Kemenag, BERITA UIN Online – Pendidikan menjadi tambah jembatan dunia.  Sebagai jembatan ia akan jadi siklus di tengah zaman yang selalu berubah dan sangat kompleks. Era pendidikan sekarang memasuki era disrupsi, di mana setiap individu tidak mengetahui apa kejadian ke depan.

Pernyataan di atas disinyalir Sekjen Kemenag Nur Syam ketika memberikan arahan pada Rakornas Pendidikan Islam di Ancol, Jakarta, Kamis (15/03). Nur Syam meminta Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian Agama (Kemenag), khususnya yang bertanggung jawab pada pembinaan pendidikan Islam, untuk dapat merumuskan langkah-langkah antisipatif terhadap dampak yang muncul di era disruptif ini.

“Era disruptif,  sering diartikan sebagai masa kemunculan banyak inovasi yang kadang tidak terprediksi oleh organisasi mapan, sehingga berpotensi mengganggu tatanan sistem lama atau bahkan menghancurkannya,” ujar Nur Syam.

Terkait soal ini, Syam berpesan tentang empat hal dalam pengembangan pendidikan keagamaan kedepan. Pertama, optimalkan peran pendidikan sebagai instrumen membangun peradaban. “Kalau ingin maju peradaban, maka harus maju kualitas pendidikan,” kata Nur Syam.

Bagi Nur Syam, pendidikan yang bagus akan menghasilkan kemajuan peradaban yang baik. Guru besar UIN Sunan Ampel Surabaya ini mencontohkan bahwa munculnya tokoh-tokoh besar Islam dalam sejarah peradaban seperti Ibnu Shina, Ibnu kholdun, Imam Al Ghozali dan lain sebagainya merupakan hasil dari proses panjang pendidikan yang luar biasa.

“Pendidikan adalah salah satu instrumen dalam pengembangan sumber daya manusia. Dari situ pula,  akan ada dan tercipta peningkatan peradaban yang lebih baik,” ungkap Nur Syam.

Ketika pemerintah membangun pendidikan, lanjut Nur Syam, maka di saat itu pula bangsa ini membangun masa depan. “Ingat, bukan membangun museum. Jika membangun museum itu membangun masa lalu, karena isinya museum adalah peninggalan masa lalu,” tukas Nur Syam diikuti tepuk tangan peserta.

“Mari, jadikan kita semua sebagai pembangun masa depan,” ungkapnya.

Jika Kemenag membangun gedung-gedung lembaga pendidikan,  hal tersebut harus dibarengi membangun kurikulum yang sejalan dan relevan dengan zaman. “Gedung perpustakaan di Alexandria, dibangun berkisar tahun 500-an SM. Sampai sekarang masih berdiri megah, mereka membangun dengan berpikir masa depan,” ungkap Nur Syam memberi contoh.

“Bangun masa depan melalui pendidikan. Jangan menghadirkan masa lalu. Wajah pendidikan ke depan itu harus sumringah,” ucap Nur Syam.

Kedua, beranjak maju dari perluasan akses ke mutu pendidikan. Nur Syam mengatakan bahwa sejak 2010, Kementerian Agama terus berproses dalam perluasan akses dalam pemerataan pendidikan. Itu sudah berjalan baik dan ke depan saatnya berorientasi pada peningkatan mutu.

“Tahun 2019 kita tidak bicara lagi akses pendidikan, tapi kualitas pendidikan yakni pendidikan dan relevansi pendidikan mutu,” ucap Nur Syam.

Kemenag harus meningkatkan mutu pendidikan. Ditjen Pendis sudah punya peta tentang sektor-sektor yang mau ditingkatkan. Sebagai contoh, mutu pendidikan di Indonesia Timur harus bisa ngintil (mengikuti) kualitas pendidikan di Indonesia Barat. Nur Syam berharap, pendidikan di Indonesia sama baiknya, di Timur dan Barat.

“Rakornas ini seharusnya menghasilkan percepatan-percepatan pendidikan itu, walau tidak menyalip, paling tidak ngintili,” ulang Nur Syam.

Ketiga, beralih dari pengelolaan lembaga pendidikan tradisional ke pengelolaan profesional. Manajemen pendidikan pada lembaga pendidikan keagamaan harus berbasis profesional, dikelola dengan prinsip manajemen modern.

Keempat, bergerak dari manajemen manual/konvensional kepada manajemen aplikasi. Diharapkan Nur Syam, ke depan Kementerian Agama akan memperkuat anggaran terkait ICT (Information and Communication Technology), guna membangun manajemen berbasis teknologi informasi (IT).

“Saya sangat apresiasi Rakornas Pendidikan Islam ini untuk menghasilkan perubahan agar relevan dengan era inovasi dan era kompetisi,” ujar Nur Syam. (lrf/EAE)