Security Juga Manusia

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Akhwani Subkhi

Tugas security tak ubahnya sebagai ”anjing penjaga” (watchdog). Ia harus siaga selama 24 jam, menjaga keamanan dan mengawasi setiap gerak-gerik yang mencurigakan.

Seperti itu pula lah, tugas dan tanggung jawab security atau satuan pengamanan (Satpam) kampus UIN Jakarta. Dengan jumlah personil sebanyak 31 orang, mereka, secara bergantian, harus berjaga di setiap sudut kampus dengan sekian banyak gedung.

“Tugas security itu berat. Tanggung jawabnya tak hanya menjaga aset kampus, melainkan ketertiban dan ketentraman di dalam kampus,” kata Komandan Security Pardiyono SIP kepada UINJKT Online, Selasa (1/7).

Apa yang diungkapkan Pardiyono tak salah, karena dalam setiap situasi petugas security memang harus berada di garda depan. Sebagai contoh, ketika muncul aksi demonstrasi mahasiswa, security jelas tak hanya berpangku tangan. Sebaliknya mereka berada di depan untuk mengawal dan terus mengawasi hingga tak jadi anarkis. Begitu pula jika ada tamu penting, kegiatan yang menyedot jumlah massa lebih besar, atau dalam bentuk seremonial seperti wisuda, mereka mesti siaga seraya mengamankan situasi.

Menurut Pardiyono, jumlah personil security di kampus UIN Jakarta sejauh ini masih memadai untuk menjaga wilayah kampus yang luas, baik di kampus I maupun di kampus II. Mereka disebar secara merata dan diatur berdasarkan shift kerja yang sudah terjadual. Mereka sedikitnya dibagi ke dalam tiga shift kerja, yakni pukul 07.00-15.00 sebanyak 12 personil, pukul 15.00-22.00 (sembilan personil), dan pukul 22.00-07.00 (12 personil).

“Di antara para personil itu, tiga di antaranya wanita. Dua personil ditugaskan di asrama putri dan satu personil di kantor rektorat,” jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa dari sejumlah personil security kampus UIN Jakarta yang ada saat ini tiga orang berstatus pegawai negeri sipil (PNS), sembilan CPNS, dan sisanya masih berstatus tenaga honorer.

Selain di kampus I dan II, titik-titik penyebaran personil security lain di antaranya berada asrama putra dan putri, RS Syarif Hidayatullah, perumahan dosen, gedung Kopertais, rumah dinas rektor, Madrasah Pembangunan, dan TK Ketilang.

Pardiyono mengatakan, aman dan tidaknya situasi kampus UIN Jakarta sangat tergantung pada security. Karena itu, hampir setiap hari, para personil security boleh dibilang tak pernah tenang meski berada di rumah sekalipun. Pasalnya, jika terjadi peristiwa seperti kehilangan barang atau kendaraan, kerusakan atau kerusuhan, security-lah sebagai penanggung jawab utamanya.

Nah, dalam masalah ini, Pardiyono berharap agar semua elemen kampus, seperti mahasiswa, dosen, dan karyawan dapat bekerja sama dalam pengamanan kampus tersebut. ”Apabila ingin tercipta keamanan, ya memang harus ada kerja sama semua pihak, bukan semata dilimpahkan kepada security,” pintanya.

Tugas security untuk menjaga keamanan kampus memang tak ringan. Apalagi di sekitar dalam kampus terdapat ratusan kendaraan bermotor yang diparkir, baik kendaraan roda dua maupun roda empat. Agar tak terjadi aksi pencurian misalnya, para security yang bertugas di antaranya melakukan penyisiran area parkir dengan cara “memeriksa” kendaraan.

Di luar tugas rutin itu, setiap kendaraan yang hendak ke luar area kampus, petugas security pun melalukan pemeriksaan secara ketat, misalnya dengan meminta setiap pengendara untuk memperlihatkan surat tanda nomor kendaraan atau STNK. Sementara untuk keamanan gedung, terutama yang menyangkut keberadaan barang inventaris kantor, petugas biasanya mengontrol ke setiap ruangan. “Cuma tidak sampai memeriksa secara detail,” kata pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah, 16 Mei 1967 ini.

Beratnya tugas pengamanan kampus diakui Dewi Teza Anggraini, salah satu personil security yang sehari-hari “ngepos” di kantor rektorat. Di kawasan itu, menurut dia, situasinya boleh dikategorikan berada pada ring satu sehingga tingkat pengamanannya pun sedikit ekstra ketat. “Di gedung rektorat banyak elit kampus berkantor, mulai dari rektor hingga kepala biro,” kilahnya.

Namun, kata dia, tugas dirinya tentu tak hanya menjaga sekitar area gedung. Jika terjadi situasi tak kondusif, seperti ada aksi demo mahasiswa, ia juga harus tetap siaga seperti pertugas pria lainnya. ”Meski tugasnya berat, tapi saya tetap balance dalam menjalankan tugas ini,” tutur perempuan yang akrab disapa Dewi ini. Bahkan di samping balance, ia juga harus tetap enjoy. “Ya kan security juga manusia,” cetusnya.

