Rektor UIN Jakarta Prof Dr Dede Rosyada MA Saat memberikan sambutan pada Milad Ke-10 Rumah Sakit Syarif Hidayatullah.

Aula RS, BERITA UIN Online— Rumah Sakit Syarif Hidayatullah UIN Jakarta merayakan milad ke-10. Perayaan yang mengangkat tema Peningkatan Mental dan Spiritual Karyawan Rumah Sakit Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut, dilaksanakan di Aula Rumah Sakit lantai 5, Jumat (21/04).

Hadir dalam tasyakuan tersebut, Rektor UIN Jakarta Prof Dr Dede Rosyada MA, Wakil Rektor Bidang Akademik Dr Fadhilah Suralaga MSi, Wakil Rektor Bidang Kerjasama Prof Dr Murodi MA, Kepala Biro Administrasi Umum dan Kepegawaian (AUK) Dr H Rudi Subiyantoro MPd, Direktur Rumah Sakit Syarif Hidayatullah Dr Ismet Alimin, para Dokter, dan seluruh karyawan RS Syarif Hidayatullah UIN Jakarta.

Ismet Alimin, saat memberikan sambutan mengawali acara tersebut mengatakan, bahwa di usia sepuluh tahun ini, rumah sakit telah mengalami banyak kemajuan. Hal itu terlihat dengan meningkatnya kualitas layanan, fasilitas dan sarana-prasarana yang ada saat ini.

“Akan tetapi, untuk menjadi rumah sakit yang terakreditasi dan dapat menerima pasien BPJS, tentunya masih ada kekurangan dibeberapa bagian. Diantaranya, ruang pasien rawat inap, tempat tidur pasien, dan penambahan tenaga kesehatan,” ujar Ismet yang disambut tepuk tangan meriah dari peserta yang hadir.

Tidak lupa, Ismet juga mengucapkan terima kasih kepada jajaran pimpinan UIN Jakarta atas apresiasi yang diberikan guna kemajuan rumah sakit Syarif Hidayatullah UIN Jakarta tersebut.

Menanggapi hal itu, rektor mengatakan bahwa, saat ini pihaknya tengah mengusahakan rumah sakit UIN Jakarta dalam tempo satu tahun kedepan dapat menerima pasien dengan BPJS.

“Tahun 2019 nanti, kami sedang terus mengusahakan pasien BPJS bisa berobat di rumah sakit ini. Tentunya, dengan memenuhi persyaratan yang harus dipenuhi. Yaitu menambah sarana dan prasarana rumah sakit ini,” pukas rektor.

Ditambahkannya, bahwa untuk menjadi rumah sakit yang maju dari berbagai sisi. Hendaknya menerapkan dua hal, yaitu Zero Defact dan Hospitality. Zero Defact yang dimaksudkan adalah bagaimana meminimalisir hal-hal yang menggangu kenyamanan di rumah sakit. “Selain itu, untuk menciptakan zero defact diperlukan ketelitian dan ketekunan setiap tenaga medis yang ada di rumah sakit ini,” jelasnya.

Sedang yang dimaksud hospitality, menurut Dede, yaitu bagaimana pelayanan di rumah sakit ini mampu memberikan warna yang berbeda, perbedaan tersebut nampak ari cara kita memperlakukan pasien. Dengan demikian, pasien akan merasa nyaman dan inner capacity pasien tersebut mampu membantu mempercepat proses penyembuhan.

“Sebagai rumah sakit yang berada di bawah payung perguruan tinggi Islam, seyogyanya tenaga medis yang ada mampu memberikan masukan serta membangkitkan inner capacity pasien, dengan menerapkan nilai-nilai agama Islam yang ter-maktub dalam al-Qur’an,” papar Guru Besar Metodologi Pendidikan tersebut.

Sebagai informasi, pada Milad ke-10 rumah sakit UIN Jakarta ini, pihak manajemen memberikan hadiah umrah kepada dua pegawai rumah sakit yang telah mengabdi selama 20 tahun lebih. Selain itu, kedisiplinan pegawai tersebut pun menjadi prasyarat penilaian. (lrf/hmn)

 

Share This