Sakit yang Membawa Berkah

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
KITA semua pernah sakit dan tentu saja kalau bisa, sakit itu jangan hadir lagi.Namun secara statistik, sakit selalu datang berulang kali pada kita dengan tingkat kepedihan dan penderitaan berbeda-beda.

Katanya,Raja Firaun termasuk orang yang sedikit sekali dihampiri sakit. Paling banter hanya batuk ringan dan flu. Dia selalu sehat dan gagah perkasa sehingga membuat dirinya sombong dan mabuk kekuasaan sampai-sampai menganggap dirinya Tuhan yang paling pantas ditakuti dan disembah oleh rakyatnya.

Semakin majunya ilmu kedokteran dan semakin banyaknya orang berkunjung ke rumah sakit dan toko obat,atau ada juga yang ke dukun, jelas menunjukkan satu hal: semua orang ingin sehat dengan ongkos apa pun dan berapa pun, bahkan ada yang mesti berutang sana-sini. Ketika kesehatan menjauh dari kita, tiba-tiba pola hidup berubah. Hidup menjadi tidak produktif, pikiran dan emosi terkena imbasnya. Dunia yang semula terasa ramah dan pemurah, lalu berubah menjadi pelit dan masam.

Blessing in Disguise

Orang Barat punya ungkapan bijak, blessing in disguise. Ungkapan ini ekuivalen dengan ungkapan ”hikmah di balik musibah”.Bahwa di balik peristiwa sakit atau bahkan tragedi yang menimpa manusia atau bangsa seringkali muncul anugerah selama kita mampu membaca lalu menggalinya.

Dalam konteks politik, karena musibah tsunami, gerakan separatisme Aceh Merdeka bisa diredam dan jalan ke arah kedamaian di Aceh menjadi jauh lebih mulus.Semua itu sulit dibayangkan kalau saja tidak terjadi musibah tsunami. Gara-gara Nagasaki dan Hiroshima dibom tentara Sekutu, rakyat Indonesia memperoleh momentum emas untuk menyatakan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.Tentara Jepang lalu ngacirpulang kampung. Dalam konteks individu, pernah saya bertemu seorang ibu supersibuk dan superwoman.

Dia sangat aktif dan produktif hidupnya dalam bisnis dan sebagai produsen film. Dalam memimpin anak buahnya dia sangat perfeksionis. Semua harus dikerjakan dengan hasil optimal sampai anak buahnya pontang-panting mengikuti cara kerjanya. Begitu pun pembantu rumah tangganya. Mesti apik kerjanya karena kalau tidak, sang majikan yang akan mengerjakannya sendiri. Pendeknya, dunia seakan dalam genggamannya sendiri karena sulit memercayakannya kepada orang lain. Suatu hari musibah datang dan tidak bisa ditolak.

Dia terserang penyakit yang mengharuskannya istirahat total di atas tempat tidur dan untuk memenuhi hajat hidupnya banyak tergantung pada pembantunya di rumah.Mulai dari makan, minum, buka jendela, ganti pakaian, semuanya mesti minta tolong pembantunya yang selama ini kurang dia hargai kinerjanya,kecuali yang terpenting menjaga rumah. Terbayang,betapa laju kehidupan yang semula berjalan kencang dan mulus tiba-tiba berhenti mendadak.

Hidup berubah drastis. Langit seperti runtuh, porak-porandalah ritme hidupnya yang telah dibangun bertahun-tahun. Dia mesti belajar berdamai dengan dirinya dan sakitnya meski perlu waktu dan energi kesabaran amat tinggi. Berbagai upaya pengobatan dia lakukan,tetapi tetap saja kesembuhannya lamban sekali. Sedikit demi sedikit ada kemajuan.

Dengan susah payah dia belajar membuka jendela di pagi hari. Subhanallah, serunya suatu pagi.Dengan perjuangan berat dia membuka jendela lalu tertatap matahari pagi dengan cahayanya kuning keemasan. Mengapa baru sekarang saya bisa mengagumi indahnya sang surya yang begitu indah dan pemurah memancarkan cahayanya untuk menghangatkan semua penghuni bumi ini?

Bibirnya berucap pelan penuh kekhusyukan.Lalu dia beralih memandang dedaunan yang rindang di belakang rumahnya.Dia amati daun yang sudah menguning jatuh diterpa angin.Dia dengarkan suara kokok ayam yang terasa merdu. Nyanyian burung yang terasa ceria di telinga. Semua ini merupakan nyanyian dan tarian alam yang sudah berlangsung ribuan dan bahkan jutaan tahun. Mengapa baru sekarang aku bisa mengamati dan mengagumi?

Mengapa aku mesti sakit dahulu dan tidak mampu berjalan baru bisa membaca ayat-ayat Tuhan ini? Sesalnya dalam hati.Dengan kondisi fisiknya yang hampir tak berdaya itu, dia baru mampu menghargai betapa besar jasanya pembantu di rumah yang setia melayani makan, minum, membersihkan badan, menyediakan obat, dan menemaninya ketika diperlukan. Tanpa mereka saya akan sangat sengsara dalam kesepian.Namun mengapa selama ini aku tak mampu melihat ketulusan para pembantuku ini? Kata hatinya menyadari kesalahannya yang selama ini merasa sebagai superwoman.

