Rumah-Rumah Tanpa Dinding

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Rumah-Rumah Tanpa Dinding

KEMAJEMUKAN penduduk bumi kian hari kian kita rasakan.Secara fisik memang tidak leluasa bergerak semau kita karena dibatasi banyak faktor, entah tembok, sungai, lautan atau penjaga wilayah perbatasan antarnegara.

Belum lagi diperlukan biaya yang tidak murah kalau bepergian ke luar negeri. Namun secara intelektual, budaya, dan agama, tembok-tembok itu semakin pendek dan bahkan roboh. Dengan kemajuan teknologi internetdan televisi,masyarakat secara mudah melakukan ziarah budaya ke rumah dan wilayah orang lain. Sekarang ini, dengan mudahnya kita mempelajari budaya dan agama orang lain,tukar-menukar pikiran atau bahkan saling hujat bukan lagi peristiwa aneh.

Itu semua terjadi dalam dunia gagasan melalui sarana internet dan buku-buku. Konsep rumah budaya dan agama yang lama telah mengalami perubahan sangat drastis. Rumah-rumah itu sekarang seakan berdiri tanpa tembok atau dinding pembatas yang kokoh, tetapi sekadar pembatas diri berupa identitas dan garis maya yang mudah dilangkahi dan ditembus. Dengan mudah orang keluar-masuk, melangkahi garis pembatas yang bersifat abstrak.Orang dengan leluasa melakukan passing-over atau keluyuran ke dunia yang berbeda.

Umat beragama yang berbeda keyakinan bisa saling berdialog, berantem, berdebat, saling hujat, atau bercanda secara serius maupun main-main tanpa mesti bertemu secara langsung dan personal. Di sana tak ada moderator yang mengatur waktu atau majelis ulama yang menetapkan rambu-rambu. Dalam dunia kuliner, misalnya, saat ini orang tak lagi terikat secara fanatik terhadap menu warisan orangtua yang diperkenalkan sejak kecil.

Di mal misalnya, jenis makanan mancanegara ramai dikunjungi para pembeli. Beragam musik terdengar di sana-sini. Anak-anak ABG yang menginjak umur belasan tahun tak jelas identitas dan jati dirinya.Yang selalu dikejar adalah bagaimana lulus matematika,bahasa Inggris,dan ilmu pengetahuan umum dengan mencontreng jawaban ganda yang telah tersedia dengan tidak perlu memeras otak.Perjuangan hidup mungkin baru dirasa serius ketika berebut bangku kuliah dan lapangan pekerjaan.

Selebihnya hidup dijalani dengan datar-datar saja. Rumah-rumah budaya dan agama itu terasa tanpa dinding.Dari dalam mudah memandang ke luar,sementara dari luar terbuka untuk memandang dan masuk ke dalam. Doa-doa bersama lintas pemeluk agama sering diselenggarakan. Dialog antariman menjadi semakin populer dan sering dilakukan. Di Amerika Serikat (AS) dan Eropa yang basis agamanya Kristen, segelintir sarjana ahli ketimuran dan khususnya ahli Islam sangat sibuk menerima undangan seminar.

Kampus-kampus bergengsi di sana dianggap belum lengkap kalau belum memiliki departemen studi keislaman. Sebaliknya, universitas di Jepang,China,dan Korea Selatan mulai membuka diri dengan menawarkan program-program internasional dengan pengantar bahasa Inggris sehingga muncul istilah Asianization of Science and Universities. Tukar-menukar dosen dan mahasiswa lintas negara semakin intens dilakukan.

Di wilayahAsia Timur,yang tumbuh tidak hanya bidang ekonomi saja, melainkan juga pusat-pusat ilmu pengetahuan yang hendak menyaingi keunggulan Barat. Kota-kota besar dan universitas ternama tampil sebagai miniatur dunia baru dengan suasana budaya dan agama yang plural. Mereka menatap masa depan dengan referensi baru.Identitas lama para mahasiswanya perlahan mengalami metamorfosis. Mereka tentu saja masih memiliki memori dan identitas primordialnya.Namun tidak lagi kuat, yang bertahan sekadar garis lingkar yang samar sebagai batas psikologis.

Pernikahan lintas suku,bangsa, dan negara bermunculan yang pada urutannya melahirkan generasi hibrida. Sebuah generasi yang juga disebut sebagai finger generation ataupun gadget generation yang asyik sendiri berjam-jam memainkan komputer dan mobile phone untuk menjelajahi dunia. Ketika membayangkan itu semua,di mana dan bagaimana serta apa yang akan terjadi dengan bangsa,budaya, dan masyarakat Indonesia? Sejauh ini saya mengamati ada beberapa universitas yang mewakili budaya dan putra Indonesia serta potensial didorong agar menjadi world class university.

