Rektor UIN Jakarta Menyampaikan Kultum Di Istana Wakil Presiden

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

DSC_0338Istana Wakil Presiden, Berita UIN Online- Wakil Presiden Jusuf Kalla menggelar buka puasa bersama Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di rumah dinas Wakil Presiden, Rabu (8/7/15). Dalam acara ini hadir Menteri Tata Ruang dan Agraria Ferry Mursyidan Baldan, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Andrinof Chaniago, Ketua KPU Husni Kamil Manik, Ketua Bawaslu Muhammad, Mantan ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, Wakil Menteri Luar Negeri M Fachir dan politisi Senior Partai Golkar Akbar Tanjung.

Acara buka puasa diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh Ustazd Saputra, sambutan presidium KAHMI Nasional Mahfud MD, sambutan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan kultum oleh Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Dr Dede Rosyada MA.

Makna Khairu Ummah

Dalam kesempatan ini, Rektor mengajak mustami’e (hadirin) untuk merenung dan mencoba memaknai lebih dalam tentang kalimat yang menjadi tajuk di kesempatan itu, yaitu  “Siapakah yang termasuk dalam Khoiru Ummah?”

Ia menjelaskan, beberapa tafsir memberikan arti Khoiru Ummah adalah mereka para Salafu al-Sholih, dalam kitab al-Manar diartikan, khairu ummah merupakan orang-orang yang ikut hijrah bersama Nabi. Namun dalam tafsir Nusantara yang ditulis oleh Qurays Shihab mengatakan, dengan menggunakan Fi’il madi maka “kuntum” bermakna yang akan terjadi. Sebagaimana dalam Al-Quran surat ar-Rum. Ayat ‘Gulibati ruum’ menunjukkan atas kemenangan terhadap Romawi, yang terjadi setelah tujuh Abad berikutnya.

Menurut Dede, jawaban atas ayat diatas adalah ayat yang menerangkan tentang posisi orang beriman dan intelektual muslim akan diangkat derajatnya oleh Allah SWT. Kita sebagai intelektual Muslim terlalu bangga dengan buku-buku dari barat dan justru sedikit membaca literatur dari Timur.

“Sebagai intelektual Muslim, sudah berapa ilmu kita yang dipatenkan? Ini harus kita renungi”, ujarnya.

Dede menambahkan, jika kita ingin menjadi sebaik-baiknya umat, maka kita harus bangga ketika dikelas dalam memberikan pelajaran kita menggunakan ilmu kita, bukan ilmu orang lain, kita harus menjadi developer of knowledge bukan selalu menjadi follower.

“Kita harus menunjukkan keilmuan Nusantara sehingga bisa disebut sebagai sebaik-baiknya ummat”, tandasnya. (Tutur A Mustofa/ Luthfy R Fikri)