Rendah, Minat Akademisi Teliti Sektor Kehutanan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Aula Madya, BERITA UIN ONLINE Minat penelitian kalangan akademisi dan peneliti Indonesia terhadap sektor kehutanan nasional masih sangat rendah. Padahal, sektor kehutanan Indonesia memiliki jutaan kekayaan hayati yang bisa diteliti dibanding hutan di negara-negara lain. Ironisnya, penelitian sektor ini banyak dilakukan akademisi dan peneliti institusi asing.

Staff Khusus Menteri Kehutanan San Afri Awang mengungkapkan, dari total luas hutan yang dimiliki Indonesia, seluas 28.477.591 hektar merupakan hutan konservasi. Hutan ini tersebar di 495 unit kawasan konservasi berupa cagar alam, suaka margasatwa, taman nasional, taman wisata alam, taman hutan raya.

“Lahan kawasan hutan ini bisa dimanfaatkan untuk kegiatan riset genetik sektor kehutanan,” ujar Awang pada Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Kehutanan di Aula Madya UIN Jakarta, Rabu (20/6).

Sayangnya, lanjut Awang, kegiatan penelitian sektor kehutanan oleh kalangan akademisi dan peneliti lembaga-lembaga riset dan universitas di Indonesia sendiri masih sangat rendah. Padahal, jelasnya, para peneliti dan akademisi lembaga-lembaga riset dan perguruan tinggi asing sudah banyak melakukan kegiatan penelitian sektor kehutanan nasional.

Berdasar penelusuran BERITA UIN ONLINE, sejumlah lembaga riset asing sejak lama sudah melakukan riset di sektor kehutanan nasional. Salah satunya adalah La Rhecherche Agronomique Pour Le Developpment (Cirad) asal Perancis. Melalui CIRAD Wilayah Asia Tenggara, lembaga riset ini telah hadir di Indonesia sejak hampir 40 tahun lalu dengan meneliti sektor kehutanan yang ditujukan untuk proyek-proyek pertanian jangka panjang seperti kelapa sawit, kelapa, karet. Selanjutnya, penelitiannya berkembang ke sektor-sektor kehutanan dan pertanian-kehutanan (kopi, kakao) setelah berkerja sama dengan Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR).

Awang menuturkan, kalangan peneliti dan akademisi asing tersebut selanjutnya melakukan riset sumber daya genetik hayati (biodiversity) maupun enedemis (keunikan) hutan Indonesia yang sangat kaya dengan keragaman genetiknya. Mekanisme kegiatan penelitiannya sendiri tidak sedikit dilakukan dengan lembaga-lembaga penelitian swasta dan pemerintah di dalam negeri.

Namun dengan banyaknya kegiatan penelitian akademisi dan peneliti asing, justru Indonesia sangat rawan dengan aktivitas penjarahan gen. Hasil penelitian genetika yang mereka lakukan tidak jarang malah dipatenkan di negara asal mereka, mengabaikan kepentingan Indonesia sendiri dengan temuan riset tersebut.

“Mental kita juga cepat ijo kalau ketemu bule-bule. Digandeng sebagai mitra peneliti padahal hanya nentengin tasnya. Dibayar USD100 kita sudah seneng, padahal peneliti mereka dibayar USD 600. Apalagi, mereka temukan ribuan potensi genetik hutan kita yang kaya,” paparnya. (Zaenal M)