”Religion Makes Sufferings Sufferable”

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
 
HIDUP ini indah dan menggairahkan, tetapi sekaligus penuh jebakan dan kejutan tak terduga. Separah apa pun sakit seseorang, dia selalu ingin berdoa dan berusaha sehat agar lebih lama lagi menikmati kehidupan.

Ini bukti bahwa pilihan untuk bertahan hidup lebih kuat ketimbang mengakhirinya. Namun ada saja sekelompok orang yang tidak sanggup menghadapi jebakan,kejutan,dan beban hidup ketika tiba-tiba musibah menimpanya. Musibah itu bisa bersifat fisik berupa sakit parah, bisa juga berupa hancurnya reputasi sosial yang telah dibangun bertahun-tahun tiba–tiba terpeleset terkena skandal, yang membuatnya berantakan. Akhir-akhir ini yang sering mengemuka adalah skandal korupsi yang menyeret beberapa figur ternama masuk tahanan.

Saya pernahmembacakalimatdi atas,tapipersisnya lupa,entahdalam buku apa: religion makes sufferings sufferable. Bahwa agama mampu membuat penderitaan bisa tertahankan. Dengan kekuatan iman dan rasa kedekatan dengan Tuhan, seseorang yang tengah terkena musibah, sebesar apa pun,akan sanggup menanggungnya.Bagi penganut pahamMarxisme, ungkapandiatasakan ditanggapi secara sinis dan negatif, bahwa fungsi utama agama adalah bagaikan candu atau mariyuana yang bisameringankan beban penderitaan seseorang,tetapihanya sementara karena sifatnya manipulatif.

Meskipendapatdiatasadaunsur benarnya, bagi orang beragama kekuatan iman itu nyata dan campur tangan Tuhan diyakini kebenarannya. Bukan sekadar ilusi dan proyeksi psikologis. Iman bisa mendatangkan keajaiban. Minimal sekali ketika seseorang memperoleh cobaan hidup amat berat, ketika yang bersangkutan mengalami krisis kepercayaan kepada sesama manusia untukmengatasinya,makalarikepada Tuhan akan sangat membantu.Di hadapan Tuhan seseorang mengungkapkan seluruh beban hidupnya dan mohon campur tangan-Nya karena yakin bahwa Tuhanlah Sang Pemilik kehidupan dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Kebenaran ungkapan di atas pernah saya lihat dan dengar sendiri dari berbagai pengakuan orang yang oleh dokter telah divonis tak akan lama lagi hidupnya, tetapi ternyata vonis dokter tadi meleset. Pengakuan ini saya dengar langsung antara lain ketika saya diundang menjadi narasumber acara talk-show Kick Andy di Metro-TV. Acara itu menghadirkan pribadipribadi optimistis yang akhirnya menang mengubah vonis dokter dan sanggup melawan sakit yang tergolong berat di mana menurut dokter kematian hanya menghitung bulan datangnya.

Apa rahasia kekuatan mereka? Pertama,mereka menerima kenyataan bahwa dirinya sakit. Dengan sikap penerimaan ini seseorang secara psikologis tidak perlu melakukan perlawanan dan pengingkaran akan situasi dirinya. Seseorang rida dengan takdir yang menimpa dirinya.Bahwa sakit adalah bagian dan kenyataan hidup yang datang kepadanya.Kedua, mereka yakin dan optimistis bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya sebagaimana sabda Rasulullah.

Ketiga, meskipun ilmu kedokteran sudah mengalami kemajuan sangat pesat, mereka yakin capaian semua ilmu mesti memiliki batas. Dengan demikian, kita mesti menghargai ilmu kedokteran, tetapi vonis dokter tidak bersifat absolut dan final. Keempat, dukungan keluarga dan teman dekat yang mereka terima sangat berharga dan besar sekali pengaruhnya untuk selalu optimistis memandang masa depan dan memaknai hidup.Kelima,keluarga meyakinkan mereka bahwa kelanjutan hidup mereka sangat bermakna bagi orang lain.

Dukungan ini lalu menumbuhkan sikap percaya diri serta merasa dirinya berharga sehingga sanggup bertahan dengan sakitnya, bahkan berusaha untuk sehat kembali. Keenam,mereka memiliki niat dan tekad sangat mulia: jika sehat kembali akan berbagi pengalaman kepada temannya yang sakit dan putus asa, bahwa derita apa pun ada cara untuk mengatasi. Mereka menyampaikan pesan agar kita semua pandai-pandai mensyukuri kesehatan untuk banyak beramal kebajikan karena ketika sakit baru menyadari betapa mahalnya sehat.

