Teater FAH,  BERITA UIN Online— Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) adakan Musyawarah Perwakilan Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora jilid III pada, Rabu-Kamis (29-30/11), bertempat di Teater Prof Abdul Ghani lt 5 FAH UIN Jakarta.

Kegiatan yang mengangkat tema Urgensi Bidang Legislatif bagi Pemuda untuk Pembangunan Nasional ini, menghadirkan narasumber diantaranya Dr H TB Ace Hasan Syadzily MSi (Anggota DPR RI Komisi II), Dr Zubair Ahmad MA (Wakil Dekan Bagian Kemahasiswaan FAH) UIN Jakarta, Akhmad Yusuf  S Hum (Ketua SEMA UIN Jakarta periode 2013-2014), dan segenap anggota lembaga kemahasiswaan FAH UIN Jakarta.

Andhika Ripwan Saputra selaku Ketua SEMA FAH mengungkapkan, kegiatan ini bertujuan untuk pengesahan anggaran dan program kerja, pemutusan undang-undang tingkat fakultas, dan laporan pertanggungjawaban semua lembaga kemahasiswaan FAH UIN Jakarta.

“Selain itu, kegiatan ini menjadi wadah evaluasi bersama untuk kemajuan lembaga kemahasiswaan FAH. Terakhir saya haturkan terimakasih banyak kepada pimpinan fakultas FAH, serta seluruh pengurus organisasi kemahasiswaan FAH atas kerjasama dan support nya selama ini,” tambahnya.

Dalam sambutannya, Zubair sangat mengapresiasi kinerja dan pengabdian pengurus SEMA dan DEMA FAH tahun ini, yang selalu berkoordinasi dengan pimpinan fakultas.

“Tapi jangan lupa laporan-lappran program kerja selama ini yang belum masuk segera diselesaikan,” tandasnya.

Pada kesempatan tersebut, TB Ace Hasan memberikan motivasinya kepada para aktivis FAH agar terus mengembangkan kemampuannya dalam berorganisasi. “Karena dalam organisasi, softskill dan hardskill akan terperhatikan dengan seimbang. Saya pun menghimbau, kalian jangan takut berpolitik. Karena politik (yang baik) merupakan alat untuk memajukan bangsa dan negara,” katanya.

Masih menurut TB Ace, aspek utama yang harus kita miliki dalam berorganisasi yaitu mental. Jika kita sudah punya mental yang kuat untuk berlabuh pada sebuah organisasi, maka akan mudah bagi kita untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya.

Hal yang sama diutarakan oleh Yusuf bahwa dengan berorganisasi kita mampu menemukan jati diri kita sesungguhnya sebagai kaum intelektual. “Tidak hanya sekedar duduk dan mendengarkan dosen memberi perkuliahan, tetapi kita juga bisa merasakan kepuasan menjadi seorang pemimpin pada sebuah organisasi. Misalnya saja kita adalah seorang mahasiswa yang tidak terbiasa dengan pidato ataupun sering gugup ketika berbicara di depan orang ramai, dengan berorganisasi kita akan dibina untuk hal itu,” ungkapnya. (lrf/sf)