Rizky Ardi Nugroho Melesat Setelah Jatuh

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Wisma Kopertais, UIN Online — Tidak ada manusia yang mendapatkan kesuksesannya dengan mudah. Banyak orang yang sukses saat ini, sebelumnya mengalami keterpurukkan, namun sikap pantang menyerah membuat nasib mereka berubah.

Rizky Ardi Nugroho wirausahawan pemenang Business Start-Up Awards 2008 dari Shell LiveWIRE, bisa mewakili orang yang pantang menyerah dan mendapatkan kesuksesannya. Rizky yang hadir dalam Shell LiveWIRE Bright Ideas Workshop membagikan pengalamannya kepada peserta workshop di Wisma Kopertais, Kamis (7/1).

Alumnus Fakultas Teknologi Hasil Pertanian UGM ini mengaku menjadi wirausahawan karena terdesak masalah keuangan. Saat semester enam perusahaan yang ayahnya pimpin bangkrut, sehingga ayahnya harus kehilangan pekerjaan. Sementara ibunya, menderita kanker stadium empat.

Hal tersebut membuat hidupnya di bawah tekanan, karena kiriman dari orangtua berkurang, sementara kuliahnya jauh di Jogjakarta.

Untuk membiayai kebutuhan hidup dan kuliah, dia harus berusaha mencari uang dengan segala usaha. Mulai dari usaha fotokopian sampai membantu berjualan makanan dekat kosannya.

“Setiap ada kuliah, saya duduk paling depan supaya kalau ada fotokopian, teman-teman bisa hubungi saya. Saat itu, keuntungan dari fotokopian lumayan untuk hidup,” jelas Pria yang bertempat tinggal di Ciputat ini.

Namun, ternyata kesulitan hidup dan susahnya mencari uang membuat dia ingin belajar menjadi pengusaha. Dia mulai sering memperhatikan tukang-tukang makanan yang ada di dekat kosannya. Memerhatikan dan menulis hasil penelitian yang dia lakukan setiap hari. Mulai dari apa yang dijual, berapa modalnya, berapa harga jualnya dan menghitung keuntungan yang didapat penjual makanan tersebut.

Maka, pada tahun 2008 dia memutuskan untuk berwirausaha beras organik. Rizky memasarkan beras organik dari rekanannya yang seorang petani. Dia memulainya dengan menjual dari rumah ke rumah. Itu bukanlah hal yang mudah. Sebab, banyak orang yang membicarakan pekerjaannya itu.

“Ada saja tetangga yang ngomongin. Sekolah jauh-jauh, jadi sarjana, tapi setelah pulang cuma jualan beras,” kenangnya.

Kini, Rizky bisa berbangga karena usaha yang dirintisanya telah membuahkan hasil. Dia tak lagi memasarkan berasnya dari rumah ke rumah. Usaha itu sekarang menjadi perusahaan bernama CV. Green Health Agriculture. Dia telah memiliki karyawan, lahan untuk menanam padi yang menghasilkan beras organik dan juga petani yang bekerja menggarap lahannya.

Semangat Rizky untuk sukses, tidak lain karena keinginannya untuk membahagiakan kedua orangtuanya, apalagi ibunya saat itu sedang sakit parah. Maka, keinginan untuk membiayai berobat ibunya sangat memacu semangatnya untuk lebih giat berusaha.

Kesuksesan telah diraihnya. Namun, dia tak ingin cepat puas. Hal yang ingin dibagikannya kepada peserta workshop, bahwa niat dan berpikir saja tidak cukup. Lakukan itu lebih penting. Karena, kegagalan akan membuat kita lebih banyak ide, lebih berpengalaman dan lebih kuat untuk bisa meraih kesuksesan yang diinginkan. “Just do it, get duit!,” tandasnya dengan semangat di akhir seminar. [Elly Afriani]

Rizky Ardi Nugroho Melesat Setelah Jatuh

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Wisma Kopertais, UIN Online — Tidak ada manusia yang mendapatkan kesuksesannya dengan mudah. Banyak orang yang sukses saat ini, sebelumnya mengalami keterpurukkan, namun sikap pantang menyerah membuat nasib mereka berubah.

Rizky Ardi Nugroho wirausahawan pemenang Business Start-Up Awards 2008 dari Shell LiveWIRE, bisa mewakili orang yang pantang menyerah dan mendapatkan kesuksesannya. Rizky yang hadir dalam Shell LiveWIRE Bright Ideas Workshop membagikan pengalamannya kepada peserta workshop di Wisma Kopertais, Kamis (7/1).

Alumnus Fakultas Teknologi Hasil Pertanian UGM ini mengaku menjadi wirausahawan karena terdesak masalah keuangan. Saat semester enam perusahaan yang ayahnya pimpin bangkrut, sehingga ayahnya harus kehilangan pekerjaan. Sementara ibunya, menderita kanker stadium empat.

Hal tersebut membuat hidupnya di bawah tekanan, karena kiriman dari orangtua berkurang, sementara kuliahnya jauh di Jogjakarta.

Untuk membiayai kebutuhan hidup dan kuliah, dia harus berusaha mencari uang dengan segala usaha. Mulai dari usaha fotokopian sampai membantu berjualan makanan dekat kosannya.

“Setiap ada kuliah, saya duduk paling depan supaya kalau ada fotokopian, teman-teman bisa hubungi saya. Saat itu, keuntungan dari fotokopian lumayan untuk hidup,” jelas Pria yang bertempat tinggal di Ciputat ini.

Namun, ternyata kesulitan hidup dan susahnya mencari uang membuat dia ingin belajar menjadi pengusaha. Dia mulai sering memperhatikan tukang-tukang makanan yang ada di dekat kosannya. Memerhatikan dan menulis hasil penelitian yang dia lakukan setiap hari. Mulai dari apa yang dijual, berapa modalnya, berapa harga jualnya dan menghitung keuntungan yang didapat penjual makanan tersebut.

Maka, pada tahun 2008 dia memutuskan untuk berwirausaha beras organik. Rizky memasarkan beras organik dari rekanannya yang seorang petani. Dia memulainya dengan menjual dari rumah ke rumah. Itu bukanlah hal yang mudah. Sebab, banyak orang yang membicarakan pekerjaannya itu.

“Ada saja tetangga yang ngomongin. Sekolah jauh-jauh, jadi sarjana, tapi setelah pulang cuma jualan beras,” kenangnya.

Kini, Rizky bisa berbangga karena usaha yang dirintisanya telah membuahkan hasil. Dia tak lagi memasarkan berasnya dari rumah ke rumah. Usaha itu sekarang menjadi perusahaan bernama CV. Green Health Agriculture. Dia telah memiliki karyawan, lahan untuk menanam padi yang menghasilkan beras organik dan juga petani yang bekerja menggarap lahannya.

Semangat Rizky untuk sukses, tidak lain karena keinginannya untuk membahagiakan kedua orangtuanya, apalagi ibunya saat itu sedang sakit parah. Maka, keinginan untuk membiayai berobat ibunya sangat memacu semangatnya untuk lebih giat berusaha.

Kesuksesan telah diraihnya. Namun, dia tak ingin cepat puas. Hal yang ingin dibagikannya kepada peserta workshop, bahwa niat dan berpikir saja tidak cukup. Lakukan itu lebih penting. Karena, kegagalan akan membuat kita lebih banyak ide, lebih berpengalaman dan lebih kuat untuk bisa meraih kesuksesan yang diinginkan. “Just do it, get duit!,” tandasnya dengan semangat di akhir seminar. [Elly Afriani]