Sebuah Khotbah di Masjid 96 East

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Oleh: Azyumardi Azra

Kembali ke New York City, kota di mana saya pernah menuntut ilmu untuk program MA, MPhil, dan PhD. New York City pada sebuah Jumat pekan pertama November 2009 di Masjid Islamic Cultural Center 96 Street East. Inilah masjid megah yang mengambil satu blok lahan di belantara gedung-gedung pencakar langit Manhattan. Sebelum ada masjid ini, dulu pada 1980-an dan awal 1990-an hanya ada Masjid Islamic Center di 72 Street West yang lebih merupakan rumah berlantai tiga daripada sebuah masjid.

Suatu Jumat di Masjid 96 East, khotbah disampaikan khatib asli Indonesia, Imam Shamsi Ali, sebuah nama yang kian akrab dalam berbagai dialog dan hubungan antarumat beragama di kawasan New York umumnya. Karena itulah, Imam Shamsi Ali mendapat kian banyak penghargaan dari berbagai pihak atas berbagai usahanya dalam menyiarkan Islam sebagai agama rahmatan lil alamin . Selain menjadi salah satu imam yang menentukan siapa saja khatib-khatib pada Masjid 96 East, Shamsi Ali juga merupakan imam besar Masjid al-Hikmah yang dibangun dan dimiliki komunitas Muslim Indonesia di bilangan Queens, New York City.

Sebuah khotbah di Masjid 96 East, khotbah yang menggigit dan penuh gereget, terkait peristiwa pemberondongan tentara Amerika di Fort Hood oleh Mayor Nidal Malik Hasan yang menewaskan 13 tentara Amerika dan melukai puluhan lainnya. Banyak spekulasi beredar tentang motif Hasan melakukan tindakan membabi buta itu, yang mungkin sedikit banyak bakal terungkap setelah ia pulih dari luka-luka yang dideritanya.

Apa pun motif dan alasannya mungkin tidak lagi terlalu penting. Khatib Shamsi Ali pun tidak mau berspekulasi dalam khotbahnya tentang itu. Yang lebih penting lagi, peristiwa itu tidak ayal lagi kembali meningkatkan kecurigaan banyak kalangan Amerika terhadap kaum Muslim khususnya mereka yang bekerja di lingkungan angkatan bersenjata Amerika. Berbagai backlash terhadap kaum Muslim umumnya bakal meningkat kembali dalam berbagai bentuknya sejak dari religious profiling sampai kepada diskriminasi dan harassement di lingkungan tempat mereka bekerja.

Sebuah khotbah Imam Shamsi Ali yang menggigit, yang menuntut setiap individu Muslim menghindari tindakan-tindakan yang mencelakakan diri sendiri, orang non-Muslim, kaum Muslim umumnya, dan bahkan juga Islam sebagai sebuah agama. Karena, tindakan-tindakan seperti itu apa pun motif dan alasannya tidaklah membantu kaum Muslim dan Islam. Sebaliknya, itu justru mencederai kaum Muslim lain, sekaligus Islam yang membuat kedua entitas ini terpojok dan menjadi ‘tertuduh’.

Sebuah khotbah yang keras, yang menuntut setiap Muslim dalam setiap ucapan dan perbuatan agar betul-betul mencerminkan Muslim dan Islam memang  rahmatan lil alamin . Imam Shamsi Ali mengungkapkan doktrin Islam dan praktik Nabi Muhammad SAW tentang Islam sebagai agama damai dan rahmat bagi alam semesta. Tapi, semua itu tidak cukup bila tidak diwujudkan oleh setiap individu Muslim dalam kehidupan sehari-hari mereka. Bahkan, Islam  rahmatan lil alamin dapat menjadi sekadar klaim kosong jika tetap ada orang-orang Muslim yang gemar melakukan tindakan kekerasan daripada menempuh cara-cara damai.