Namun sebagian besar masih bersifat lokal provinsial. Sejak dari dosen,karyawan,dan mahasiswa mayoritasnya putra daerah, berbicara dengan bahasa daerah, dan mimpi-mimpinya juga dibatasi oleh semangat kedaerahan. Memang ada beberapa universitas yang berperan sebagai katalisator dan fasilitator bagi lahirnya ”generasi Indonesia” yang pandangan dan komitmen moralnya sudah ”mengindonesia” dan bahkan mendunia. Namun situasinya harus didorong terus.

Sayang, energi para petinggi bangsa ini justru lebih banyak tersedot untuk memenangi persaingan dan perebutan kekuasaan politik, bukannya turut berperan aktif memikirkan masa depan penduduk bumi yang dihadapkan krisis ekonomi dan lingkungan. Kadang terpikir, rasanya yang membuat stabil dan mampu bertahan bangsa ini adalah rakyat menengah ke bawah. Sementara yang ke atas malah membuat kacau dan bangkrut.

Dalam dunia politik, di mana para caleg begitu bergairah memasang fotonya di berbagai sudut kota dan desa, benarkah mereka itu didorong oleh komitmen dan visi membela bangsa dan memperbaiki nasib rakyat ataukah itu bagian dari agenda mendapatkan lapangan kerja dengan bayangan gaji tinggi? Mungkin saja ada yang didorong oleh idealisme cinta bangsa. Mereka obral janji, ”Kalau nanti saya terpilih jadi presiden, gubernur, bupati atau anggota DPR, saya akan ….”Artinya, kalau tidak terpilih, jangan-jangan mereka itu tidak akan berbuat apaapa.

Sementara ketika terpilih dan jadi, betulkah mereka akan memenuhi janjijanjinya? Kalau kita sendiri tidak mampu menjaga dan membangun bangsa sendiri, tidak mampu menghasilkan generasi unggul yang cinta bangsa, rumah Indonesia ini sangat terbuka bagi siapa pun yang hendak masuk.Bahkan modal asing telah masuk ke bilikbilik rumah agama dan budaya kita.

Terima kasih kepada ulama yang selalu mengingatkan agar keyakinan, paham, dan akidah umat dijaga. Namun pertanyaannya, seberapa efektifkah menjaga komunitas umatnya ketika tembok-tembok rumah itu telah tergantikan oleh sekadar garis dan bahkan mereka saling berkomunikasi melalui internet yang tersedia kapan saja dan di mana saja? (*)

Tulisan ini pernah dimuat di Seputar Indonesia, 20 Maret 2009

Rumah-Rumah Tanpa Dinding

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Rumah-Rumah Tanpa Dinding

KEMAJEMUKAN penduduk bumi kian hari kian kita rasakan.Secara fisik memang tidak leluasa bergerak semau kita karena dibatasi banyak faktor, entah tembok, sungai, lautan atau penjaga wilayah perbatasan antarnegara.

Belum lagi diperlukan biaya yang tidak murah kalau bepergian ke luar negeri. Namun secara intelektual, budaya, dan agama, tembok-tembok itu semakin pendek dan bahkan roboh. Dengan kemajuan teknologi internetdan televisi,masyarakat secara mudah melakukan ziarah budaya ke rumah dan wilayah orang lain. Sekarang ini, dengan mudahnya kita mempelajari budaya dan agama orang lain,tukar-menukar pikiran atau bahkan saling hujat bukan lagi peristiwa aneh.

Itu semua terjadi dalam dunia gagasan melalui sarana internet dan buku-buku. Konsep rumah budaya dan agama yang lama telah mengalami perubahan sangat drastis. Rumah-rumah itu sekarang seakan berdiri tanpa tembok atau dinding pembatas yang kokoh, tetapi sekadar pembatas diri berupa identitas dan garis maya yang mudah dilangkahi dan ditembus. Dengan mudah orang keluar-masuk, melangkahi garis pembatas yang bersifat abstrak.Orang dengan leluasa melakukan passing-over atau keluyuran ke dunia yang berbeda.

Umat beragama yang berbeda keyakinan bisa saling berdialog, berantem, berdebat, saling hujat, atau bercanda secara serius maupun main-main tanpa mesti bertemu secara langsung dan personal. Di sana tak ada moderator yang mengatur waktu atau majelis ulama yang menetapkan rambu-rambu. Dalam dunia kuliner, misalnya, saat ini orang tak lagi terikat secara fanatik terhadap menu warisan orangtua yang diperkenalkan sejak kecil.

Di mal misalnya, jenis makanan mancanegara ramai dikunjungi para pembeli. Beragam musik terdengar di sana-sini. Anak-anak ABG yang menginjak umur belasan tahun tak jelas identitas dan jati dirinya.Yang selalu dikejar adalah bagaimana lulus matematika,bahasa Inggris,dan ilmu pengetahuan umum dengan mencontreng jawaban ganda yang telah tersedia dengan tidak perlu memeras otak.Perjuangan hidup mungkin baru dirasa serius ketika berebut bangku kuliah dan lapangan pekerjaan.

