Prof-Dr-Dede-Rosyada-Rektor-UIN-Syarif-Hidayatullah-Jakartaoleh: Prof. Dr. Dede Rosyada, MA

Pendahuluan

Era globalisasi sudah tiba. Dan, ASEAN kini menjadi satu wilayah ekonomi tunggal, sebuah kondisi yang memungkinkan masyarakat Asia Tenggara di masa mendatang harus mempertimbangkan penggunaan single currency seperti halnya Uni Eropa dengan Euro sebagai mata uang tunggal sejak 1 Januari 1999.[1] Diketahui, dalam pertemuan di Bali tahun 2003, seluruh pemimpin negara-negara ASEAN sepakat atas pemberlakuan pasar tunggal ASEAN yang dilaksanakan secara bertahap, mulai dari sektor pariwisata, transportasi, barang-barang manufaktur, elektronik, hingga otomotif. Sejalan dengan itu, perguruan tinggi sibuk melakukan berbagai perbaikan kurikulum, peningkatan kompetensi para mahasiswa dengan mempertimbangkan akseptabilitas pasar kerja ASEAN, karena per Oktober 2015 perjanjian Bali menetapkan mulai berlakunya free flow of service. Dengan demikian, 10 negara ASEAN, termasuk pasar Indonesia,menjadi pasar tunggal bagi para sarjana perguruan tinggi perguruan tinggi ASEAN.

          Bagi perguruan tinggi, implikasi demikian adalah perlunya evaluasi dan rancang ulang pembinaan perguruan tinggi sebagai lembaga yang bertanggung jawab atas peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia, yang bisa diterima di seluruh negara ASEAN, dan bahkan untuk beberapa kejadian, justru banyak SDM Indonesia diterima di pasar Amerika, Eropa dan juga Australia, yang belum memiliki kesepakatan sebagaimana yang telah dilakukan dengan negara-negara ASEAN. Salah satu yang kini menjadi perhatian serius perguruan tinggi di Indonesia adalah menghantarkannya menjadi perguruan tinggi yang memperoleh pengakuan dunia internasional, yang dalam istilah populer sering disebut dengan World Class University (WCU). Sebenarnya tidak ada standar internasional perguruan tinggi, akan tetapi evaluasi perankingan biasanya dilakukan beberapa international credential agency yang bereputasi, dengan membandingkan beberapa perguruan tinggi besar dari berbagai negara dalam beberapa variabel yang menjadi tradisi akademik di perguruan tinggi. Berbagai lembaga peranking yang sudah memiliki reputasi antara lain Time Higher Education (THE), QS World University Ranking (QS WUR), dan Academic Ranking of World University (ARWU) yang dikembangkan oleh Shanghai Jiao Tong University.

Diantara aspek yang menjadi perhatian semua lembaga peranking tersebut adalah karya penelitian dosen, baik dalam aspek publikasi karya ilmiah pada jurnal-jurnal yang dibaca dan dikutip oleh akademisi mancanegara, jumlah kutipan, pendapatan universitas dari penelitian inovatif untuk membantu dunia industri, baik penelitian evaluatif, pengembangan maupun penelitian untuk temuan-temuan inovasi baru baik dalam aspek teknologi, sistem maupun manajemennya. Kriteria-kriteria demikian digunakan oleh semua lembaga tersebut di atas, dan bahkan ada lembaga yang meminta kualifikasi lebih dari itu. Oleh sebab itu, salah satu jalan menuju pengakuan dunia (global recognition), dan dapat bersanding bersama universitas-universitas besar dunia, setiap perguruan tinggi harus memulai dengan memperkuat tradisi penelitiannya, dan keluar dari skema teaching university menjadi research university.

Menjadi Research University

Undang-Undang Nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi telah menegaskan bahwa pendidikan tinggi memiliki tiga tugas utama, yakni menyelenggarakan pembelajaran untuk para mahasiswa, mengembangkan penelitian dan melakukan pengabdian pada masyarakat. Namun, pendidikan tinggi merupakan lembaga akademik, karena itu, program pengabdian pada masyarakat bukan dalam rangka membawa masyarakat pada perubahan sosial, yang menjadi tugas dan fungsi Direktorat jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tapi justru menghasilkan teori atau teknologi yang sudah divalidasi dalam kehidupan sosial, disampaikan pada para mahasiswa dalam pembelajaran, atau diajukan kepada kementerian teknis untuk diimplementasikan dalam pelaksananan tugas dan fungsi mereka. Tugas penelitian di perguruan tinggi saat ini, masih banyak yang hanya sekedar memiliki karya penelitian untuk memenuhi Beban Kerja Dosen (BKD) atau untuk memperkuat portofolio dosen dalam rangka promosi jabatan menjadi Guru Besar (GB). akibatnya, industri belum banyak yang memanfaatkan teori yang dihasilkan para GB Indonesia, seperti halnya juga belum banyak teori atau instrumen hasil karya guru besar digunakan di sekolah/madrasah. Oleh sebab itu, program penelitian di perguruan tinggi harus direvitalisasi, baik program maupun sociological impact-nya dari penelitian tersebut, dengan menggunakan ukuran-ukuran research university (universitas penelitian).