Ketujuh, di samping usaha medis, mereka menempuh juga tambahan pengobatan alternatif lain selama tidak berbenturan dengan prinsip kesehatan dan agama.Kedelapan, meski sakit jangan sampai kehilangan rasa humor karena humor bisa mengurangi stres. Pandai-pandailah menertawakan kelucuan dalam hidup, termasuk menertawakan diri sendiri ketika menghadapi sakit. Kesembilan, mereka rajin berdoa secara tulus dan sungguh-sungguh, yakin bahwa Tuhan Sang Pemilik kehidupan Mahakuasa untuk menciptakan mukjizat, berkuasa menyembuhkan hamba-Nya yang sakit, betapapun beratnya vonis dokter.

Demikianlah, manusia itu sesungguhnya dihadapkan pada beragam penyakit. Hanya saja yang paling terasakan adalah penyakit fisik.Padahal adakalanya penyakit mental tak kalah berat dan bahayanya ketimbang penyakit fisik. Ada ungkapan, kadang manusia lulus ujian sehingga bisa bersabar dan lebih dekat kepada Tuhan ketika ditimpa musibah, tetapi gagal ujian ketika hidupnya senang dan berkelimpahan materi, pangkat, serta pujian.

Ketika sehat dan berjaya, tidak mudah menangkal penyakit sombong, lupa diri, kikir, seakan tidak lagi memerlukan Tuhan. Namun ketika musibah berat datang, baru terbangun tersadarkan dari mimpinya. Bagi orang beriman, di balik musibah apa pun yang terjadi pasti tersembunyi bingkisan kasih Tuhan.Yang sulit dan kita kurang sabar tentu saja bagaimana meyakini dan menemukan hikmah tadi sehingga musibah tadi tidak saja sebagai teman, melainkan juga sebagai guru dan panggilan untuk mendekat kepada Tuhan.

Di situlah judul di atas sangat tepat dan ungkapan yang lebih pas adalah: strong faith makes sufferings sufferable. Iman yang kokoh akan membuat seseorang tegar ketika diuji dengan penderitaan hidup. Tentu saja kita berdoa,semoga terhindar dari musibah yang tak tertanggungkan dan semoga tergolong menjadi hamba yang mampu bersyukur ketika kehidupan berlangsung nyaman, damai, dan membahagiakan.

Allah berfirman, kalau kita bersyukur, Dia akan menambah lagi nikmat dan kasih-Nya kepada kita. Namun, kalau tidak pandai bersyukur, apa pun yang kita miliki ujungnya malah akan menyengsarakan. (*)

”Religion Makes Sufferings Sufferable”

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
 
HIDUP ini indah dan menggairahkan, tetapi sekaligus penuh jebakan dan kejutan tak terduga. Separah apa pun sakit seseorang, dia selalu ingin berdoa dan berusaha sehat agar lebih lama lagi menikmati kehidupan.

Ini bukti bahwa pilihan untuk bertahan hidup lebih kuat ketimbang mengakhirinya. Namun ada saja sekelompok orang yang tidak sanggup menghadapi jebakan,kejutan,dan beban hidup ketika tiba-tiba musibah menimpanya. Musibah itu bisa bersifat fisik berupa sakit parah, bisa juga berupa hancurnya reputasi sosial yang telah dibangun bertahun-tahun tiba–tiba terpeleset terkena skandal, yang membuatnya berantakan. Akhir-akhir ini yang sering mengemuka adalah skandal korupsi yang menyeret beberapa figur ternama masuk tahanan.

Saya pernahmembacakalimatdi atas,tapipersisnya lupa,entahdalam buku apa: religion makes sufferings sufferable. Bahwa agama mampu membuat penderitaan bisa tertahankan. Dengan kekuatan iman dan rasa kedekatan dengan Tuhan, seseorang yang tengah terkena musibah, sebesar apa pun,akan sanggup menanggungnya.Bagi penganut pahamMarxisme, ungkapandiatasakan ditanggapi secara sinis dan negatif, bahwa fungsi utama agama adalah bagaikan candu atau mariyuana yang bisameringankan beban penderitaan seseorang,tetapihanya sementara karena sifatnya manipulatif.

Meskipendapatdiatasadaunsur benarnya, bagi orang beragama kekuatan iman itu nyata dan campur tangan Tuhan diyakini kebenarannya. Bukan sekadar ilusi dan proyeksi psikologis. Iman bisa mendatangkan keajaiban. Minimal sekali ketika seseorang memperoleh cobaan hidup amat berat, ketika yang bersangkutan mengalami krisis kepercayaan kepada sesama manusia untukmengatasinya,makalarikepada Tuhan akan sangat membantu.Di hadapan Tuhan seseorang mengungkapkan seluruh beban hidupnya dan mohon campur tangan-Nya karena yakin bahwa Tuhanlah Sang Pemilik kehidupan dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Kebenaran ungkapan di atas pernah saya lihat dan dengar sendiri dari berbagai pengakuan orang yang oleh dokter telah divonis tak akan lama lagi hidupnya, tetapi ternyata vonis dokter tadi meleset. Pengakuan ini saya dengar langsung antara lain ketika saya diundang menjadi narasumber acara talk-show Kick Andy di Metro-TV. Acara itu menghadirkan pribadipribadi optimistis yang akhirnya menang mengubah vonis dokter dan sanggup melawan sakit yang tergolong berat di mana menurut dokter kematian hanya menghitung bulan datangnya.

