Runtuhnya Istana Keluarga

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
SETIAP mendengar pejabat tinggi masuk tahanan karena berurusan dengan polisi, kepala saya merunduk, hati bagai tersayat.Terbayang wajah duka, kecewa, dan marah istri dan anak-anaknya.

Sebagai seorang ayah,saya sangat menyadari betapa berat beban perasaan yang mesti dipikul ketika sosok ayah, yang menjadi pengayom, pelindung, dan role model dalam keluarga, tiba-tiba menjadi bulan-bulanan pemberitaan surat kabar maupun televisi.

Sekali seseorang diberitakan lewat media massa sebagai penjahat atau koruptor dan kemudian dimasukkan ke ruang tahanan polisi, pasti keluarga yang bersangkutan bagai terhantam tsunami yang mengobrak-abrik tatanan dan kedamaian keluarga. Ritme hidupnya berubah.Suasana batinnya galau dan bingung.

Semuanya berubah drastis, yang tadinya cerah ceria berubah jadi mendung dan gelap. Bayangkan bagaimana seseorang jungkir balik bertahuntahun merintis karier, terutama mereka yang datang dari keluarga sederhana secara ekonomi.Ada di antara mereka yang kuliah di perguruan tinggi sambil bekerja.Yang begini ini cerita populer.

Ada yang merangkap jadi sopir taksi, jualan di kaki lima,dan sekian jenis pekerjaan serabutan lain, yang penting memperoleh uang tambahan untuk ongkos hidup dan kuliah di kota besar. Mahasiswa yang sudah terbiasa bekerja sambil kuliah biasanya cepat beradaptasi dengan lingkungan baru dan cepat berprestasi ketika memasuki dunia kerja.

Mereka sudah memiliki bekal mental tahan banting dan sikap mandiri sehingga lebih matang dan menonjol dibandingkan sarjana yang hidupnya serbadimanjakan dengan uang dan fasilitas lain oleh orangtua mereka. Secara pribadi saya banyak mengenal teman yang berhasil meraih gelar doktor di dalam maupun di luar negeri, sebuah sukses dan loncatan hidup jika dilihat dari latar belakang ekonomi keluarganya yang sangat sederhana dan berasal dari kampung.

Biasanya cerita penderitaan hidup masa lalunya ditutupi dan kalaupun diceritakan hanya kepada teman dekat saja. Di setiap kampus ternama di Indonesia banyak ditemukan alumni yang sukses secara akademis, materi dan jabatan politik, yang dulunya mesti bekerja banting tulang cari uang ketika masih menjadi mahasiswa.

Setelah jadi sarjana dan kemudian berhasil meniti karier di dunia kerja, tingkat ekonominya membaik, bahkan ada yang melonjak secara spektakuler.Ada di antara mereka yang pandai bersyukur dengan tetap menjalani hidup secara sederhana, tetapi ada pula yang seakan lupa diri, balas dendam terhadap kepahitan masa lalunya.

Jebakan yang selalu mengintip adalah dorongan untuk memanjakan anak. Alasannya, tidak ingin anakanaknya mengulangi cerita pahit orangtuanya sewaktu remaja. Semakin tinggi tingkat keberhasilan pangkat, ekonomi, dan popularitas seseorang, semakin tinggi pula tingkat jatuhnya kalau seseorang tidak hati-hati.

Dalam bahasa pesantren, ketika seseorang naik menjadi jenderal, setan yang menggoda juga berpangkat jenderal. Jadi, hidup ini tak pernah sepi dari jebakan dan godaan hidup. Orang kaya dengan kekayaannya akan lebih mudah untuk beramal saleh,tetapi lebih mudah juga berbuat maksiat.

Orang yang memiliki jabatan tinggi akan lebih mudah membantu rakyat dengan jabatannya, tetapi lebih berpeluang juga untuk menipu dan menindas rakyat. Mari kembali pada topik di atas.Ketika usia seseorang sudah semakin lanjut, berperan sebagai kepala dan anutan keluarga, wilayah kehidupan yang paling didambakannya adalah jika keluarganya hidup tenteram, saling mencintai, menghargai, dan saling melindungi.

Unit kehidupan rumah tangga memiliki gravitasi lebih kuat ketimbang kehidupan politik.Untuk apa orangtua berjerih payah mencari nafkah kalau bukan untuk membahagiakan keluarga? Tiada kebahagiaan orangtua kecuali melihat anak-anaknya dan anggota keluarga hidup rukun, berkembang, dan terhormat di mata masyarakat. Nah,bukankah sebuah tsunami atau hantaman petir ketika suatu hari sosok ayah yang menjadi anutan, penyangga istana keluarga tibatiba diseret polisi lalu dipaksa mendekam di ruang tahanan yang sempit, pengap,dan jadi sorotan publik dengan bahasa sinis dan geram?