       Bersamaan dengan itu, Indonesia memiliki berbagai keunikan yang sekaligus keunggulan dalam pendidikan perguruan tinggi, baik dalam bidang sains, sosial maupun humaniora. Banyak universitas besar memiliki program doktor, tapi masih fokus pada pembelajaran lanjutan program tingkat sarjana, padahal sangat potensial untuk dikembangkan menjadi universitas penelitian. Demikian pula, banyak karya penelitian yang hanya sampai pada seminar dan prosiding, dan tidak dipublikasikan secara internasional, sehingga karya-karya besar tidak terapresiasi oleh akademisi dunia. Para akademisi Indonesia belum memiliki tradisi publikasi yang baik, sehingga karya-karya kreatif tersebut belum memperoleh global recognition, yang menjadi dasar pengakuan terhadap profesionalisme para alumni dan mahasiswanya. Dengan demikian, promosi untuk meningkat pada posisi universitas penelitian menjadi step up yang sangat strategis dalam upaya mendistribusikan para alumninya pada pasar regional dan global. Universitas penelitian yang merupakan terjemahan dari Research Univeristy (RU), sebagaimana Lynn O. Shaugnessy katakan adalah universitas yang memiliki misi memperbesar jumlah penelitian, dengan perluasan pada seluruh bidang ilmu dan kerjasama dengan industri, serta memperbesar jumlah alumni graduate studies, baik pada jenjang program magister maupun doktor.[2] Bersamaan dengan itu, universitas juga mengurangi jumlah dan volume mahasiswa pada program sarjana.

      Energi yang bisa mendorong peningkatan volume dan kualitas penelitian para dosen adalah sistem penugasan mereka dalam pelaksanaan tugas-tugas akademik. Jika semua waktu dihabiskan untuk mengajar, maka para dosen dan GB tidak akan punya waktu yang cukup untuk melakukan penelitian, dan perguruan tinggi tidak akan pernah berubah menjadi universitas riset, tapi akan semakin memperkuat posisinya sebagai universitas pembelajaran (teaching university). Indikator utama teaching university adalah besarnya jumlah wisudawan dari program sarjana, dan penugasan dosen lebih dominan untuk mengajar, bukan penelitian, bahkan belum ada sama sekali penelitian kemitraan dengan industri atau pemerintah daerah. Dengan demikian, jika semua dosen, dan bahkan para GB masih sibuk melaksanakan layanan pembelajaran untuk para mahasiswanua, maka perguruan tinggi tersebut masih dalam kategori universitas pembelajaran, dan itu bukan bentuk ideal dari sebuah perguruan tinggi yang bisa berkompetisi di tingkat global. Oleh sebab  itu, penugasan para dosen dan GB dalam penelitian, harus menjadi perhatian pimpinan fakultas, jangan ada satu pun GB yang tidak melakukan penelitian, baik dengan menggunakan pembiayaan internal maupun kemitraan, dan penugasan dosen senior dengan GB sebesar 9 sks untuk penelitian sangat dimungkinkan, dengan hanya mengajar sebanyak 3 sks, atau satu kali masuk dalam satu minggu.

   Kemudian, peningkatan frekwensi penelitian juga berkorelasi dengan definisi universitas penelitian, yakni memperbesar mahasiswa pascasarjana, karena jenjang ini diarahkan untuk melahirkan para ilmuwan, bukan para pekerja yang masuk pasar tenaga kerja. Setiap mahasiswa pada jenjang magister dan Doktor harus melakukan penelitian yang didampingi oleh para dosen senior mereka. Secara substantif, dosen pembimbing atau promotor terlibat dalam tesis dan disertasi mahasiswa bimbingannya, pengalaman akademik dan gagasan mereka masuk dalam tesis dan disertasi tersebut. Dengan demikian, pembimbing tesis dan disertasi berhak memberi penjelasan terhadap sanggahan-sanggahan para penguji, karena banyak atau sedikit, promotor dan co-promotor masuk pada tesis dan disertasi tersebut. Oleh sebab itu, mereka berhak ikut dalam publikasinya, kecuali kalau mereka sendiri tidak mau ikut dalam publikasinya itu. Akan tetapai, karya ilmiah itu sebagai karya institusi universitas tidak bisa disangkal, sehingga universitas boleh mewajibkan para mahasiswa untuk mempublikasikan hasil penelitiannya atas nama universitas tempat mereka belajar. Itulah mengapa salah satu aspek pengertian universitas penelitian adalah jumlah mahasiswa pascasarjana harus lebih besar dari jumlah mahasiswa program sarjana. Hanya saja, sampai saat ini, untuk konteks Indonesia, kriteria ini baru bisa ditempuh dengan memperbesar proporsi jumlah mahasiswa pascasarjana sampai angka rasional.

