Sekali Lagi ‘Pusat dan Periferi’

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Oleh Azyumardi Azra

Bagi banyak peneliti dan pengamat Islam Indonesia, Ramadhan di negeri ini mempunyai pesona tersendiri, baik secara keagamaan maupun sosial budaya. Berbeda dengan negara-negara lain yang berpenduduk mayoritas Islam, khususnya di Timur Tengah, Ramadhan di Indonesia malah kian penuh dengan kesibukan, bukan hanya di masjid dan mushala, melainkan juga di pasar dan mal. Kemudian, di stasiun kereta api dan terminal bus AKAP. Meningkatnya intensitas kegiatan semacam itu menghasilkan peningkatan dan pemerataan konsumsi masyarakat.

Melihat realitas dan gejala kehidupan keislaman di Indonesia sepanjang Ramadhan, bahkan sampai pekan kedua Syawal, kian banyak kalangan peneliti dan pengamat asing yang menolak asumsi dari kalangan lain yang menilai, Islam di kawasan ini hanyalah pinggiran atau ‘periferal’ vis-a-vis Islam Timur Tengah, yang mereka anggap sebagai ‘pusat’. Pandangan yang menempatkan masyarakat Muslim secara tidak berkesetaraan seperti ini jelas tidak menguntungkan dalam berbagai segi sejak dari keagamaan, sosial, budaya, bahkan politik.

Kritik terhadap anggapan keliru semacam itu sebenarnya sudah mulai kian banyak sejak dasawarsa 1980-an. Tetapi, tetap saja menarik mengemukakan kritik-kritik terkini, seperti dikemukakan R Michael Feener, Islamisis dan guru besar sejarah Islam pada Universitas Nasional Singapura (NUS). Dalam pengantarnya untuk buku yang disunting bersama Terenjit Sevea, Islamic Connections: Muslim Societies in South and Southeast Asia (Singapura: ISEAS, 2009), Feener menyatakan, memang jelas ada hal-hal yang membuat Dunia Arab memiliki posisi lebih penting dibandingkan wilayah-wilayah Dunia Muslim lainnya, di antaranya kenyataan bahwa bahasa Arab adalah bahasa Alquran, keilmuan dan kesarjanaan Islam [klasik], juga posisi sentral Makkah dalam penunaian ibadah haji. Selain itu, saya bisa tambahkan poin penting, Islam secara historis memang pertama kali diwahyukan dan berkembang di Tanah Arab, khususnya Makkah dan Madinah, sehingga posisi penting kedua kota ini dalam kehidupan kaum Muslimin secara keseluruhan tidak bakal pernah tertandingi.

Di luar itu, bagi Feener soal ‘pusat’ dan ‘periferi’ bisa diperdebatkan. Walaupun pada saat yang sama dia menyesalkan apa yang dia sebut sebagai ‘bias Arab, karena adanya kalangan–termasuk Muslim yang tetap memegang anggapan, Dunia Arab adalah ‘pusat’, sementara wilayah-wilayah Dunia Muslim lain ‘periferi’–pinggiran belaka yang secara keagamaan juga dipersepsikan sebagai marginal.

Untuk memperkuat poinnya, Feener menunjuk kenyataan bahwa pada pergantian masa ke abad 21, terdapat sekitar 1,2 miliar Muslim di seluruh dunia, dengan konsentrasi empat Muslim terdapat di Asia [Indonesia, Pakistan, India, Bangladesh]–di luar Timur Tengah Arab. Dengan begitu, hampir 60 persen Muslim hidup di Asia, sedangkan Muslim berbahasa Arab di Timur Tengah hanyalah 20 persen dalam keseluruhan jumlah umat global.

Jika kita tambahkan, dinamika masyarakat-masyarakat Muslim Asia Selatan dan Asia Tenggara beserta warisan sejarahnya yang kaya dengan berbagai kecenderungan kontemporer yang cukup menjanjikan, misalnya dalam bidang politik dan ekonomi, sepatutnya persepsi yang berorientasi Arab Timur Tengah ditinjau kembali. Dan dalam konteks itu, Feener mengusulkan perspektif trans-regional terhadap Dunia Muslim, tanpa harus terjerumus ke dalam perspektif ‘Asian-oriented’. Dengan begitu, hubungan-hubungan di antara masyarakat Muslim menjadi lebih memiliki ‘kesetaraan’ tanpa dibebani persepsi-persepsi yang dapat menimbulkan distorsi.

Selanjutnya pula, dengan begitu dapat ditumbuhkan saling pemahaman dan apresiasi timbal balik di antara masyarakat Muslim sendiri. Sehingga tidak ada lagi persepsi bahwa Islam dan kaum Muslimin di wilayah tertentu periferal belaka, dan karena itu tidak perlu dipertimbangkan. Sekali lagi, sudah waktunya paradigma, kerangka, dan persepsi lama seperti ini ditinggalkan.

