Satu Tuhan Banyak Nama

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Dalam kehidupan sehari-hari, nama berperan terutama untuk sebutan atau panggilan.Andaikan orang-orang dan benda-benda di sekitar tanpa nama, bagaimana kita akan melakukan komunikasi sosial?

Nama bagi seseorang tidak saja sekadar sebagai panggilan, tetapi ada yang mengandung doa, sifat, dan memiliki asosiasi dengan marga, orang tua,dan sebagainya. Ketika soal nama dilekatkan kepada Tuhan, banyak aspek yang menarik dibahas lebih luas dan lebih dalam lagi. Fungsi nama paling dirasakan urgensinya ketika berhubungan dengan pihak kedua atau ketiga. Dalam kesendiriannya, Tuhan adalah Dia yang Maha Esa, Maha Gaib, absolut, tidak terjangkau oleh akal pikiran.

Tapi ketika manusia hendak mendekati dan menyapa Tuhan, di situ muncul kebutuhan tentang nama. Maka Dia lalu mengenalkan diri-Nya dengan nama Allah. Dalam tradisi Islam,Tuhan memiliki nama sebanyak 99, yang paling agung dan mencakup semua nama itu adalah nama Allah, nama Tuhan yang paling Agung, yang menghimpun semua nama-Nya yang lain (ismul jami’). Jumlah nama Tuhan yang 99 itu pun masih bisa dibahas lagi. Bukankah Tuhan Yang Absolut tidak bisa dibatasi nama dan sifat-Nya?

Bukankah kombinasi atau sintesis dari berbagai nama dan sifat itu akan melahirkan nama dan sifat lain? Itulah sebabnya ada yang menafsirkan, 99 adalah angka simbolik, dua angka omega disandingkan, berarti tak terhingga, ibarat menatap matahari, mata tak sanggup menghitung jumlah cahayanya. Orang mendekati dan menyapa Tuhan dengan sebutan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya.Artinya, pemahaman, persepsi, dan kebutuhan seseorang kepada Tuhan pasti akan dipengaruhi oleh perkembangan mental, pikiran, fisik,dan jiwanya. Ketika seseorang dalam kondisi miskin, merindukan kelimpahan harta, maka dia akan menyapa Allah sebagai yang Maha Kaya, Pemurah dan Kasih.Ketika sakit, seseorang akan menghadirkan Tuhan Yang Maha Dokter, Maha Penyembuh.

Waktu dalam situasi sulit, Tuhan diyakini sebagai Maha Penolong, Maha Pembuka Jalan. Demikianlah seterusnya, manusia dan umat beragama meyakini Tuhan yang Esa tetapi persepsi, keyakinan,dan penekanannya berbeda-beda ketika berdoa karena dipengaruhi kondisi subjektifnya. Kita semua pasti punya pengalaman otentik mengenai pemahaman dan kebutuhan tentang Tuhan yang berkembang sejak masa kanak-kanak sampai usia dewasa. Dalam suasana sehat, semuanya serbamenyenangkan, mungkin rasa kebutuhan dan ketergantungan kepada Tuhan akan berkurang. Tapi ketika dalam suasana sulit atau kondisi kritis, maut terasa sudah mendekat, pasti berbeda lagi penghayatan seseorang tentang Tuhan.

Doanya pun mungkin sangat khusyuk. Jadi, kalau sekarang kita melihat sekelompok orang melakukan demonstrasi dan meneriakkan “Allahu Akbar” keras- keras dengan nada marah, mungkin dia merasa tidak aman, merasa kecil, sehingga yang lebih ditekankan adalah Allah Maha Besar. Yang merasa terancam dan kecil pasti bukan Tuhan, tetapi perasaan mereka. Dan itu sah-sah saja, tak ada yang salah mengingat perkembangan pemahaman dan penghayatan seseorang tentang Tuhan memang fluktuatif, tidak statis. Namun menjadi persoalan kalau perkembangan paham keberagamaan itu lalu mengeras dan melembaga menjadi gerakan sosial serta menganggap dirinya paling benar dengan menyalahkan dan menghujat yang lain. Inilah yang muncul akhir-akhir ini.

Di antara mereka itu adalah anakanak muda yang memang dalam fase pencarian makna hidup dan jati diri. Dalam proses pencarian itu mereka menjadi rentan terhadap politisasi kalau yang bersangkutan memiliki problem psikologis dan ekonomis. Para ulama dan orang tua sebaiknya menyikapi dengan sabar, cerdas, dan penuh cinta kasih terhadap anak-anak atau adik-adik kita yang memang tengah dalam proses pencarian yang kadang-kadang menabrak kemapanan atau tradisi keagamaan yang berlaku.

Namun ketika mereka sudah sampai pada tindakan destruktif, terlebih melawan UU, itu kewajiban polisi untuk menyelesaikannya. Saya sendiri mengamati secara dekat, ada sekelompok mahasiswa yang begitu intensif atau radikal melakukan pencarian dan pengembaraan intelektual dalam mendalami agama. Ada yang menjadi militan dan dekat dengan aksi-aksi kekerasan ketika memperoleh stimulasi dari luar kampus. Ada lagi yang menjadi liberal, memberontak tradisi yang mapan.

Namun, dengan bertambahnya usia, ilmu pengetahuan, pergaulan, tanggung jawab keluarga, profesi, mereka menjadi tampak lebih matang dan dewasa memahami agama dan menjalani hidup. Jadi, memang benar bahwa penghayatan dan ketaatan pada Tuhan itu berkembang. Di hari tua mungkin Allah lebih dihayati sebagai Yang Maha Pengampun dan Maha Kasih karena seseorang butuh kedamaian, bukannya kemarahan dan peperangan.