Said Agil Husein: Tidak Semua Orang Bisa Tafsirkan al-Qur’an

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Abdullah suntan

FUF, UIN Online – Guru Besar Tafsir Fakultas Ushuluddin Prof Dr Said Agil Husein Al-Munawar  mengatakan, tidak semua orang dapat menafsirkan al-Qur’an. Sebab, untuk menafsirkan al-Qur’an diperlukan kapasitas keilmuan yang memadai. “Hanya orang yang mendapat hidayah, ilmu, dan yang memiliki tingkat ketaqwaan yang tinggi,” tegas Said dalam seminar bertajuk Probelematika Tafsir al-Qur’an yang diselenggarakan BEM Jurusan Tafsir Hadits di Gedung Teater Fakultas Ushuluddin (FU), Selasa (29/12).

 

Mantan Menteri Agama ini khawatir dengan merebaknya sejumlah tafsir “jalanan” yang tidak bertujuan untuk kebenaran, sebaliknya hanya bertujuan merusak aqidah, meragukan kebenarannya, dan menyesatkan ummat. Ia mengimbau agar tidak semua orang seenaknya menafsirkan al-Qur’an sesuai dengan hawa nafsunya.

 

Menurut Said ta’wil ataupun tafsir yang benar adalah tafsir yang mendudukan sesuai dengan makna dan tidak menyimpang dari lafadz maknanya. Dengan demikian, para Ahli al-Qur’an mencatat tafsir yang tidak bisa diterima secara luas adalah tafsir yang menggunakan tafsir al-Isyani (tafsir sufi; nadori atau amali) yang bukan berdasarkan teks, akan tetapi dengan Ashabul Shuluk atau riadhoh yang memberi keterangan melalui firasat atau mimpi.

 

Karena itu ia mengimbau, dalam menafsirkan al-Quran hendaknya harus memiliki niat yang benar, berkompeten dan memperhatikan metode maudu’i yang mengarah langsug pada tujuan penafsiran. “Kita harus mengkaji secara mendalam, dan mengkritisi berbagai bentuk tafsir, terlebih pada tafsir (bersifat) Anhawa yang hanya mementingkan kepuasan jiwa semata atau yang bersumber pada hawa nafsu, bertabiat dan niat yang buruk, yang jauh dari ridho Allah,” pungkasnya. []

 

 

Said Agil Husein: Tidak Semua Orang Bisa Tafsirkan al-Qur’an

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Abdullah suntan

FUF, UIN Online – Guru Besar Tafsir Fakultas Ushuluddin Prof Dr Said Agil Husein Al-Munawar  mengatakan, tidak semua orang dapat menafsirkan al-Qur’an. Sebab, untuk menafsirkan al-Qur’an diperlukan kapasitas keilmuan yang memadai. “Hanya orang yang mendapat hidayah, ilmu, dan yang memiliki tingkat ketaqwaan yang tinggi,” tegas Said dalam seminar bertajuk Probelematika Tafsir al-Qur’an yang diselenggarakan BEM Jurusan Tafsir Hadits di Gedung Teater Fakultas Ushuluddin (FU), Selasa (29/12).

 

Mantan Menteri Agama ini khawatir dengan merebaknya sejumlah tafsir “jalanan” yang tidak bertujuan untuk kebenaran, sebaliknya hanya bertujuan merusak aqidah, meragukan kebenarannya, dan menyesatkan ummat. Ia mengimbau agar tidak semua orang seenaknya menafsirkan al-Qur’an sesuai dengan hawa nafsunya.

 

Menurut Said ta’wil ataupun tafsir yang benar adalah tafsir yang mendudukan sesuai dengan makna dan tidak menyimpang dari lafadz maknanya. Dengan demikian, para Ahli al-Qur’an mencatat tafsir yang tidak bisa diterima secara luas adalah tafsir yang menggunakan tafsir al-Isyani (tafsir sufi; nadori atau amali) yang bukan berdasarkan teks, akan tetapi dengan Ashabul Shuluk atau riadhoh yang memberi keterangan melalui firasat atau mimpi.

 

Karena itu ia mengimbau, dalam menafsirkan al-Quran hendaknya harus memiliki niat yang benar, berkompeten dan memperhatikan metode maudu’i yang mengarah langsug pada tujuan penafsiran. “Kita harus mengkaji secara mendalam, dan mengkritisi berbagai bentuk tafsir, terlebih pada tafsir (bersifat) Anhawa yang hanya mementingkan kepuasan jiwa semata atau yang bersumber pada hawa nafsu, bertabiat dan niat yang buruk, yang jauh dari ridho Allah,” pungkasnya. []