para pembantu rektor, dekan, guru besar, kepala biro,  dosen, karyawan, dan mahasiswa serta undangan.

Sekitar pukul 07.10 upacara peringatan 17 Agustus dimulai. Pada tahun-tahun sebelumnya, apel peringatan hari kemerdekaan dilangsungkan di halaman kampus I. Sigit Prabowo yang bertindak sebagai komandan upacara kontan berteriak dengan lantang menyiapkan peserta upacara. “Siap gerak!” ucapnya tegas. Ucapan Sigit segera diikuti oleh sivitas akademika yang bergegas menyiapkan diri masing-masing. Jelang beberapa menit, Rektor UIN Jakarta Prof Dr Komaruddin Hidayat yang bertindak sebagai inspektur upacara memasuki lapangan upacara dan langsung naik ke podium.

Penghormatan dan laporan bahwa upacara siap dimulai pun langsung ditujukan kepada inspektur upacara yang dipimpin oleh komandan upacara. Setelah penghormatan dan laporan, giliran pasukan pengibar bendera yang mengenakan seragam putih-putih memasuki lapangan upacara. Dengan gerak langkah teratur mereka maju selangkah demi salangkah menuju inspektur upacara untuk mengambil bendera Merah Putih yang akan dikibarkan di tiang bendera.

“Bendera siap!” cetus salah seorang pengibar bendera dengan suara lantang. Seketika peserta apel langsung memberi hormat kepada sang saka merah putih. Lagu Indonesia Raya karya WR Soepratman pun dikumandangkan oleh Paduan Suara Mahasiswa (PSM) mengiringi penaikan bendera tersebut. Setelah pembacaan teks Pancasila, Drs Studi Rizal LK MA membacakan teks UUD 1945, disambung Abdul Rozak M.Si membacakan teks proklamasi.

Kini, giliran inspektur upacara memberikan amanat kepada peserta upacara. Ketika memberikan amanat, Komaruddin menghimbau agar bangsa ini tetap membangun jiwa optimis di tengah kesulitan seperti sekarang ini. Menurut dia, keadaan politik dan ekonomi pada masa lalu lebih sulit jika dibandingkan dengan keadaan sekarang. “Dalam membangun jiwa optimis harus disertai jiwa kritis,” tuturnya.

Menyikapi ada individu yang tidak mau memberi hormat kepada bendera bangsa, menurut laki-laki yang kerap disapa Mas Komar ini merupakan bentuk tidak menghormati jasa pahlawan. Ia meminta agar memberi hormat kepada bendera dipahami secara kontekstual dan proporsional. Menurutnya, maksud memberi hormat kepada bendera merupakan wujud rasa syukur kita kepada Allah SWT yang telah memberikan kemerdekaan dan sebagai etika menghormati para pejuang perang. “Para founding father republik ini adalah orang Islam. Mereka mencintai Indonesia dengan akidah keislaman,” jelasnya.

Sekitar pukul 07.50 upacara peringatan hari kemerdekaan RI ke 63 usai. Inspektur upacara diperkenankan meninggalkan podium. Kemudian komandan upacara langsung membubarkan barisan peserta upacara. Setelah prosesi upacara berakhir, rektor melepaskan balon dan menanam sebuah pohon sebagai simbol peringatan hari kemerdekaan dan penghijauan di kampus. Sedangkan, para peserta upacara seusai mengikuti apel mereka mengikuti perlombaan.

Beragam lomba sudah disediakan panitia di kampus ini. Ada lomba lari, balap karung, menggiring bola menggunakan terong, panjat pinang, dan bakiak. Beragam lomba tersebut diperuntukan bagi sivitas akademika, baik pria maupun wanita. [Nif/Ed]

 

 

Semarak Hari Kemerdekaan di UIN Jakarta

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Akhwani Subkhi 

MINGGU 17 Agustus lalu, ada hal yang berbeda dari hari-hari biasanya di halaman kampus II UIN Jakarta. Halaman parkir kampus ini dipenuhi pria dan wanita yang mengenakan kemeja putih celana hitam/gelap dan pakaian muslimah. Sejak sekitar pukul 06.00 mereka sudah berada dan berkumpul di sana. Mereka adalah sivitas akademika UIN Jakarta yang hendak melaksanakan apel peringatan detik-detik proklamasi.