Sebuah khotbah yang disampaikan secara  eloquent dalam bahasa Inggris, yang penuh kutipan ayat Alquran dan hadis serta pengalaman historis Nabi SAW dalam mengembangkan dan mewujudkan Islam sebagai agama damai dan  rahmatan lil alamin . Inilah khotbah membanggakan yang sekaligus menegaskan bahwa khatibnya, seorang putra asli Indonesia, adalah penyeru  washatiyyah , sikap keagamaan yang tawazun, yang menempuh jalan tengah, berimbang, dan tidak condong ekstrem ke arah kiri atau kanan. Imam Shamsi Ali adalah wajah Islam Indonesia yang membanggakan.

Inilah sebuah khotbah yang  powerful which makes me trembling , khotbah yang penuh gereget yang membuat tubuh saya bergetar, ujar seorang jamaah asal Trinidad-Tobago kepada saya seusai shalat Jumat. Ia mengusulkan khotbah tanpa teks itu dapat dicetak dalam bentuk buklet untuk disebarkan kepada kaum Muslim atau pihak-pihak terkait lainnya karena isinya yang sangat penting.

Masa depan Islam terletak pada kaum Muslim sendiri; bukan pada orang lain. Kaum Muslim dapat mewujudkan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam jika mereka mau sungguh-sungguh menempuh jalan damai dalam kehidupan mereka. Tidak ada alasan untuk pesimis terhadap masa depan Islam di tengah berbagai tantangan lokal dan global, yang tidak selamanya bersahabat bagi kehidupan kaum Muslim dan Islam. Di sinilah, diperlukan kearifan dalam menyikapi semua tantangan itu.

Khotbah Imam Shamsi Ali mencerminkan optimisme itu. Kekerasan hanyalah salah satu bentuk pesimisme dan ketakutan menghadapi tantangan hari ini dan esok. Bahkan, secara teologis, sikap itu seolah-olah tidak percaya bahwa Allah SWT bakal membantu hamba-Nya melalui berbagai cara. Sebab itulah, optimisme mesti tetap dipelihara dan dihidupkan sehingga tidak ada lagi individu Muslim di mana pun ia berada yang gelap mata melakukan tindakan kontraproduktif bagi kaum Muslim dan Islam.

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 19 November 2009

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

Sebuah Khotbah di Masjid 96 East

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Oleh: Azyumardi Azra

Kembali ke New York City, kota di mana saya pernah menuntut ilmu untuk program MA, MPhil, dan PhD. New York City pada sebuah Jumat pekan pertama November 2009 di Masjid Islamic Cultural Center 96 Street East. Inilah masjid megah yang mengambil satu blok lahan di belantara gedung-gedung pencakar langit Manhattan. Sebelum ada masjid ini, dulu pada 1980-an dan awal 1990-an hanya ada Masjid Islamic Center di 72 Street West yang lebih merupakan rumah berlantai tiga daripada sebuah masjid.

Suatu Jumat di Masjid 96 East, khotbah disampaikan khatib asli Indonesia, Imam Shamsi Ali, sebuah nama yang kian akrab dalam berbagai dialog dan hubungan antarumat beragama di kawasan New York umumnya. Karena itulah, Imam Shamsi Ali mendapat kian banyak penghargaan dari berbagai pihak atas berbagai usahanya dalam menyiarkan Islam sebagai agama rahmatan lil alamin . Selain menjadi salah satu imam yang menentukan siapa saja khatib-khatib pada Masjid 96 East, Shamsi Ali juga merupakan imam besar Masjid al-Hikmah yang dibangun dan dimiliki komunitas Muslim Indonesia di bilangan Queens, New York City.

Sebuah khotbah di Masjid 96 East, khotbah yang menggigit dan penuh gereget, terkait peristiwa pemberondongan tentara Amerika di Fort Hood oleh Mayor Nidal Malik Hasan yang menewaskan 13 tentara Amerika dan melukai puluhan lainnya. Banyak spekulasi beredar tentang motif Hasan melakukan tindakan membabi buta itu, yang mungkin sedikit banyak bakal terungkap setelah ia pulih dari luka-luka yang dideritanya.

