Sekolah Pascasarjana Terima Program Doktor Tanpa Seleksi

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

 

Reporter: Lina Marlina

Sekolah Pascasarjana, UIN Online – Sekolah Pascasarjana (SPs) mulai tahun akademik 2009/2010 menerima pendaftaran mahasiswa baru Program Doktor (S-3) tanpa seleksi. Namun, kebijakan ini hanya diberikan bagi lulusan Magister (S-2) SPs UIN Jakarta mulai angkatan 2005 dan seterusnya. Sementara bagi lulusan Magister dari perguruan tinggi lain tetap menggunakan sistem seleksi.

Deputi Direktur Bidang Akademik SPs Dr Fuad Jabali, Selasa (19/1), mengatakan, penerimaan mahasiswa Pogram Doktor tanpa seleksi dilakukan sebagai bentuk penghormatan, kepercayaan dan garansi kepada lulusan Magister UIN Jakarta. Meski demikian, tidak ada jaminan lulusan Magister UIN dapat menyelesaikan S-3 tersebut dengan mudah. Hal ini dikarenakan dengan adanya kurikulum baru serta beban perkuliahan yang berat.

“Dalam kurikulum baru sekarang memang tidak mudah. Karena itu, pada semester awal mahasiswa diberi pembimbing,” jelas Fuad.

Dalam kurilikum baru pula, lanjut Fuad, mahasiswa diwajibkan mengambil proposal, menuliskan dan mengembangkan risetnya. Selain itu, mereka juga harus menguasai bahasa asing, terutama bahasa Arab dan Inggris, mengingat litetatur serta teori yang dibuat tak hanya diperhitungkan oleh sesama UIN di Indonesia, tapi dibaca dan diperhitungkan oleh sivitas akademika di seluruh dunia.

Fuad mencontohkan Prof Dr Azyumardi Azra (Direktur SPs UIN Jakarta) yang pemikirannya kini banyak sekali dijadikan referensi di seluruh dunia. “Kami ingin bukan hanya satu orang saja, tapi juga ada generasi-generasi baru dari UIN ini seperti beliau (Azyumardi Azra)”, tandasnya.

Disinggung menenai mahasiswa yang mengalami kesulitan melakukan riset dan mungkin tidak lulus ujian proposal, Fuad mengatakan akan diberikan waktu untuk memperbaiki dan mengembangkan lagi risetnya. Namun, jika dua kali ujian proposal tidak lulus maka yang bersangkutan akan didiskualifikasi. Bahkan, gelar yang akan diberikan kepada mahasiswa tersebut adalah Master of Philosofi atau MPhil, yakni gelar yang berada di atas Master dan di bawah Doktor.

 

 

 

 

 

Sekolah Pascasarjana Terima Program Doktor Tanpa Seleksi

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

 

Reporter: Lina Marlina

Sekolah Pascasarjana, UIN Online – Sekolah Pascasarjana (SPs) mulai tahun akademik 2009/2010 menerima pendaftaran mahasiswa baru Program Doktor (S-3) tanpa seleksi. Namun, kebijakan ini hanya diberikan bagi lulusan Magister (S-2) SPs UIN Jakarta mulai angkatan 2005 dan seterusnya. Sementara bagi lulusan Magister dari perguruan tinggi lain tetap menggunakan sistem seleksi.

Deputi Direktur Bidang Akademik SPs Dr Fuad Jabali, Selasa (19/1), mengatakan, penerimaan mahasiswa Pogram Doktor tanpa seleksi dilakukan sebagai bentuk penghormatan, kepercayaan dan garansi kepada lulusan Magister UIN Jakarta. Meski demikian, tidak ada jaminan lulusan Magister UIN dapat menyelesaikan S-3 tersebut dengan mudah. Hal ini dikarenakan dengan adanya kurikulum baru serta beban perkuliahan yang berat.

“Dalam kurikulum baru sekarang memang tidak mudah. Karena itu, pada semester awal mahasiswa diberi pembimbing,” jelas Fuad.

Dalam kurilikum baru pula, lanjut Fuad, mahasiswa diwajibkan mengambil proposal, menuliskan dan mengembangkan risetnya. Selain itu, mereka juga harus menguasai bahasa asing, terutama bahasa Arab dan Inggris, mengingat litetatur serta teori yang dibuat tak hanya diperhitungkan oleh sesama UIN di Indonesia, tapi dibaca dan diperhitungkan oleh sivitas akademika di seluruh dunia.

Fuad mencontohkan Prof Dr Azyumardi Azra (Direktur SPs UIN Jakarta) yang pemikirannya kini banyak sekali dijadikan referensi di seluruh dunia. “Kami ingin bukan hanya satu orang saja, tapi juga ada generasi-generasi baru dari UIN ini seperti beliau (Azyumardi Azra)”, tandasnya.

Disinggung menenai mahasiswa yang mengalami kesulitan melakukan riset dan mungkin tidak lulus ujian proposal, Fuad mengatakan akan diberikan waktu untuk memperbaiki dan mengembangkan lagi risetnya. Namun, jika dua kali ujian proposal tidak lulus maka yang bersangkutan akan didiskualifikasi. Bahkan, gelar yang akan diberikan kepada mahasiswa tersebut adalah Master of Philosofi atau MPhil, yakni gelar yang berada di atas Master dan di bawah Doktor.