Sastra dan Budaya Perlu Diapresiasi

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Akhwani Subkhi

 

FITK, UINJKT Online- Lektor Kepala Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dr Aceng Rahmat mengatakan, apresiasi sastra hakikatnya adalah sikap menghargai sastra secara proporsional (pada tempatnya). Menghargai sastra artinya memberikan harga pada sastra sehingga sastra memiliki ”kapling” dalam hati dan batin kita. Dengan menyediakan ”kapling” dalam hati untuk sastra, kita secara spontan menyediakan waktu dan perhatian untuk membaca karya sastra.

 

Aceng mengatakan hal tersebut ketika memaparkan makalahnya berjudul Apresiasi Sastra dan Budaya dalam Pembelajaran Bahasa Arab di acara Seminar Nasional bertajuk ”Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis Cross Cultural Understanding (CCU)” yang diselenggarakan Jurusan Pendidikan Bahasa Arab di gedung FITK, Kamis (11/12). Kegiatan ini diikuti para guru, dosen, dan mahasiswa bahasa Arab.

 

Menurut Aceng wujud sikap apresiatif terhadap sastra adalah gandrung dengan kata-kata ”nan indah” dalam arti yang luas. Melalui hal itu, kita akan peka terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam teks sastra itu yang bermutu. Sastra merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya.

 

”Bagian dari bahasa adalah sastra. Apresiasi sastra Arab pada khususnya dan budaya Arab pada umumnya seharusnya menjadi bagian tak terpisahkan dalam proses pembelajaran bahasa Arab,” kata Aceng.

 

Aceng mengungkapkan, banyak strategi atau pendekatan yang dapat dipakai untuk mengapresiasi sastra dan budaya. Menurut Beach dan Marshall, kata dia, ada tujuh strategi dalam mengapresiasi sastra, yaitu mengikutsertakan, menjelaskan, memahami, menerangkan, menghubungkan, menafsirkan, dan menilai.

 

Pembelajaran bahasa Arab tidak harus menjadi bingung atau merasa sulit menerapkan ketujuh strategi tersebut ketika mengapresiasi sebuah karya sastra Arab ataupun fenomena budaya Arab. ”Strategi tersebut tidak harus muncul dalam suatu kegiatan apresiasi apalagi berurutan dari awal hingga akhir,” terangnya.

 

Apresiasi sastra dan budaya, lanjut dia, merupakan hal penting yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran bahasa Arab. Sehingga pembelajaran bahasa Arab bisa menjadi lebih menarik dan bersifat menyeluruh dan menyatu dengan konteks sosial.

 

Sedangkan pembicara lainnya Dr A Sayuti Anshari Nasution menuturkan, jika ada seseorang yang beranggapan bahwa bahasa termasuk bahasa Arab adalah sesuatu yang statis maka ia keliru karena bahasa mengalami dialektika atau dinamis. Bahasa tidak ubahnya seperti makhluk hidup lainnya, lahir kecil, kemudian berkembang dan mencapai kedewasaan lalu mengalami masa kesirnaan.

 

Menurut dia bahasa bisa berkembang dengan datangnya unsur-unsur baru atau terjadi modifikasi terhadap unsur lama, yang menghasilkan sebuah unsur dalam bentuk yang baru. ”Perubahan bahasa tidak bisa dikonotasikan dengan baik atau buruk, karena perubahan tersebut bersifat alami dan netral sesuai dengan tuntutan kondisi yang terjadi pada unsur-unsurnya,” tegasnya.

 

Anshari, demikian ia biasa disapa, menjelaskan perkembangan bahasa bisa terjadi karena dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal ialah faktor yang terjadi karena sebab unsur-unsur bahasa itu sendiri, misalnya sebab terjadi pada fonetik, fonologi, morfologi, sintaksis dan semantik bahasa itu sendiri. Sedangkan faktor eksternal, ialah perubahan yang terjadi pada bahasa yang penyebabnya terdapat di luar bahasa itu sendiri, misalnya faktor ekonomi, sosial, agama, politik, teknologi, dan lainnya. [Nif/Ed]

 

 

 

Sastra dan Budaya Perlu Diapresiasi

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Akhwani Subkhi

 

FITK, UINJKT Online- Lektor Kepala Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dr Aceng Rahmat mengatakan, apresiasi sastra hakikatnya adalah sikap menghargai sastra secara proporsional (pada tempatnya). Menghargai sastra artinya memberikan harga pada sastra sehingga sastra memiliki ”kapling” dalam hati dan batin kita. Dengan menyediakan ”kapling” dalam hati untuk sastra, kita secara spontan menyediakan waktu dan perhatian untuk membaca karya sastra.