Repotnya lagi, media massa dan masyarakat kita senang menjatuhkan hukuman mendahului proses pengadilan,di samping kepercayaan pada pengadilan memang sangat rendah. Na’udzubillahi mindzalik! Kita mohon perlindungan kepada Allah dari kejadian yang mengerikan itu. Ketika kepercayaan dan kebanggaan kepada figur ayah sebagai kepala keluarga mengalami defisit, langit istana keluarga runtuh.

 

Keluarga bukan lagi sebagai istana yang memberikan kenyamanan dan kebanggaan bagi warganya. Mereka pasti kalut, bingung, marah,dan kasihan campur aduk. Bagaimana rasanya seseorang yang bertahun-tahun sebelumnya hidup dengan penuh fasilitas dan sanjungan ketika tiba-tiba menjadi pesakitan.

 

Ibarat kereta yang tadinya berjalan kencang, lalu dipaksa berhenti mendadak, pasti penumpangnya berjumpalitan dan kesakitan, sementara keretanya pasti mengalami kerusakan berat.Tak mudah,bahkan perlu waktu sangat lama, untuk bisa pulih dan berjalan lagi seperti sediakala.

 

Bahkan pasti ada korban dan sparepart yang tidak bisa dipakai lagi. Demikianlah, begitu banyak pelajaran hidup yang terbentang di depan mata agar kita semua, khususnya para orangtua,bersikap hati-hati. Mungkin saja kita merasa bangga dan sukses menjalani ujian sewaktu muda ketika dihimpit problem ekonomi.

 

Kini ketika sukses secara materi, jabatan dan popularitas telah di tangan, justru ujian yang lebih besar tengah menghadang. Semakin tinggi posisi seseorang,kalau jatuh akan semakin tinggi dan semakin menyakitkan dibandingkan sewaktu masih jadi orang biasa-biasa saja.

 

Kalau memang benar-benar mencintai keluarga dan bekerja untuk keluarga, ada tahapan tertentu di mana yang paling diperlukan keluarga bukan lagi limpahan materi, melainkan keakraban, kasih sayang, dan kehangatan untuk bersama-sama membina rumah tangga demi membesarkan generasi unggul penerus kehidupan berbangsa. (*)

 

Tulisan ini perna dimuat di Seputar Indonesia, 5 Juni 2009

Runtuhnya Istana Keluarga

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
SETIAP mendengar pejabat tinggi masuk tahanan karena berurusan dengan polisi, kepala saya merunduk, hati bagai tersayat.Terbayang wajah duka, kecewa, dan marah istri dan anak-anaknya.

Sebagai seorang ayah,saya sangat menyadari betapa berat beban perasaan yang mesti dipikul ketika sosok ayah, yang menjadi pengayom, pelindung, dan role model dalam keluarga, tiba-tiba menjadi bulan-bulanan pemberitaan surat kabar maupun televisi.

Sekali seseorang diberitakan lewat media massa sebagai penjahat atau koruptor dan kemudian dimasukkan ke ruang tahanan polisi, pasti keluarga yang bersangkutan bagai terhantam tsunami yang mengobrak-abrik tatanan dan kedamaian keluarga. Ritme hidupnya berubah.Suasana batinnya galau dan bingung.

Semuanya berubah drastis, yang tadinya cerah ceria berubah jadi mendung dan gelap. Bayangkan bagaimana seseorang jungkir balik bertahuntahun merintis karier, terutama mereka yang datang dari keluarga sederhana secara ekonomi.Ada di antara mereka yang kuliah di perguruan tinggi sambil bekerja.Yang begini ini cerita populer.

Ada yang merangkap jadi sopir taksi, jualan di kaki lima,dan sekian jenis pekerjaan serabutan lain, yang penting memperoleh uang tambahan untuk ongkos hidup dan kuliah di kota besar. Mahasiswa yang sudah terbiasa bekerja sambil kuliah biasanya cepat beradaptasi dengan lingkungan baru dan cepat berprestasi ketika memasuki dunia kerja.

Mereka sudah memiliki bekal mental tahan banting dan sikap mandiri sehingga lebih matang dan menonjol dibandingkan sarjana yang hidupnya serbadimanjakan dengan uang dan fasilitas lain oleh orangtua mereka. Secara pribadi saya banyak mengenal teman yang berhasil meraih gelar doktor di dalam maupun di luar negeri, sebuah sukses dan loncatan hidup jika dilihat dari latar belakang ekonomi keluarganya yang sangat sederhana dan berasal dari kampung.

