Relawan Mahasiswa pun “Turun Gunung”

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Matahari di langit Pondok Pesantren Pabelan, Magelang, Jawa Tengah, Minggu, 14 Nopember 2010, belum juga menampakkan diri. Padahal hari sudah beranjak siang saat para mahasiswa UIN Jakarta, yang menjadi relawan korban Merapi, mulai beraktivitas.

Cuaca mendung dan halaman pesantren yang masih diliputi debu tebal Merapi pagi itu tak mengurangi para mahasiswa UIN Jakarta yang menjadi relawan di lokasi itu berhenti beraktivitas. Mereka justru cukup sigap dan setia melayani para pengungsi yang membutuhkan bantuan.

Para mahasiswa yang “turun gunung” membantu korban Merapi berasal dari delapan unit kegiatan mahasiswa (UKM), yakni Pramuka, Ranita, Arkadia, Teater Syahid, RIAK, Korps Sukarela Palang Merah Indonesia (KSR PMI), Institut, dan Komunitas Mahasiswa Fotografi Kalacitra. Sementara jumlah mahasiswa yang diterjunkan seluruhnya mencapai 20 orang, terdiri atas Pramuka sebanyak dua orang, Ranita (10 orang), Teater Syahid (dua orang), Kalacitra (satu orang), RIAK (satu orang), Arkadia (dua orang), KSR PMI (satu orang), dan Institut (satu orang).

Sejak pagi hingga malam, para mahasiswa setia mendampingi para pengungsi. Mereka melayani, mulai dari menyiapkan makanan hingga menghibur anak-anak yang menjadi korban.

Di Pondok Pesantren Pabelan, jumlah pengungsi akibat erupsi Merapi mencapai sekitar 500 orang, sebagian besar adalah anak-anak dan wanita. Mereka berasal dari berbagai kawasan lereng Merapi di sekitar Kabupaten Magelang. Para korban tersebut ditempatkan di ruang-ruang kelas sekolah yang beralaskan karpet seadanya.

Tak hanya pengungsi lereng Merapi, kawasan pesantren yang didirikan KH Hamam Dja’far pada 1965 itu pun ikut menjadi korban. Sejumlah pohon tumbang, atap-atap gedung memutih, dan halaman diliputi debu setebal setinggi lima sentimeter. Padahal, jarak antara pesantren dengan puncak Merapi itu sendiri berada pada radius sekitar 30 kilometer.

“Jika turun hujan, debu itu mengeras sehingga sulit dibersihkan,” ujar salah seorang relawan yang sudah lima hari berada di pesantren.

Bantuan kemanusiaan mahasiswa UIN Jakarta terhadap para korban Merapi sebenarnya tak hanya berada di Pondok Pesantren Pabelan. Sebagian dari mereka ditempatkan di beberapa titik lokasi pengungsian lain, seperti kampus UIN Yogyakarta, Selo (Boyolali), serta Salam dan Muntilan di Magelang.

“Tim relawan mahasiswa disebar sesuai tingkat kebutuhan posko bencana lokal,” kata Rakhmat Baihaqie, koordinator relawan yang juga Ketua Ranita.

Menurut dia, penerjunan relawan mahasiswa tidak dengan sendirinya menangani para pengungsi secara langsung, melainkan lebih diperbantukan kepada sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) maupun lembaga pemerintah di posko-posko tertentu. Di kampus UIN Yogyakarta misalnya, para relawan bahu membahu bersama tim bantuan bencana setempat. Para pengungsi di kampus tersebut jumlahnya mencapai 400 orang. Mereka ditempatkan di ruang serbaguna atau auditorium. Sementara di Selo, Boyolali, para relawan bergabung dengan tim Sahabat Merah Putih, relawan lokal yang berpusat di Jawa Timur, serta tim Radio Mustang dari Jakarta.

“Hampir setiap hari, secara bergilir kami mengunjungi para pengungsi yang ditempatkan di permukiman warga di Selo. Kami membantu mereka sesuai kemampuan. Bahkan, untuk menghibur anak-anak korban Merapi, kami menggelar Jambore Anak Merapi yang diisi dengan berbagai kegiatan menarik dan menghibur,” ungkap Ade Darmawan, relawan yang juga Ketua Dewan Racana Pandega Gerakan Pramuka UIN Jakarta.

“Melihat nasib para pengungsi di barak-barak, kami benar-benar sedih,” lanjutnya. (Nanang Syaikhu)