Demikianlah. Setelah sakit cukup parah, ibu tadi mengalami perubahan amat drastis dalam memandang kehidupan. Dalam memandang orang-orang di sekitarnya. Dalam memandang matahari, memaknai malam ketika datang menyelimuti bumi, mencermati ketika daun jatuh diterpa angin. Bahkan juga telinganya menjadi peka mendengarkan nyanyian burung.Mata hatinya menjadi peka setelah sakit. Dia merasa, di balik sakit yang menimpanya terdapat bingkisan kasih Ilahi berupa peringatan agar dia menjadi rendah hati, menghargai sesamanya, dan mensyukuri kehidupan untuk memperbanyak amal kebajikan.

Cerita semacam itu mudah ditemukan kalau saja kita mau menggali berbagai peristiwa di sekitar kehidupan kita sendiri.Teman saya sebulan lalu kakinya tersandung batu dan jempol kakinya terluka serius sehingga mesti dioperasi. Sebulan tidak bisa bermain golf, permainan yang amat digemarinya. Dia mesti membatalkan agenda bepergian ke luar negeri.Padahal peristiwanya sederhana. Hanya tersandung batu. Saya tersadar, katanya melalui telepon, betapa sombongnya saya, seakan dunia dalam genggaman saya.Saya punya uang bisa berkeliling dunia.

Namun sekarang saya mesti di rumah, berjalan dengan tongkat. Saya merenung, katanya. Saya mesti bertobat, memperbanyak zikir kepada Allah, membaca buku, dan berkumpul dengan keluarga. Ketika sakit, kita menjadi semakin sadar, betapa istri dan anak-anak sangat mencintai kita. Namun kadang kita tidak merespons mereka karena lebih sibuk di luar bersama orang lain dengan dalih mencari uang untuk keluarga.

Padahal yang keluarga dambakan bukan lagi uang, tetapi kebersamaan yang hangat.Keluarga rindu salat berjamaah di rumah, dilanjutkan bincang-bincang penuh keintiman dalam suasana religius. Tidak mudah menemukan anugerah di balik musibah. Namun jika Anda atau keluarga dekat pernah sakit cukup serius, coba renungkan dan gali hikmah di baliknya. Insya Allah akan ditemukan suatu parsel kasih sayang Ilahi di balik musibah itu. (*)

Sakit yang Membawa Berkah

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
KITA semua pernah sakit dan tentu saja kalau bisa, sakit itu jangan hadir lagi.Namun secara statistik, sakit selalu datang berulang kali pada kita dengan tingkat kepedihan dan penderitaan berbeda-beda.

Katanya,Raja Firaun termasuk orang yang sedikit sekali dihampiri sakit. Paling banter hanya batuk ringan dan flu. Dia selalu sehat dan gagah perkasa sehingga membuat dirinya sombong dan mabuk kekuasaan sampai-sampai menganggap dirinya Tuhan yang paling pantas ditakuti dan disembah oleh rakyatnya.

Semakin majunya ilmu kedokteran dan semakin banyaknya orang berkunjung ke rumah sakit dan toko obat,atau ada juga yang ke dukun, jelas menunjukkan satu hal: semua orang ingin sehat dengan ongkos apa pun dan berapa pun, bahkan ada yang mesti berutang sana-sini. Ketika kesehatan menjauh dari kita, tiba-tiba pola hidup berubah. Hidup menjadi tidak produktif, pikiran dan emosi terkena imbasnya. Dunia yang semula terasa ramah dan pemurah, lalu berubah menjadi pelit dan masam.

Blessing in Disguise

Orang Barat punya ungkapan bijak, blessing in disguise. Ungkapan ini ekuivalen dengan ungkapan ”hikmah di balik musibah”.Bahwa di balik peristiwa sakit atau bahkan tragedi yang menimpa manusia atau bangsa seringkali muncul anugerah selama kita mampu membaca lalu menggalinya.

Dalam konteks politik, karena musibah tsunami, gerakan separatisme Aceh Merdeka bisa diredam dan jalan ke arah kedamaian di Aceh menjadi jauh lebih mulus.Semua itu sulit dibayangkan kalau saja tidak terjadi musibah tsunami. Gara-gara Nagasaki dan Hiroshima dibom tentara Sekutu, rakyat Indonesia memperoleh momentum emas untuk menyatakan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.Tentara Jepang lalu ngacirpulang kampung. Dalam konteks individu, pernah saya bertemu seorang ibu supersibuk dan superwoman.

Dia sangat aktif dan produktif hidupnya dalam bisnis dan sebagai produsen film. Dalam memimpin anak buahnya dia sangat perfeksionis. Semua harus dikerjakan dengan hasil optimal sampai anak buahnya pontang-panting mengikuti cara kerjanya. Begitu pun pembantu rumah tangganya. Mesti apik kerjanya karena kalau tidak, sang majikan yang akan mengerjakannya sendiri. Pendeknya, dunia seakan dalam genggamannya sendiri karena sulit memercayakannya kepada orang lain. Suatu hari musibah datang dan tidak bisa ditolak.