Apel ini dilaksanakan dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 63 tahun dan mengenang/menghormati jasa para pahlawan dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Apel ini diikuti oleh rektor, para pembantu rektor, dekan, guru besar, kepala biro,  dosen, karyawan, dan mahasiswa serta undangan.

Sekitar pukul 07.10 upacara peringatan 17 Agustus dimulai. Pada tahun-tahun sebelumnya, apel peringatan hari kemerdekaan dilangsungkan di halaman kampus I. Sigit Prabowo yang bertindak sebagai komandan upacara kontan berteriak dengan lantang menyiapkan peserta upacara. “Siap gerak!” ucapnya tegas. Ucapan Sigit segera diikuti oleh sivitas akademika yang bergegas menyiapkan diri masing-masing. Jelang beberapa menit, Rektor UIN Jakarta Prof Dr Komaruddin Hidayat yang bertindak sebagai inspektur upacara memasuki lapangan upacara dan langsung naik ke podium.

Penghormatan dan laporan bahwa upacara siap dimulai pun langsung ditujukan kepada inspektur upacara yang dipimpin oleh komandan upacara. Setelah penghormatan dan laporan, giliran pasukan pengibar bendera yang mengenakan seragam putih-putih memasuki lapangan upacara. Dengan gerak langkah teratur mereka maju selangkah demi salangkah menuju inspektur upacara untuk mengambil bendera Merah Putih yang akan dikibarkan di tiang bendera.

“Bendera siap!” cetus salah seorang pengibar bendera dengan suara lantang. Seketika peserta apel langsung memberi hormat kepada sang saka merah putih. Lagu Indonesia Raya karya WR Soepratman pun dikumandangkan oleh Paduan Suara Mahasiswa (PSM) mengiringi penaikan bendera tersebut. Setelah pembacaan teks Pancasila, Drs Studi Rizal LK MA membacakan teks UUD 1945, disambung Abdul Rozak M.Si membacakan teks proklamasi.

Kini, giliran inspektur upacara memberikan amanat kepada peserta upacara. Ketika memberikan amanat, Komaruddin menghimbau agar bangsa ini tetap membangun jiwa optimis di tengah kesulitan seperti sekarang ini. Menurut dia, keadaan politik dan ekonomi pada masa lalu lebih sulit jika dibandingkan dengan keadaan sekarang. “Dalam membangun jiwa optimis harus disertai jiwa kritis,” tuturnya.

Menyikapi ada individu yang tidak mau memberi hormat kepada bendera bangsa, menurut laki-laki yang kerap disapa Mas Komar ini merupakan bentuk tidak menghormati jasa pahlawan. Ia meminta agar memberi hormat kepada bendera dipahami secara kontekstual dan proporsional. Menurutnya, maksud memberi hormat kepada bendera merupakan wujud rasa syukur kita kepada Allah SWT yang telah memberikan kemerdekaan dan sebagai etika menghormati para pejuang perang. “Para founding father republik ini adalah orang Islam. Mereka mencintai Indonesia dengan akidah keislaman,” jelasnya.

Sekitar pukul 07.50 upacara peringatan hari kemerdekaan RI ke 63 usai. Inspektur upacara diperkenankan meninggalkan podium. Kemudian komandan upacara langsung membubarkan barisan peserta upacara. Setelah prosesi upacara berakhir, rektor melepaskan balon dan menanam sebuah pohon sebagai simbol peringatan hari kemerdekaan dan penghijauan di kampus. Sedangkan, para peserta upacara seusai mengikuti apel mereka mengikuti perlombaan.

Beragam lomba sudah disediakan panitia di kampus ini. Ada lomba lari, balap karung, menggiring bola menggunakan terong, panjat pinang, dan bakiak. Beragam lomba tersebut diperuntukan bagi sivitas akademika, baik pria maupun wanita. [Nif/Ed]

 

Semarak Hari Kemerdekaan di UIN Jakarta

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Akhwani Subkhi 

MINGGU 17 Agustus lalu, ada hal yang berbeda dari hari-hari biasanya di halaman kampus II UIN Jakarta. Halaman parkir kampus ini dipenuhi pria dan wanita yang mengenakan kemeja putih celana hitam/gelap dan pakaian muslimah. Sejak sekitar pukul 06.00 mereka sudah berada dan berkumpul di sana. Mereka adalah sivitas akademika UIN Jakarta yang hendak melaksanakan apel peringatan detik-detik proklamasi.