Apa rahasia kekuatan mereka? Pertama,mereka menerima kenyataan bahwa dirinya sakit. Dengan sikap penerimaan ini seseorang secara psikologis tidak perlu melakukan perlawanan dan pengingkaran akan situasi dirinya. Seseorang rida dengan takdir yang menimpa dirinya.Bahwa sakit adalah bagian dan kenyataan hidup yang datang kepadanya.Kedua, mereka yakin dan optimistis bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya sebagaimana sabda Rasulullah.

Ketiga, meskipun ilmu kedokteran sudah mengalami kemajuan sangat pesat, mereka yakin capaian semua ilmu mesti memiliki batas. Dengan demikian, kita mesti menghargai ilmu kedokteran, tetapi vonis dokter tidak bersifat absolut dan final. Keempat, dukungan keluarga dan teman dekat yang mereka terima sangat berharga dan besar sekali pengaruhnya untuk selalu optimistis memandang masa depan dan memaknai hidup.Kelima,keluarga meyakinkan mereka bahwa kelanjutan hidup mereka sangat bermakna bagi orang lain.

Dukungan ini lalu menumbuhkan sikap percaya diri serta merasa dirinya berharga sehingga sanggup bertahan dengan sakitnya, bahkan berusaha untuk sehat kembali. Keenam,mereka memiliki niat dan tekad sangat mulia: jika sehat kembali akan berbagi pengalaman kepada temannya yang sakit dan putus asa, bahwa derita apa pun ada cara untuk mengatasi. Mereka menyampaikan pesan agar kita semua pandai-pandai mensyukuri kesehatan untuk banyak beramal kebajikan karena ketika sakit baru menyadari betapa mahalnya sehat.

Ketujuh, di samping usaha medis, mereka menempuh juga tambahan pengobatan alternatif lain selama tidak berbenturan dengan prinsip kesehatan dan agama.Kedelapan, meski sakit jangan sampai kehilangan rasa humor karena humor bisa mengurangi stres. Pandai-pandailah menertawakan kelucuan dalam hidup, termasuk menertawakan diri sendiri ketika menghadapi sakit. Kesembilan, mereka rajin berdoa secara tulus dan sungguh-sungguh, yakin bahwa Tuhan Sang Pemilik kehidupan Mahakuasa untuk menciptakan mukjizat, berkuasa menyembuhkan hamba-Nya yang sakit, betapapun beratnya vonis dokter.

Demikianlah, manusia itu sesungguhnya dihadapkan pada beragam penyakit. Hanya saja yang paling terasakan adalah penyakit fisik.Padahal adakalanya penyakit mental tak kalah berat dan bahayanya ketimbang penyakit fisik. Ada ungkapan, kadang manusia lulus ujian sehingga bisa bersabar dan lebih dekat kepada Tuhan ketika ditimpa musibah, tetapi gagal ujian ketika hidupnya senang dan berkelimpahan materi, pangkat, serta pujian.

Ketika sehat dan berjaya, tidak mudah menangkal penyakit sombong, lupa diri, kikir, seakan tidak lagi memerlukan Tuhan. Namun ketika musibah berat datang, baru terbangun tersadarkan dari mimpinya. Bagi orang beriman, di balik musibah apa pun yang terjadi pasti tersembunyi bingkisan kasih Tuhan.Yang sulit dan kita kurang sabar tentu saja bagaimana meyakini dan menemukan hikmah tadi sehingga musibah tadi tidak saja sebagai teman, melainkan juga sebagai guru dan panggilan untuk mendekat kepada Tuhan.

Di situlah judul di atas sangat tepat dan ungkapan yang lebih pas adalah: strong faith makes sufferings sufferable. Iman yang kokoh akan membuat seseorang tegar ketika diuji dengan penderitaan hidup. Tentu saja kita berdoa,semoga terhindar dari musibah yang tak tertanggungkan dan semoga tergolong menjadi hamba yang mampu bersyukur ketika kehidupan berlangsung nyaman, damai, dan membahagiakan.

Allah berfirman, kalau kita bersyukur, Dia akan menambah lagi nikmat dan kasih-Nya kepada kita. Namun, kalau tidak pandai bersyukur, apa pun yang kita miliki ujungnya malah akan menyengsarakan. (*)