RS Syahid ”Fardlu Kifayah”

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Gedung RS Syahid, UIN Online – Rektor Prof Dr Komaruddin Hidayat menyatakan, mendirikan rumah sakit bagi umat Islam hukumnya fardlu kifayah (tidak menjadi kewajiban bagi seluruh umat Islam). Hal itu dikarenakan dalam Islam telah diajarkan tentang nilai-nilai kebersihan, keindahan, dan kesehatan.

”Yang wajib adalah UIN Jakarta. Untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat, maka mendirikan RS Syarif Hidayatullah hukumnya menjadi fardlu a’in,” kata Rektor saat meresmikan beroperasinya RS Syarif Hidayatullah (Syahid), di kawasan perumahan dosen UIN Jakarta, Senin (19/4). Peresmian ditandai dengan pelepasan balon, penandatanganan prasasti, pengguntingan pita, dan pemotongan tumpeng. Turut hadir para pejabat UIN Jakarta, Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan serta sejumlah pinisepuh UIN Jakarta, di antaranya tampak mantan Rektor IAIN Jakarta Drs H Ahmad Sjadali.

Pembangunan RS Syahid kali ini merupakan tahap kedua. Tahap pertama telah diresmikan pada pertengahan 2007 lalu.

Menurut Rektor, pembangunan gedung RS Syahid sebenarnya hanya meneruskan dari warisan yang sudah dimulai oleh para pendahulunya. Sebagaimana diketahui, RS tersebut awalnya berupa balai pengobatan, kemudian meningkat menjadi klinik dan kini rumah sakit.

”Sekarang ini UIN Jakarta seperti sudah lengkap. Ada masjid (Masjid Fathullah) sebagai simbol kesehatan rohani, rumah sakit sebagai kesehatan jasmani (RS Syahid), bank (Bank Mandiri) sebagai kesehatan ekonomi, dan buku (Mizan Book Corner) sebagai kesehatan intelektual,” paparnya.

Rektor menegaskan, sebagai rumah sakit Islam, pelayanan di RS Syahid harus ditangani secara profesional dan tetap mengembangkan senyum kepada para pasien. Bahkan jika perlu, RS harus memberikan pengobatan secara gratis jika pasien tidak dilayani dengan senyum. ”Ada sebuah supermarket yang dalam pelayanannya memegang prinsip seperti itu, yakni belanja gratis jika tidak dilayani dengan senyum,” ungkapnya.

Seusai peremian, Rektor didampingi para pejabat UIN Jakarta melakukan peninjauan ke ruang rawat inap di lantai tiga. Setelah itu, Rektor beramah-tamah bersama sejumlah tamu undangan, termasuk para pinisepuh.

RS Syahid yang berdiri sejak 1962 itu didirikan di atas lahan seluas 6.000 meter persegi. RS dilengkapi dengan sarana dan prasarana memadai, seperti gedung berlantai enam, ruang rawat inap, ruang UGD, ruang jenazah, dan ruang operasi. Selain itu juga ditunjang oleh laboratoium, rontgen, EKG, USG, fisioterapi, apotik, optik, dan treadmill. Bahkan, guna menjaga sanitasi lingkungan RS Syahid dilengkapi dengan instalasi pengolahan limbah yang ramah lingkungan. (ns)

RS Syahid ”Fardlu Kifayah”

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Gedung RS Syahid, UIN Online – Rektor Prof Dr Komaruddin Hidayat menyatakan, mendirikan rumah sakit bagi umat Islam hukumnya fardlu kifayah (tidak menjadi kewajiban bagi seluruh umat Islam). Hal itu dikarenakan dalam Islam telah diajarkan tentang nilai-nilai kebersihan, keindahan, dan kesehatan.

”Yang wajib adalah UIN Jakarta. Untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat, maka mendirikan RS Syarif Hidayatullah hukumnya menjadi fardlu a’in,” kata Rektor saat meresmikan beroperasinya RS Syarif Hidayatullah (Syahid), di kawasan perumahan dosen UIN Jakarta, Senin (19/4). Peresmian ditandai dengan pelepasan balon, penandatanganan prasasti, pengguntingan pita, dan pemotongan tumpeng. Turut hadir para pejabat UIN Jakarta, Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan serta sejumlah pinisepuh UIN Jakarta, di antaranya tampak mantan Rektor IAIN Jakarta Drs H Ahmad Sjadali.

Pembangunan RS Syahid kali ini merupakan tahap kedua. Tahap pertama telah diresmikan pada pertengahan 2007 lalu.

Menurut Rektor, pembangunan gedung RS Syahid sebenarnya hanya meneruskan dari warisan yang sudah dimulai oleh para pendahulunya. Sebagaimana diketahui, RS tersebut awalnya berupa balai pengobatan, kemudian meningkat menjadi klinik dan kini rumah sakit.

”Sekarang ini UIN Jakarta seperti sudah lengkap. Ada masjid (Masjid Fathullah) sebagai simbol kesehatan rohani, rumah sakit sebagai kesehatan jasmani (RS Syahid), bank (Bank Mandiri) sebagai kesehatan ekonomi, dan buku (Mizan Book Corner) sebagai kesehatan intelektual,” paparnya.

Rektor menegaskan, sebagai rumah sakit Islam, pelayanan di RS Syahid harus ditangani secara profesional dan tetap mengembangkan senyum kepada para pasien. Bahkan jika perlu, RS harus memberikan pengobatan secara gratis jika pasien tidak dilayani dengan senyum. ”Ada sebuah supermarket yang dalam pelayanannya memegang prinsip seperti itu, yakni belanja gratis jika tidak dilayani dengan senyum,” ungkapnya.

Seusai peremian, Rektor didampingi para pejabat UIN Jakarta melakukan peninjauan ke ruang rawat inap di lantai tiga. Setelah itu, Rektor beramah-tamah bersama sejumlah tamu undangan, termasuk para pinisepuh.

RS Syahid yang berdiri sejak 1962 itu didirikan di atas lahan seluas 6.000 meter persegi. RS dilengkapi dengan sarana dan prasarana memadai, seperti gedung berlantai enam, ruang rawat inap, ruang UGD, ruang jenazah, dan ruang operasi. Selain itu juga ditunjang oleh laboratoium, rontgen, EKG, USG, fisioterapi, apotik, optik, dan treadmill. Bahkan, guna menjaga sanitasi lingkungan RS Syahid dilengkapi dengan instalasi pengolahan limbah yang ramah lingkungan. (ns)