Apel ini dilaksanakan dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 63 tahun dan mengenang/menghormati jasa para pahlawan dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Apel ini diikuti oleh rektor, para pembantu rektor, dekan, guru besar, kepala biro,  dosen, karyawan, dan mahasiswa serta undangan.

Sekitar pukul 07.10 upacara peringatan 17 Agustus dimulai. Pada tahun-tahun sebelumnya, apel peringatan hari kemerdekaan dilangsungkan di halaman kampus I. Sigit Prabowo yang bertindak sebagai komandan upacara kontan berteriak dengan lantang menyiapkan peserta upacara. “Siap gerak!” ucapnya tegas. Ucapan Sigit segera diikuti oleh sivitas akademika yang bergegas menyiapkan diri masing-masing. Jelang beberapa menit, Rektor UIN Jakarta Prof Dr Komaruddin Hidayat yang bertindak sebagai inspektur upacara memasuki lapangan upacara dan langsung naik ke podium.

Penghormatan dan laporan bahwa upacara siap dimulai pun langsung ditujukan kepada inspektur upacara yang dipimpin oleh komandan upacara. Setelah penghormatan dan laporan, giliran pasukan pengibar bendera yang mengenakan seragam putih-putih memasuki lapangan upacara. Dengan gerak langkah teratur mereka maju selangkah demi salangkah menuju inspektur upacara untuk mengambil bendera Merah Putih yang akan dikibarkan di tiang bendera.

“Bendera siap!” cetus salah seorang pengibar bendera dengan suara lantang. Seketika peserta apel langsung memberi hormat kepada sang saka merah putih. Lagu Indonesia Raya karya WR Soepratman pun dikumandangkan oleh Paduan Suara Mahasiswa (PSM) mengiringi penaikan bendera tersebut. Setelah pembacaan teks Pancasila, Drs Studi Rizal LK MA membacakan teks UUD 1945, disambung Abdul Rozak M.Si membacakan teks proklamasi.

Kini, giliran inspektur upacara memberikan amanat kepada peserta upacara. Ketika memberikan amanat, Komaruddin menghimbau agar bangsa ini tetap membangun jiwa optimis di tengah kesulitan seperti sekarang ini. Menurut dia, keadaan politik dan ekonomi pada masa lalu lebih sulit jika dibandingkan dengan keadaan sekarang. “Dalam membangun jiwa optimis harus disertai jiwa kritis,” tuturnya.

Menyikapi ada individu yang tidak mau memberi hormat kepada bendera bangsa, menurut laki-laki yang kerap disapa Mas Komar ini merupakan bentuk tidak menghormati jasa pahlawan. Ia meminta agar memberi hormat kepada bendera dipahami secara kontekstual dan proporsional. Menurutnya, maksud memberi hormat kepada bendera merupakan wujud rasa syukur kita kepada Allah SWT yang telah memberikan kemerdekaan dan sebagai etika menghormati para pejuang perang. “Para founding father republik ini adalah orang Islam. Mereka mencintai Indonesia dengan akidah keislaman,” jelasnya.

Sekitar pukul 07.50 upacara peringatan hari kemerdekaan RI ke 63 usai. Inspektur upacara diperkenankan meninggalkan podium. Kemudian komandan upacara langsung membubarkan barisan peserta upacara. Setelah prosesi upacara berakhir, rektor melepaskan balon dan menanam sebuah pohon sebagai simbol peringatan hari kemerdekaan dan penghijauan di kampus. Sedangkan, para peserta upacara seusai mengikuti apel mereka mengikuti perlombaan.

Beragam lomba sudah disediakan panitia di kampus ini. Ada lomba lari, balap karung, menggiring bola menggunakan terong, panjat pinang, dan bakiak. Beragam lomba tersebut diperuntukan bagi sivitas akademika, baik pria maupun wanita. [Nif/Ed]