    Pengalaman berbagai universitas di Amerika yang mendorong institusinya menjadi universitas riset, mengembangkan berbagai kriteria utama, meliputi:

  1. Fakultas memiliki komitmen yang kuat untuk melaksanakan penelitian dan pembelajaran
  2. Memiliki mahasiswa pascasarjana yang berkualitas yang memiliki minat kuat untuk belajar melakukan penelitian atau fungsi-fungsi keahlian lainnya.
  3. Kultur akademik yang baik yang dapat mendorong lahirnya ilmu dan teknologi baru
  4. Memiliki fasilitas untuk melaksanakan proses pembelajaran dan penelitian
  5. Memiliki biaya yang cukup untuk melaksanakan proses pembelajaran
  6. Memiliki dana yang cukup untuk pembiayaan penelitian
  7. Memiliki infra struktur ICT untuk proses pelaksanaan penelitian, tidak hanya laboratorium, dan perpustakaan, tapi juga kekuatan infra struktur teknologi Informasi (TI) yang baik yang dapat melayani berbagai kepentingan riset, komunikasi dan juga aksesabilitas hasil-hasil penelitian untuk memperoleh pengakuan dunia.
  8. Memiliki leadership yang baik[3].

Sementara itu, dalam tradisi yang dikembangkan oleh masyarakat Amerika untuk mengukur perguruan tinggi mereka, biasanya ditentukan bahwa pengukuran dilakukan dalam sembilan variabel, yakni[4]:

  1. Variabel alokasi budget universitas untuk membiayai penelitian, teorinya semakin tinggi budget penelitian, semakin baik, dalam menuju kualifikasi universitas riset.
  2. Variabel budget yang dialokasikan pemerintah federal untuk kegiatan penelitian di universitas.
  3. Jumlah aset yang diperoleh universitas dari charity atau endowment lainnya.
  4. Annual giving, atau jumlah uang yang disiapkan universitas untuk para mahasiswa dalam penyelesaian studi mereka, baik untuk penelitian atau lainnya.
  5. Keterlibatan para dosen dalam kegiatan akademik yang diselenggarakan oleh pemerintah.
  6. Jumlah hadiah atau penghargaan yang diterima dosen dan fakultasnya.
  7. Jumlah mahasiswa program doktor.
  8. Jumlah alumni yang memperoleh tugas dalam posisi penting.
  9. Skor rata-rata tes masuk pada jenjang pendidikan sarjana. Semakin tinggi skor rerata, semakin baik nilainya.

     Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi, sampai sekarang belum melakukan evaluasi untuk mandat sebagai universitas riset, dan beberapa universitas di Indonesia akan memulai memasuki kriteria ini dalam rangka menuju WCU. Oleh sebab itu, berbagai kriteria yang digunakan di berbagai universitas di Amerika ini bisa menjadi rujukan untuk men-set up perguruan tinggi menjadi universitas riset, dalam upaya memperoleh pengakuan global bagi universitasnya, sehingga para alumni perguruan tinggi tersebut bisa diterima di mana pun di dunia ini, dan sebagian dari alumni terbaik Indonesia bisa berdiaspora di mancanegara.

         Signifikansi mengubah misi universitas dengan skema pengembangan program akademik dalam paradigma research university, adalah, bahwa dunia semakin terbuka, dan dunia semakin akuntabel, semakin berprestasi seseorang, semakin besar dia memiliki peluang untuk mengembangkan karir profesinalitasnya dengan baik. Kini di Asia Tenggara yang secara multilateral sudah disepakati oleh sepuluh pimpinan negara ASEAN, terhitung januari 2016 semua negara sudah memberlakukan free flow of service. Dengan demikian, tidak ada penghalang bagi segenap warga ASEAN untuk berkarir di semua negara ASEAN. Akan tetapi, bagaimana para alumni perguruan tinggi bisa masuk di pasar regional Asia Tenggara, jika tidak ada satu pun credential agency yang memberikan sertifikat validasi terhadap mutu proses dan outcome dari perguruan tingi tersebut. Dengan demikian, asesmen itu menjadi sangat penting untuk memberikan kesempatan bagi para alumni berkarir dengan keahliannya di berbagai negara di tingkat regional dan global.