 

Aceng mengatakan hal tersebut ketika memaparkan makalahnya berjudul Apresiasi Sastra dan Budaya dalam Pembelajaran Bahasa Arab di acara Seminar Nasional bertajuk ”Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis Cross Cultural Understanding (CCU)” yang diselenggarakan Jurusan Pendidikan Bahasa Arab di gedung FITK, Kamis (11/12). Kegiatan ini diikuti para guru, dosen, dan mahasiswa bahasa Arab.

 

Menurut Aceng wujud sikap apresiatif terhadap sastra adalah gandrung dengan kata-kata ”nan indah” dalam arti yang luas. Melalui hal itu, kita akan peka terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam teks sastra itu yang bermutu. Sastra merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya.

 

”Bagian dari bahasa adalah sastra. Apresiasi sastra Arab pada khususnya dan budaya Arab pada umumnya seharusnya menjadi bagian tak terpisahkan dalam proses pembelajaran bahasa Arab,” kata Aceng.

 

Aceng mengungkapkan, banyak strategi atau pendekatan yang dapat dipakai untuk mengapresiasi sastra dan budaya. Menurut Beach dan Marshall, kata dia, ada tujuh strategi dalam mengapresiasi sastra, yaitu mengikutsertakan, menjelaskan, memahami, menerangkan, menghubungkan, menafsirkan, dan menilai.

 

Pembelajaran bahasa Arab tidak harus menjadi bingung atau merasa sulit menerapkan ketujuh strategi tersebut ketika mengapresiasi sebuah karya sastra Arab ataupun fenomena budaya Arab. ”Strategi tersebut tidak harus muncul dalam suatu kegiatan apresiasi apalagi berurutan dari awal hingga akhir,” terangnya.

 

Apresiasi sastra dan budaya, lanjut dia, merupakan hal penting yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran bahasa Arab. Sehingga pembelajaran bahasa Arab bisa menjadi lebih menarik dan bersifat menyeluruh dan menyatu dengan konteks sosial.

 

Sedangkan pembicara lainnya Dr A Sayuti Anshari Nasution menuturkan, jika ada seseorang yang beranggapan bahwa bahasa termasuk bahasa Arab adalah sesuatu yang statis maka ia keliru karena bahasa mengalami dialektika atau dinamis. Bahasa tidak ubahnya seperti makhluk hidup lainnya, lahir kecil, kemudian berkembang dan mencapai kedewasaan lalu mengalami masa kesirnaan.

 

Menurut dia bahasa bisa berkembang dengan datangnya unsur-unsur baru atau terjadi modifikasi terhadap unsur lama, yang menghasilkan sebuah unsur dalam bentuk yang baru. ”Perubahan bahasa tidak bisa dikonotasikan dengan baik atau buruk, karena perubahan tersebut bersifat alami dan netral sesuai dengan tuntutan kondisi yang terjadi pada unsur-unsurnya,” tegasnya.

 

Anshari, demikian ia biasa disapa, menjelaskan perkembangan bahasa bisa terjadi karena dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal ialah faktor yang terjadi karena sebab unsur-unsur bahasa itu sendiri, misalnya sebab terjadi pada fonetik, fonologi, morfologi, sintaksis dan semantik bahasa itu sendiri. Sedangkan faktor eksternal, ialah perubahan yang terjadi pada bahasa yang penyebabnya terdapat di luar bahasa itu sendiri, misalnya faktor ekonomi, sosial, agama, politik, teknologi, dan lainnya. [Nif/Ed]