Selebihnya hidup dijalani dengan datar-datar saja. Rumah-rumah budaya dan agama itu terasa tanpa dinding.Dari dalam mudah memandang ke luar,sementara dari luar terbuka untuk memandang dan masuk ke dalam. Doa-doa bersama lintas pemeluk agama sering diselenggarakan. Dialog antariman menjadi semakin populer dan sering dilakukan. Di Amerika Serikat (AS) dan Eropa yang basis agamanya Kristen, segelintir sarjana ahli ketimuran dan khususnya ahli Islam sangat sibuk menerima undangan seminar.

Kampus-kampus bergengsi di sana dianggap belum lengkap kalau belum memiliki departemen studi keislaman. Sebaliknya, universitas di Jepang,China,dan Korea Selatan mulai membuka diri dengan menawarkan program-program internasional dengan pengantar bahasa Inggris sehingga muncul istilah Asianization of Science and Universities. Tukar-menukar dosen dan mahasiswa lintas negara semakin intens dilakukan.

Di wilayahAsia Timur,yang tumbuh tidak hanya bidang ekonomi saja, melainkan juga pusat-pusat ilmu pengetahuan yang hendak menyaingi keunggulan Barat. Kota-kota besar dan universitas ternama tampil sebagai miniatur dunia baru dengan suasana budaya dan agama yang plural. Mereka menatap masa depan dengan referensi baru.Identitas lama para mahasiswanya perlahan mengalami metamorfosis. Mereka tentu saja masih memiliki memori dan identitas primordialnya.Namun tidak lagi kuat, yang bertahan sekadar garis lingkar yang samar sebagai batas psikologis.

Pernikahan lintas suku,bangsa, dan negara bermunculan yang pada urutannya melahirkan generasi hibrida. Sebuah generasi yang juga disebut sebagai finger generation ataupun gadget generation yang asyik sendiri berjam-jam memainkan komputer dan mobile phone untuk menjelajahi dunia. Ketika membayangkan itu semua,di mana dan bagaimana serta apa yang akan terjadi dengan bangsa,budaya, dan masyarakat Indonesia? Sejauh ini saya mengamati ada beberapa universitas yang mewakili budaya dan putra Indonesia serta potensial didorong agar menjadi world class university.

Namun sebagian besar masih bersifat lokal provinsial. Sejak dari dosen,karyawan,dan mahasiswa mayoritasnya putra daerah, berbicara dengan bahasa daerah, dan mimpi-mimpinya juga dibatasi oleh semangat kedaerahan. Memang ada beberapa universitas yang berperan sebagai katalisator dan fasilitator bagi lahirnya ”generasi Indonesia” yang pandangan dan komitmen moralnya sudah ”mengindonesia” dan bahkan mendunia. Namun situasinya harus didorong terus.

Sayang, energi para petinggi bangsa ini justru lebih banyak tersedot untuk memenangi persaingan dan perebutan kekuasaan politik, bukannya turut berperan aktif memikirkan masa depan penduduk bumi yang dihadapkan krisis ekonomi dan lingkungan. Kadang terpikir, rasanya yang membuat stabil dan mampu bertahan bangsa ini adalah rakyat menengah ke bawah. Sementara yang ke atas malah membuat kacau dan bangkrut.

Dalam dunia politik, di mana para caleg begitu bergairah memasang fotonya di berbagai sudut kota dan desa, benarkah mereka itu didorong oleh komitmen dan visi membela bangsa dan memperbaiki nasib rakyat ataukah itu bagian dari agenda mendapatkan lapangan kerja dengan bayangan gaji tinggi? Mungkin saja ada yang didorong oleh idealisme cinta bangsa. Mereka obral janji, ”Kalau nanti saya terpilih jadi presiden, gubernur, bupati atau anggota DPR, saya akan ….”Artinya, kalau tidak terpilih, jangan-jangan mereka itu tidak akan berbuat apaapa.

Sementara ketika terpilih dan jadi, betulkah mereka akan memenuhi janjijanjinya? Kalau kita sendiri tidak mampu menjaga dan membangun bangsa sendiri, tidak mampu menghasilkan generasi unggul yang cinta bangsa, rumah Indonesia ini sangat terbuka bagi siapa pun yang hendak masuk.Bahkan modal asing telah masuk ke bilikbilik rumah agama dan budaya kita.

Terima kasih kepada ulama yang selalu mengingatkan agar keyakinan, paham, dan akidah umat dijaga. Namun pertanyaannya, seberapa efektifkah menjaga komunitas umatnya ketika tembok-tembok rumah itu telah tergantikan oleh sekadar garis dan bahkan mereka saling berkomunikasi melalui internet yang tersedia kapan saja dan di mana saja? (*)

Tulisan ini pernah dimuat di Seputar Indonesia, 20 Maret 2009