Rusak dan Keberhasilan Generasi Bangsa Tergantung Kaum Ibu

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Aula Student Center, BERITA UIN Online — Peranan ibu sebagai pendidik generasi bangsa tidak bisa digantikan oleh kaum lelaki. Bahkan, keberhasilan kaum laki-laki pada dasarnya adalah berkat usaha keras kaum ibu. “Ibu adalah madrasah atau sekolah pertama bagi anak-anaknya. Karena itu, ibu punya peranan penting memajukan generasi bangsa,” ujar Pembantu Rektor Bidang Akademik Prof Dr Moh. Matsna HS MA pada acara “Peringatan Hari Ibu dan Menyambut Tahun Baru 1433 H” bertajuk “Revitalisasi Kodrat Wanita” yang digelar Dharma Wanita Persatuan (DWP) UIN Jakarta di Aula Student Center, Kamis (22/12).

Karena kaum ibu merupakan sumber inspirasi dan kreasi bagai anak-anaknya, papar dia, maka di tangan mereka pula berhasil dan rusaknya generasi bangsa. “Berhasil dan rusaknya anak-anak bangsa itu juga tergantung didikan ibunya,” sambung Guru Besar Bahasa Arab itu sembari mengutip hadis Nabi Saw,” al-Mar’ah ‘imad al-Bilad. Idza shaluhat shulahat al-Bilad wa idza fasadat fasadat al-Bilad” (Perempuan itu tiangnya negara. Apabila ia baik, maka baiklah negaranya. Dan apabila ia rusak, maka rusaklah negara).

Ditegaskannya, dekadensi moral remaja saat ini bisa jadi disebabkan pengasuhan kaum perempuan yang tidak sesuai dengan kodrat kewanitaan. Hal tersebut terjadi karena kaum wanita sekarang ini lebih peduli dengan karier pribadinya atau hal-hal lainnya. Mereka lupa dengan tugas pokoknya sebagai ibu.

Terkait hal itu, dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi UIN Jakarta Dr Hj. Isnawati Rais, menjelaskan, perempuan yang gagal mengasuh anak-anaknya itu karena tergoda dengan gerakan-gerakan femenisme atau gender. “Mereka ini menuntut sama seperti laki-laki. Padahal ini tidak sesuai dengan kodrat wanita,” ujar Isnawati.

Menurutnya, apa yang diajarkan Islam tentang kedudukan dan hak wanita itu sudah benar dan sesuai dengan kodrat wanita. Tugas utama seorang ibu adalah mendidik anak-anaknya menjadi generasi saleh/salehah, bukan menjadi wanita yang persis sama dengan laki-laki dalam semua lini kehidupan.

Ditegaskannya, kaum femenis sengaja mengusung wacana gender untuk merusak Islam, sehingga generasi Islam rusak dengan sendirinya. “Para orientalis Barat memang mengkampanyekan hal ini,” imbunya. (saifudin)