Rusia-Indonesia Miliki Potensi untuk Saling Tukar Pengalaman

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Ruang Diorama, UIN Online – Sebagai dua negara yang sama-sama sedang mengalami perubahan, Rusia dan Indonesia memiliki potensi untuk saling menukar pengalaman. Terlebih di kedua negara tersebut jumlah penduduk muslim setiap tahunnya mengalami peningkatan yang signifikan.

Hal itu dikatakan Presiden Sifinat Grup dari Rusia, Abu Supiyan Kharkharov, saat memberikan kuliah umum di depan sivitas akademika UIN Jakarta di Ruang Diorama, (21/5). Ia juga menegaskan Rusia dan Indonesia tahun ini sedang memperingati 60 tahun hubungan kerja sama kedua bangsa.

“Karena itu dialog relijius antara Rusia dan Indonesia menjadi penting terlebih setelah kedua negara mengalami perubahan sistem politik yang sangat signifikan,” ujar Kharkharov.

Rusia, kata dia, saat ini menjadi sebuah negara yang menolak sistem komunisme. Hal ini menjadi sangat memungkinkan bagi penduduk muslim Rusia menjalankan keyakinannya secara terbuka. Perubahan yang sama juga tengah dialami Indonesia dengan kehidupan muslimnya.

Mengingat peristiwa-peristiwa tersebut terjadi dalam waktu berdekatan, kedua negara jelas memiliki kesamaan baik dalam persoalan maupun dalam pencapaian dan kemajuan umat. “Karena persamaan itu pula, menurut saya, Rusia dan Indonesia memiliki potensi untuk saling menukar pengalaman, terutama dalam upaya memahami bagaimana cara mengendalikan proses-proses yang muncul pascaperubahan,” tandasnya. Ia juga mengingatkan bahwa di Indonesia semua permasalahan seperti dalam bidang politik dan ekonomi sering sekali berkaitan dengan kehidupan keagamaan masyarakatnya.

Kharkharov mengatakan, Rusia merupakan bagian tak terpisahkan dengan dunia Islam. Bahkan, Islam telah memasuki wilayah Rusia pada abad 7 Masehi. Kontak-kontak bermanfaat dalam rangka stabilitas antara dunia Islam dan Rusia kini telah mengalami perkembangan pesat. Hal itu berkaitan dengan merebaknya permasalahan di Kaukasus di mana Islam menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi posisi geopolitik dan keamanan di Rusia.

“Republik-republik di Kaukasus Utara, karena alasan-alasan tertentu, kini condong kepada pengaruh Timur yang Islam,” ungkapnya.

Pada bagian lain, Kharkharov juga menjelaskan bahwa masalah utama yang dihadapi Rusia saat ini adalah munculnya gerakan radikalisme di kalangan generasi muda Islam. Radikalisasi kesadaran generasi muda ini sangat disayangkan belum mendapatkan pembanding yang efektif. Hal ini menjadi penting untuk mencari penyelesaian dengan menggali nilai-nilai Islam yang sesungguhnya.

“Karena itu, guna menjamin stabilitas panjang di kawasan Kaukasus Utara, kami perlu segera menggandeng saudara-saudara sesama muslim di dunia Islam. Ini dilakukan guna menemukan langkah bagi penyelamatan anak-anak kami dari ide-ide radikal,” ujarnya. (ns)

 

Rusia-Indonesia Miliki Potensi untuk Saling Tukar Pengalaman

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Ruang Diorama, UIN Online – Sebagai dua negara yang sama-sama sedang mengalami perubahan, Rusia dan Indonesia memiliki potensi untuk saling menukar pengalaman. Terlebih di kedua negara tersebut jumlah penduduk muslim setiap tahunnya mengalami peningkatan yang signifikan.

Hal itu dikatakan Presiden Sifinat Grup dari Rusia, Abu Supiyan Kharkharov, saat memberikan kuliah umum di depan sivitas akademika UIN Jakarta di Ruang Diorama, (21/5). Ia juga menegaskan Rusia dan Indonesia tahun ini sedang memperingati 60 tahun hubungan kerja sama kedua bangsa.

“Karena itu dialog relijius antara Rusia dan Indonesia menjadi penting terlebih setelah kedua negara mengalami perubahan sistem politik yang sangat signifikan,” ujar Kharkharov.

Rusia, kata dia, saat ini menjadi sebuah negara yang menolak sistem komunisme. Hal ini menjadi sangat memungkinkan bagi penduduk muslim Rusia menjalankan keyakinannya secara terbuka. Perubahan yang sama juga tengah dialami Indonesia dengan kehidupan muslimnya.

Mengingat peristiwa-peristiwa tersebut terjadi dalam waktu berdekatan, kedua negara jelas memiliki kesamaan baik dalam persoalan maupun dalam pencapaian dan kemajuan umat. “Karena persamaan itu pula, menurut saya, Rusia dan Indonesia memiliki potensi untuk saling menukar pengalaman, terutama dalam upaya memahami bagaimana cara mengendalikan proses-proses yang muncul pascaperubahan,” tandasnya. Ia juga mengingatkan bahwa di Indonesia semua permasalahan seperti dalam bidang politik dan ekonomi sering sekali berkaitan dengan kehidupan keagamaan masyarakatnya.

Kharkharov mengatakan, Rusia merupakan bagian tak terpisahkan dengan dunia Islam. Bahkan, Islam telah memasuki wilayah Rusia pada abad 7 Masehi. Kontak-kontak bermanfaat dalam rangka stabilitas antara dunia Islam dan Rusia kini telah mengalami perkembangan pesat. Hal itu berkaitan dengan merebaknya permasalahan di Kaukasus di mana Islam menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi posisi geopolitik dan keamanan di Rusia.

“Republik-republik di Kaukasus Utara, karena alasan-alasan tertentu, kini condong kepada pengaruh Timur yang Islam,” ungkapnya.

Pada bagian lain, Kharkharov juga menjelaskan bahwa masalah utama yang dihadapi Rusia saat ini adalah munculnya gerakan radikalisme di kalangan generasi muda Islam. Radikalisasi kesadaran generasi muda ini sangat disayangkan belum mendapatkan pembanding yang efektif. Hal ini menjadi penting untuk mencari penyelesaian dengan menggali nilai-nilai Islam yang sesungguhnya.

“Karena itu, guna menjamin stabilitas panjang di kawasan Kaukasus Utara, kami perlu segera menggandeng saudara-saudara sesama muslim di dunia Islam. Ini dilakukan guna menemukan langkah bagi penyelamatan anak-anak kami dari ide-ide radikal,” ujarnya. (ns)