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 19 Agustus 2010

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Sekali Lagi ‘Pusat dan Periferi’

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Oleh Azyumardi Azra

Bagi banyak peneliti dan pengamat Islam Indonesia, Ramadhan di negeri ini mempunyai pesona tersendiri, baik secara keagamaan maupun sosial budaya. Berbeda dengan negara-negara lain yang berpenduduk mayoritas Islam, khususnya di Timur Tengah, Ramadhan di Indonesia malah kian penuh dengan kesibukan, bukan hanya di masjid dan mushala, melainkan juga di pasar dan mal. Kemudian, di stasiun kereta api dan terminal bus AKAP. Meningkatnya intensitas kegiatan semacam itu menghasilkan peningkatan dan pemerataan konsumsi masyarakat.

Melihat realitas dan gejala kehidupan keislaman di Indonesia sepanjang Ramadhan, bahkan sampai pekan kedua Syawal, kian banyak kalangan peneliti dan pengamat asing yang menolak asumsi dari kalangan lain yang menilai, Islam di kawasan ini hanyalah pinggiran atau ‘periferal’ vis-a-vis Islam Timur Tengah, yang mereka anggap sebagai ‘pusat’. Pandangan yang menempatkan masyarakat Muslim secara tidak berkesetaraan seperti ini jelas tidak menguntungkan dalam berbagai segi sejak dari keagamaan, sosial, budaya, bahkan politik.

Kritik terhadap anggapan keliru semacam itu sebenarnya sudah mulai kian banyak sejak dasawarsa 1980-an. Tetapi, tetap saja menarik mengemukakan kritik-kritik terkini, seperti dikemukakan R Michael Feener, Islamisis dan guru besar sejarah Islam pada Universitas Nasional Singapura (NUS). Dalam pengantarnya untuk buku yang disunting bersama Terenjit Sevea, Islamic Connections: Muslim Societies in South and Southeast Asia (Singapura: ISEAS, 2009), Feener menyatakan, memang jelas ada hal-hal yang membuat Dunia Arab memiliki posisi lebih penting dibandingkan wilayah-wilayah Dunia Muslim lainnya, di antaranya kenyataan bahwa bahasa Arab adalah bahasa Alquran, keilmuan dan kesarjanaan Islam [klasik], juga posisi sentral Makkah dalam penunaian ibadah haji. Selain itu, saya bisa tambahkan poin penting, Islam secara historis memang pertama kali diwahyukan dan berkembang di Tanah Arab, khususnya Makkah dan Madinah, sehingga posisi penting kedua kota ini dalam kehidupan kaum Muslimin secara keseluruhan tidak bakal pernah tertandingi.

Di luar itu, bagi Feener soal ‘pusat’ dan ‘periferi’ bisa diperdebatkan. Walaupun pada saat yang sama dia menyesalkan apa yang dia sebut sebagai ‘bias Arab, karena adanya kalangan–termasuk Muslim yang tetap memegang anggapan, Dunia Arab adalah ‘pusat’, sementara wilayah-wilayah Dunia Muslim lain ‘periferi’–pinggiran belaka yang secara keagamaan juga dipersepsikan sebagai marginal.

Untuk memperkuat poinnya, Feener menunjuk kenyataan bahwa pada pergantian masa ke abad 21, terdapat sekitar 1,2 miliar Muslim di seluruh dunia, dengan konsentrasi empat Muslim terdapat di Asia [Indonesia, Pakistan, India, Bangladesh]–di luar Timur Tengah Arab. Dengan begitu, hampir 60 persen Muslim hidup di Asia, sedangkan Muslim berbahasa Arab di Timur Tengah hanyalah 20 persen dalam keseluruhan jumlah umat global.

Jika kita tambahkan, dinamika masyarakat-masyarakat Muslim Asia Selatan dan Asia Tenggara beserta warisan sejarahnya yang kaya dengan berbagai kecenderungan kontemporer yang cukup menjanjikan, misalnya dalam bidang politik dan ekonomi, sepatutnya persepsi yang berorientasi Arab Timur Tengah ditinjau kembali. Dan dalam konteks itu, Feener mengusulkan perspektif trans-regional terhadap Dunia Muslim, tanpa harus terjerumus ke dalam perspektif ‘Asian-oriented’. Dengan begitu, hubungan-hubungan di antara masyarakat Muslim menjadi lebih memiliki ‘kesetaraan’ tanpa dibebani persepsi-persepsi yang dapat menimbulkan distorsi.

Selanjutnya pula, dengan begitu dapat ditumbuhkan saling pemahaman dan apresiasi timbal balik di antara masyarakat Muslim sendiri. Sehingga tidak ada lagi persepsi bahwa Islam dan kaum Muslimin di wilayah tertentu periferal belaka, dan karena itu tidak perlu dipertimbangkan. Sekali lagi, sudah waktunya paradigma, kerangka, dan persepsi lama seperti ini ditinggalkan.

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 19 Agustus 2010

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta