Sejumlah Perguruan Tinggi Amerika dan Eropa Berlangganan Jurnal STUDIA ISLAMIKA

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Syahida Inn, BERITA UIN Online–Sejumlah perguruan tinggi di Amerika, Eropa, dan Asia berlangganan tetap pada Jurnal STUDIA ISLAMIKA Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat Islam (PPIM) UIN Jakarta. Mereka tertarik pada jurnal tersebut, karena terakreditasi dan diakui secara internasional.

“Banyak kampus dan lembaga riset di Amerika, Eropa dan Asia, yang berlangganan sama STUDIA ISLAMIKA. Ongkos kirimny pun mereka yang membayar,” ujar Editor STUDIA ISLAMIKA Dr Oman Fathurrahman pada lokakarya bertajuk ” Manajemen Pengelolaan Terbitan Berkala Ilmiah” di Syahida Inn, Selasa (24/09/2013).

Menurutnya, UIN Jakarta perlu menerbitkan jurnal-jurnal bermutu agar hasil riset para sarjananya dikenal dunia internasional. Namun, untuk menerbitkan jurnal berkelas dunia memang tidak mudah. “Untuk editing bahasa Inggris, kita mesti pakai orang asing dan itu butuh waktu yang cukup lama. Untuk editing bahasa Arab, kita pakai alumni Timur Tengah yang ahli,” katanya.

Selain harus dibaca oleh tim rivewier, artikel-artikel yang dikrimkan ke redaksi STUDIA ISLAMIKA harus dibaca dengan detil, baik bahasa, ejaan, isi, maupun gaya bahasanya. “Kalau tiadk sesuai dengan standar kita tolak,” tegas Oman.

Dosen Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) itu menambahkan, tidak hanya perguruan tinggi luar saja yang berlangganan STUDIA ISLAMIKA. ” Hampir semua PTAI di Indonesia berlangganan, karena untuk kebutuhan akreditasi,” tandasnya.

Sementara Dr Rofikoh Rokhim, ¬†akreditor jurnal ilmiah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menyatakan, banyak jurnal di Indonesia yang tidak terakreditasi karena tidak memeuhi stndar ilmiah dan syarat-syarat lainya. “Soal nama, rumpun keilmuan, dan ukuran kertas pun jadi penilaian,” katanya.

Oleh karena itu, dosen Fakultas Ekonomi UI itu menyarankan agar para pengelola jurnal teliti dalam hal-hal administrasi sampai pada masalah isi dan model bahasanya.

Rofikoh menambahkan, untuk menilai satu jurnal dibutuhkan waktu yang lama dan sering terjadi debat alot di antara tim penilai. “Satu point penilaian bisa sehari. Terkadang kalau alot, karena masing-masing penilai bersikukuh dengan pendapatnya, maka dilakukan voting,” terang dia. (D Antariksa/ Saifudin)