Biasanya cerita penderitaan hidup masa lalunya ditutupi dan kalaupun diceritakan hanya kepada teman dekat saja. Di setiap kampus ternama di Indonesia banyak ditemukan alumni yang sukses secara akademis, materi dan jabatan politik, yang dulunya mesti bekerja banting tulang cari uang ketika masih menjadi mahasiswa.

Setelah jadi sarjana dan kemudian berhasil meniti karier di dunia kerja, tingkat ekonominya membaik, bahkan ada yang melonjak secara spektakuler.Ada di antara mereka yang pandai bersyukur dengan tetap menjalani hidup secara sederhana, tetapi ada pula yang seakan lupa diri, balas dendam terhadap kepahitan masa lalunya.

Jebakan yang selalu mengintip adalah dorongan untuk memanjakan anak. Alasannya, tidak ingin anakanaknya mengulangi cerita pahit orangtuanya sewaktu remaja. Semakin tinggi tingkat keberhasilan pangkat, ekonomi, dan popularitas seseorang, semakin tinggi pula tingkat jatuhnya kalau seseorang tidak hati-hati.

Dalam bahasa pesantren, ketika seseorang naik menjadi jenderal, setan yang menggoda juga berpangkat jenderal. Jadi, hidup ini tak pernah sepi dari jebakan dan godaan hidup. Orang kaya dengan kekayaannya akan lebih mudah untuk beramal saleh,tetapi lebih mudah juga berbuat maksiat.

Orang yang memiliki jabatan tinggi akan lebih mudah membantu rakyat dengan jabatannya, tetapi lebih berpeluang juga untuk menipu dan menindas rakyat. Mari kembali pada topik di atas.Ketika usia seseorang sudah semakin lanjut, berperan sebagai kepala dan anutan keluarga, wilayah kehidupan yang paling didambakannya adalah jika keluarganya hidup tenteram, saling mencintai, menghargai, dan saling melindungi.

Unit kehidupan rumah tangga memiliki gravitasi lebih kuat ketimbang kehidupan politik.Untuk apa orangtua berjerih payah mencari nafkah kalau bukan untuk membahagiakan keluarga? Tiada kebahagiaan orangtua kecuali melihat anak-anaknya dan anggota keluarga hidup rukun, berkembang, dan terhormat di mata masyarakat. Nah,bukankah sebuah tsunami atau hantaman petir ketika suatu hari sosok ayah yang menjadi anutan, penyangga istana keluarga tibatiba diseret polisi lalu dipaksa mendekam di ruang tahanan yang sempit, pengap,dan jadi sorotan publik dengan bahasa sinis dan geram?

Repotnya lagi, media massa dan masyarakat kita senang menjatuhkan hukuman mendahului proses pengadilan,di samping kepercayaan pada pengadilan memang sangat rendah. Na’udzubillahi mindzalik! Kita mohon perlindungan kepada Allah dari kejadian yang mengerikan itu. Ketika kepercayaan dan kebanggaan kepada figur ayah sebagai kepala keluarga mengalami defisit, langit istana keluarga runtuh.

 

Keluarga bukan lagi sebagai istana yang memberikan kenyamanan dan kebanggaan bagi warganya. Mereka pasti kalut, bingung, marah,dan kasihan campur aduk. Bagaimana rasanya seseorang yang bertahun-tahun sebelumnya hidup dengan penuh fasilitas dan sanjungan ketika tiba-tiba menjadi pesakitan.

 

Ibarat kereta yang tadinya berjalan kencang, lalu dipaksa berhenti mendadak, pasti penumpangnya berjumpalitan dan kesakitan, sementara keretanya pasti mengalami kerusakan berat.Tak mudah,bahkan perlu waktu sangat lama, untuk bisa pulih dan berjalan lagi seperti sediakala.

 

Bahkan pasti ada korban dan sparepart yang tidak bisa dipakai lagi. Demikianlah, begitu banyak pelajaran hidup yang terbentang di depan mata agar kita semua, khususnya para orangtua,bersikap hati-hati. Mungkin saja kita merasa bangga dan sukses menjalani ujian sewaktu muda ketika dihimpit problem ekonomi.

 

Kini ketika sukses secara materi, jabatan dan popularitas telah di tangan, justru ujian yang lebih besar tengah menghadang. Semakin tinggi posisi seseorang,kalau jatuh akan semakin tinggi dan semakin menyakitkan dibandingkan sewaktu masih jadi orang biasa-biasa saja.

 

Kalau memang benar-benar mencintai keluarga dan bekerja untuk keluarga, ada tahapan tertentu di mana yang paling diperlukan keluarga bukan lagi limpahan materi, melainkan keakraban, kasih sayang, dan kehangatan untuk bersama-sama membina rumah tangga demi membesarkan generasi unggul penerus kehidupan berbangsa. (*)

 

Tulisan ini perna dimuat di Seputar Indonesia, 5 Juni 2009