Dia terserang penyakit yang mengharuskannya istirahat total di atas tempat tidur dan untuk memenuhi hajat hidupnya banyak tergantung pada pembantunya di rumah.Mulai dari makan, minum, buka jendela, ganti pakaian, semuanya mesti minta tolong pembantunya yang selama ini kurang dia hargai kinerjanya,kecuali yang terpenting menjaga rumah. Terbayang,betapa laju kehidupan yang semula berjalan kencang dan mulus tiba-tiba berhenti mendadak.

Hidup berubah drastis. Langit seperti runtuh, porak-porandalah ritme hidupnya yang telah dibangun bertahun-tahun. Dia mesti belajar berdamai dengan dirinya dan sakitnya meski perlu waktu dan energi kesabaran amat tinggi. Berbagai upaya pengobatan dia lakukan,tetapi tetap saja kesembuhannya lamban sekali. Sedikit demi sedikit ada kemajuan.

Dengan susah payah dia belajar membuka jendela di pagi hari. Subhanallah, serunya suatu pagi.Dengan perjuangan berat dia membuka jendela lalu tertatap matahari pagi dengan cahayanya kuning keemasan. Mengapa baru sekarang saya bisa mengagumi indahnya sang surya yang begitu indah dan pemurah memancarkan cahayanya untuk menghangatkan semua penghuni bumi ini?

Bibirnya berucap pelan penuh kekhusyukan.Lalu dia beralih memandang dedaunan yang rindang di belakang rumahnya.Dia amati daun yang sudah menguning jatuh diterpa angin.Dia dengarkan suara kokok ayam yang terasa merdu. Nyanyian burung yang terasa ceria di telinga. Semua ini merupakan nyanyian dan tarian alam yang sudah berlangsung ribuan dan bahkan jutaan tahun. Mengapa baru sekarang aku bisa mengamati dan mengagumi?

Mengapa aku mesti sakit dahulu dan tidak mampu berjalan baru bisa membaca ayat-ayat Tuhan ini? Sesalnya dalam hati.Dengan kondisi fisiknya yang hampir tak berdaya itu, dia baru mampu menghargai betapa besar jasanya pembantu di rumah yang setia melayani makan, minum, membersihkan badan, menyediakan obat, dan menemaninya ketika diperlukan. Tanpa mereka saya akan sangat sengsara dalam kesepian.Namun mengapa selama ini aku tak mampu melihat ketulusan para pembantuku ini? Kata hatinya menyadari kesalahannya yang selama ini merasa sebagai superwoman.

Demikianlah. Setelah sakit cukup parah, ibu tadi mengalami perubahan amat drastis dalam memandang kehidupan. Dalam memandang orang-orang di sekitarnya. Dalam memandang matahari, memaknai malam ketika datang menyelimuti bumi, mencermati ketika daun jatuh diterpa angin. Bahkan juga telinganya menjadi peka mendengarkan nyanyian burung.Mata hatinya menjadi peka setelah sakit. Dia merasa, di balik sakit yang menimpanya terdapat bingkisan kasih Ilahi berupa peringatan agar dia menjadi rendah hati, menghargai sesamanya, dan mensyukuri kehidupan untuk memperbanyak amal kebajikan.

Cerita semacam itu mudah ditemukan kalau saja kita mau menggali berbagai peristiwa di sekitar kehidupan kita sendiri.Teman saya sebulan lalu kakinya tersandung batu dan jempol kakinya terluka serius sehingga mesti dioperasi. Sebulan tidak bisa bermain golf, permainan yang amat digemarinya. Dia mesti membatalkan agenda bepergian ke luar negeri.Padahal peristiwanya sederhana. Hanya tersandung batu. Saya tersadar, katanya melalui telepon, betapa sombongnya saya, seakan dunia dalam genggaman saya.Saya punya uang bisa berkeliling dunia.

Namun sekarang saya mesti di rumah, berjalan dengan tongkat. Saya merenung, katanya. Saya mesti bertobat, memperbanyak zikir kepada Allah, membaca buku, dan berkumpul dengan keluarga. Ketika sakit, kita menjadi semakin sadar, betapa istri dan anak-anak sangat mencintai kita. Namun kadang kita tidak merespons mereka karena lebih sibuk di luar bersama orang lain dengan dalih mencari uang untuk keluarga.

Padahal yang keluarga dambakan bukan lagi uang, tetapi kebersamaan yang hangat.Keluarga rindu salat berjamaah di rumah, dilanjutkan bincang-bincang penuh keintiman dalam suasana religius. Tidak mudah menemukan anugerah di balik musibah. Namun jika Anda atau keluarga dekat pernah sakit cukup serius, coba renungkan dan gali hikmah di baliknya. Insya Allah akan ditemukan suatu parsel kasih sayang Ilahi di balik musibah itu. (*)