Security Juga Manusia

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Akhwani Subkhi

Tugas security tak ubahnya sebagai ”anjing penjaga” (watchdog). Ia harus siaga selama 24 jam, menjaga keamanan dan mengawasi setiap gerak-gerik yang mencurigakan.

Seperti itu pula lah, tugas dan tanggung jawab security atau satuan pengamanan (Satpam) kampus UIN Jakarta. Dengan jumlah personil sebanyak 31 orang, mereka, secara bergantian, harus berjaga di setiap sudut kampus dengan sekian banyak gedung.

“Tugas security itu berat. Tanggung jawabnya tak hanya menjaga aset kampus, melainkan ketertiban dan ketentraman di dalam kampus,” kata Komandan Security Pardiyono SIP kepada UINJKT Online, Selasa (1/7).

Apa yang diungkapkan Pardiyono tak salah, karena dalam setiap situasi petugas security memang harus berada di garda depan. Sebagai contoh, ketika muncul aksi demonstrasi mahasiswa, security jelas tak hanya berpangku tangan. Sebaliknya mereka berada di depan untuk mengawal dan terus mengawasi hingga tak jadi anarkis. Begitu pula jika ada tamu penting, kegiatan yang menyedot jumlah massa lebih besar, atau dalam bentuk seremonial seperti wisuda, mereka mesti siaga seraya mengamankan situasi.

Menurut Pardiyono, jumlah personil security di kampus UIN Jakarta sejauh ini masih memadai untuk menjaga wilayah kampus yang luas, baik di kampus I maupun di kampus II. Mereka disebar secara merata dan diatur berdasarkan shift kerja yang sudah terjadual. Mereka sedikitnya dibagi ke dalam tiga shift kerja, yakni pukul 07.00-15.00 sebanyak 12 personil, pukul 15.00-22.00 (sembilan personil), dan pukul 22.00-07.00 (12 personil).

“Di antara para personil itu, tiga di antaranya wanita. Dua personil ditugaskan di asrama putri dan satu personil di kantor rektorat,” jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa dari sejumlah personil security kampus UIN Jakarta yang ada saat ini tiga orang berstatus pegawai negeri sipil (PNS), sembilan CPNS, dan sisanya masih berstatus tenaga honorer.

Selain di kampus I dan II, titik-titik penyebaran personil security lain di antaranya berada asrama putra dan putri, RS Syarif Hidayatullah, perumahan dosen, gedung Kopertais, rumah dinas rektor, Madrasah Pembangunan, dan TK Ketilang.

Pardiyono mengatakan, aman dan tidaknya situasi kampus UIN Jakarta sangat tergantung pada security. Karena itu, hampir setiap hari, para personil security boleh dibilang tak pernah tenang meski berada di rumah sekalipun. Pasalnya, jika terjadi peristiwa seperti kehilangan barang atau kendaraan, kerusakan atau kerusuhan, security-lah sebagai penanggung jawab utamanya.

Nah, dalam masalah ini, Pardiyono berharap agar semua elemen kampus, seperti mahasiswa, dosen, dan karyawan dapat bekerja sama dalam pengamanan kampus tersebut. ”Apabila ingin tercipta keamanan, ya memang harus ada kerja sama semua pihak, bukan semata dilimpahkan kepada security,” pintanya.

Tugas security untuk menjaga keamanan kampus memang tak ringan. Apalagi di sekitar dalam kampus terdapat ratusan kendaraan bermotor yang diparkir, baik kendaraan roda dua maupun roda empat. Agar tak terjadi aksi pencurian misalnya, para security yang bertugas di antaranya melakukan penyisiran area parkir dengan cara “memeriksa” kendaraan.

Di luar tugas rutin itu, setiap kendaraan yang hendak ke luar area kampus, petugas security pun melalukan pemeriksaan secara ketat, misalnya dengan meminta setiap pengendara untuk memperlihatkan surat tanda nomor kendaraan atau STNK. Sementara untuk keamanan gedung, terutama yang menyangkut keberadaan barang inventaris kantor, petugas biasanya mengontrol ke setiap ruangan. “Cuma tidak sampai memeriksa secara detail,” kata pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah, 16 Mei 1967 ini.

Beratnya tugas pengamanan kampus diakui Dewi Teza Anggraini, salah satu personil security yang sehari-hari “ngepos” di kantor rektorat. Di kawasan itu, menurut dia, situasinya boleh dikategorikan berada pada ring satu sehingga tingkat pengamanannya pun sedikit ekstra ketat. “Di gedung rektorat banyak elit kampus berkantor, mulai dari rektor hingga kepala biro,” kilahnya.

Namun, kata dia, tugas dirinya tentu tak hanya menjaga sekitar area gedung. Jika terjadi situasi tak kondusif, seperti ada aksi demo mahasiswa, ia juga harus tetap siaga seperti pertugas pria lainnya. ”Meski tugasnya berat, tapi saya tetap balance dalam menjalankan tugas ini,” tutur perempuan yang akrab disapa Dewi ini. Bahkan di samping balance, ia juga harus tetap enjoy. “Ya kan security juga manusia,” cetusnya.