         Sejalan dengan berbagai penjelasan tersebut, dan dalam rangka menuju universitas riset, ada lima fokus yang harus dipersiapkan setiap universitas, yakni:

  1. Mengubah mindset para tenaga akademik dari mengajar menjadi meneliti, sesuai dengan definisi dosen sebagai ilmuwan yang mengajar. Dosen harus memprioritaskan penelitian, baru kemudian mengajar, dan dosen yang baik adalah yang mengajarkan buku hasil penelitiannya, sehingga ilmu yang disampaikan sangat original.
  2. Mengubah sistem penugasan dosen dari prioritas tugas mengajar menjadi tugas meneliti. Pimpinan fakultas bisa mendiversifikasi para dosen, antara kelompok dosen yang fokus pada penelitian dengan memperkecil tugas pada pengajaran, dan dosen yang fokus pada pengajaran dengan memperbesar tugas mengajar. Dengan demikian, sistem penilaian kinerja dosen juga harus disesuaikan.
  3. Memperluas program-program kemitraan dengan pemerintah, pemerintah daerah atau dengan perusahaan-perusahaan swasta, dan mengubah paradigma penelitian dan pengabdian pada masyarakat yang dilakukan sebagai hasil prakarsa pimpinan unit untuk melakukan ekspansi kemitraan tersebut, dari pekerjaan sampingan menjadi pekerjaan pokok, dan dilaporkan pada universitas, sehingga pekerjaan tersebut menjadi pelaksanaan tugas wajib dosen dan dapat mengurangi beban mengajar.
  4. Untik mempermudah pelaksanaan tugas-tugas dosen dalam implementasi program kekaryaan mereka, khususnya dalam bidang penelitian, infrastruktur Teknologi Informasi harus disiapkan dengan baik. Teknologi Informasi (TI) merupakan sumber bahan informasi keilmuan, database hasil-hasil penelitian di dunia yang dapat diakses lewat repository perpustakaan, serta berbagai fasilitas komunikasi yang lebih efisien, terbuka dan akuntabel[5].
  5. Pembelajaran dengan dukungan teknologi informasi, semua bahan ajar, tugas-tugas dosen untuk mahasiswa, semua bisa disajikan dalam website, dan komunikasi antara dosen dengan mahasiswa sudah bisa dilakukan kapan saja, dan bahkan dosen dan mahasiswa sudah bisa melakukan proses pembelajaran dengan bantuan media TI melalui E-learning.

Wallahu a’lam bi al-Shawab

Daftar Bacaan

Bienenstock, Arthur, Characters of Research University, Stanford University, USA, t.th.

Casper, Gerhard, Advantage of Research-Intensive University, the University of the 21st century, a paper was presented at the Peking University Centennial Beijing, People’s Republic of China University, 1998.

Lombardi, John V.,  all., The Myth of Number One: Indicators of Research University Performance, the Center of University of Florida, USA, 2000,

Shaugnessy, Lynn O, is a Research University, dalam The College Solution, california University, California, USA, 2011.

Taufik, Muhammad,dan  Armiasto Adi Saputro, Mata Uang Tunggal Euro dan Implikasinya Terhadap Keuangan dan Bisnis Internasional, Makalah Seminar Sekolah Pascasarjana Manajemen dan Bisnis, IPB, Bogor, 2011.

[1]Muhammad Taufik dan  Armiasto Adi Saputro, Mata Uang Tunggal Euro dan Implikasinya Terhadap Keuangan dan Bisnis Internasional, Makalah Seminar Sekolah Pascasarjana Manajemen dan Bisnis, IPB, Bogor, 2011, h. 6.

[2]Lynn O Shaugnessy, What is a Research University, dalam The College Solution, california University, California, USA, 2011.

[3]Arthur Bienenstock, Essential Characters of Research University, Stanford University, USA, t.th. h. 2

[4]John V Lombardi, et all., The Myth of Number One: Indicators of Research University Performance, the Center of University of Florida, USA, 2000, h. 9

[5]Gerhard Casper, The Advantage of Research-Intensive University, the University of the 21st century, a paper was presented at the Peking University Centennial Beijing, People’s Republic of China University, 1998.

Share This