Saat Sang “Kamus Arkeologi Islam Berjalan” Itu Berulang Tahun

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

KURSI roda menemani kehadiran Prof Dr  Uka Tjandrasasmita di Ball Room Syahida Inn, yang, Kamis, 8 Oktober 2009, genap berusia 80 tahun. Selain kursi roda, ia juga ditemani istri tercinta, Imas Uka Tjandrasasmita.

Kehadiran pakar arkeologi Islam dan dosen Fakultas Adab dan Humaniora serta Sekolah Pascasarjana UIN siang itu boleh terbilang istimewa. Selain untuk merayakan ulang tahunnya ke-80, sebuah buku hasil penelitiannya di bidang arkeologi, diluncurkan dengan mengundang sejumlah pakar arkeologi, sejarah, dan filologi.

Bahkan kerabat dekat Uka juga hadir, di antaranya mantan Dirjen Kebudayaan Depdiknas Prof Dr Edi Sedyawati, termasuk Rektor UIN Prof Dr Komaruddin Hidayat.

Untuk menandai ulang tahun pria kelahiran Kuningan, Jawa Barat, 8 Oktober 1930 itu, sebuah kue tar disajikan lengkap dengan nyala lilin bertuliskan angka “80”. Lalu, saat lilin ditiup, lagu Happy Birthday pun menggema dalam ruangan.

Rektor menilai, Uka Tjandrasasmita termasuk manusia “langka” karena jarang ada orang yang ahli dan menekuni arkeologi Islam. Karena itu, Uka bukan saja harus mendapat nilai amat baik tetapi summa kumlaude. “Meski usianya telah 80 tahun, namun ia masih berkomitmen menggeluti arkeologi Islam,” katanya. Sementara Pembantu Dekan Bidang Akademik FAH Dra Tati Hartimah MA memuji Uka sebagai “kamus arkeologi Islam berjalan”.

Meski sudah berusia lanjut dan kini mengenakan kursi roda, namu suara dan pendengaran Uka justru tak berubah. Ia masih tetap mampu berkomunikasi dengan baik, termasuk melayani sejumlah pertanyaan wartawan yang saat itu mewawancaranya.

“Pak Uka ini hanya kurang sehat pada fisik kakinya saja. Tapi untuk berbicara atau berkomunikasi ia cukup lancar dan hampir tidak ada kendala,” ujar seorang dokter, yang merawat Uka selama sakit. (ns)

 

Saat Sang “Kamus Arkeologi Islam Berjalan” Itu Berulang Tahun

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

KURSI roda menemani kehadiran Prof Dr  Uka Tjandrasasmita di Ball Room Syahida Inn, yang, Kamis, 8 Oktober 2009, genap berusia 80 tahun. Selain kursi roda, ia juga ditemani istri tercinta, Imas Uka Tjandrasasmita.

Kehadiran pakar arkeologi Islam dan dosen Fakultas Adab dan Humaniora serta Sekolah Pascasarjana UIN siang itu boleh terbilang istimewa. Selain untuk merayakan ulang tahunnya ke-80, sebuah buku hasil penelitiannya di bidang arkeologi, diluncurkan dengan mengundang sejumlah pakar arkeologi, sejarah, dan filologi.

Bahkan kerabat dekat Uka juga hadir, di antaranya mantan Dirjen Kebudayaan Depdiknas Prof Dr Edi Sedyawati, termasuk Rektor UIN Prof Dr Komaruddin Hidayat.

Untuk menandai ulang tahun pria kelahiran Kuningan, Jawa Barat, 8 Oktober 1930 itu, sebuah kue tar disajikan lengkap dengan nyala lilin bertuliskan angka “80”. Lalu, saat lilin ditiup, lagu Happy Birthday pun menggema dalam ruangan.

Rektor menilai, Uka Tjandrasasmita termasuk manusia “langka” karena jarang ada orang yang ahli dan menekuni arkeologi Islam. Karena itu, Uka bukan saja harus mendapat nilai amat baik tetapi summa kumlaude. “Meski usianya telah 80 tahun, namun ia masih berkomitmen menggeluti arkeologi Islam,” katanya. Sementara Pembantu Dekan Bidang Akademik FAH Dra Tati Hartimah MA memuji Uka sebagai “kamus arkeologi Islam berjalan”.

Meski sudah berusia lanjut dan kini mengenakan kursi roda, namu suara dan pendengaran Uka justru tak berubah. Ia masih tetap mampu berkomunikasi dengan baik, termasuk melayani sejumlah pertanyaan wartawan yang saat itu mewawancaranya.

“Pak Uka ini hanya kurang sehat pada fisik kakinya saja. Tapi untuk berbicara atau berkomunikasi ia cukup lancar dan hampir tidak ada kendala,” ujar seorang dokter, yang merawat Uka selama sakit. (ns)