Apa pun motif dan alasannya mungkin tidak lagi terlalu penting. Khatib Shamsi Ali pun tidak mau berspekulasi dalam khotbahnya tentang itu. Yang lebih penting lagi, peristiwa itu tidak ayal lagi kembali meningkatkan kecurigaan banyak kalangan Amerika terhadap kaum Muslim khususnya mereka yang bekerja di lingkungan angkatan bersenjata Amerika. Berbagai backlash terhadap kaum Muslim umumnya bakal meningkat kembali dalam berbagai bentuknya sejak dari religious profiling sampai kepada diskriminasi dan harassement di lingkungan tempat mereka bekerja.

Sebuah khotbah Imam Shamsi Ali yang menggigit, yang menuntut setiap individu Muslim menghindari tindakan-tindakan yang mencelakakan diri sendiri, orang non-Muslim, kaum Muslim umumnya, dan bahkan juga Islam sebagai sebuah agama. Karena, tindakan-tindakan seperti itu apa pun motif dan alasannya tidaklah membantu kaum Muslim dan Islam. Sebaliknya, itu justru mencederai kaum Muslim lain, sekaligus Islam yang membuat kedua entitas ini terpojok dan menjadi ‘tertuduh’.

Sebuah khotbah yang keras, yang menuntut setiap Muslim dalam setiap ucapan dan perbuatan agar betul-betul mencerminkan Muslim dan Islam memang  rahmatan lil alamin . Imam Shamsi Ali mengungkapkan doktrin Islam dan praktik Nabi Muhammad SAW tentang Islam sebagai agama damai dan rahmat bagi alam semesta. Tapi, semua itu tidak cukup bila tidak diwujudkan oleh setiap individu Muslim dalam kehidupan sehari-hari mereka. Bahkan, Islam  rahmatan lil alamin dapat menjadi sekadar klaim kosong jika tetap ada orang-orang Muslim yang gemar melakukan tindakan kekerasan daripada menempuh cara-cara damai.

Sebuah khotbah yang disampaikan secara  eloquent dalam bahasa Inggris, yang penuh kutipan ayat Alquran dan hadis serta pengalaman historis Nabi SAW dalam mengembangkan dan mewujudkan Islam sebagai agama damai dan  rahmatan lil alamin . Inilah khotbah membanggakan yang sekaligus menegaskan bahwa khatibnya, seorang putra asli Indonesia, adalah penyeru  washatiyyah , sikap keagamaan yang tawazun, yang menempuh jalan tengah, berimbang, dan tidak condong ekstrem ke arah kiri atau kanan. Imam Shamsi Ali adalah wajah Islam Indonesia yang membanggakan.

Inilah sebuah khotbah yang  powerful which makes me trembling , khotbah yang penuh gereget yang membuat tubuh saya bergetar, ujar seorang jamaah asal Trinidad-Tobago kepada saya seusai shalat Jumat. Ia mengusulkan khotbah tanpa teks itu dapat dicetak dalam bentuk buklet untuk disebarkan kepada kaum Muslim atau pihak-pihak terkait lainnya karena isinya yang sangat penting.

Masa depan Islam terletak pada kaum Muslim sendiri; bukan pada orang lain. Kaum Muslim dapat mewujudkan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam jika mereka mau sungguh-sungguh menempuh jalan damai dalam kehidupan mereka. Tidak ada alasan untuk pesimis terhadap masa depan Islam di tengah berbagai tantangan lokal dan global, yang tidak selamanya bersahabat bagi kehidupan kaum Muslim dan Islam. Di sinilah, diperlukan kearifan dalam menyikapi semua tantangan itu.

Khotbah Imam Shamsi Ali mencerminkan optimisme itu. Kekerasan hanyalah salah satu bentuk pesimisme dan ketakutan menghadapi tantangan hari ini dan esok. Bahkan, secara teologis, sikap itu seolah-olah tidak percaya bahwa Allah SWT bakal membantu hamba-Nya melalui berbagai cara. Sebab itulah, optimisme mesti tetap dipelihara dan dihidupkan sehingga tidak ada lagi individu Muslim di mana pun ia berada yang gelap mata melakukan tindakan kontraproduktif bagi kaum Muslim dan Islam.

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 19 November 2009

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta