Rektor UIN Jakarta Prof Dr Dede Rosyada saat memberi sambutan pada pembukaan musabaqah tilawatil Qur’an (MTQ) dan musabaqah hifdhil Qur’an (MHQ) antarperguruan tinggi se-Jabodetabek di Ruang Diorama, Senin (12/6/2017). (Foto: Hermanuddin)

Ruang Diorama,  BERITA UIN Online – Sebagai sebuah kampus negeri, UIN Jakarta akan terus mengembangkan diri sebagai kampus Islam yang berciri modern. Salah satu ciri Islam modern adalah terbukanya sikap dan pemikiran terhadap perbedaan serta keragaman, baik suku, agama, dan budaya.

Menurut Rektor Prof Dr Dede Rosyada, UIN Jakarta sejak lama telah menandaskan diri sebagai kampus Islam modern.  Karena itu dalam kajian dan pemikiran yang dikembangkan di kampus UIN Jakarta adalah  memodernisasi kehidupan umat Islam, sehingga mereka menjadi Muslim yang toleran, inklusif, dan menghargai setiap perbedaan.

“Kampus UIN Jakarta tak hanya milik umat Islam tapi milik bangsa. Karena itu yang kuliah di kampus ini ada mahasiswa Kristen, Katholik, dan Konghucu. Bahkan ada seorang romo atau pastur Katholik yang berhasil menjadi sarjana doktor,” kata Rektor saat memberi sambutan pada pembukaan musabaqah tilawatil Qur’an (MTQ) dan musabaqah hifdhil Qur’an (MHQ) antarperguruan tinggi se-Jabodetabek di Ruang Diorama, Senin (12/6/2017). MTQ/MHQ digelar atas kerja sama Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi dengan Komando Armada Kawasan Barat (Koarmabar) TNI Angkatan Laut.

Menurut Rektor, UIN Jakarta ingin menjadi kampus yang terus mengembangkan diri sebagai Islam modern, yaitu Islam yang rahmatan lila’alamin dan menghargai perbedaan. Berpikir modern tentang Islam adalah bagaimana berpikir tentang Islam untuk hari ini sekaligus Islam untuk yang akan datang.

“Jadi, kita sekali lagi ingin bagaimana kehidupan umat Islam selalu menampilkan wajah yang inklusif dan toleran serta menghargai pluralisme,” ujarnya.

Selain itu, Rektor juga menyinggung tentang adanya sekelompok masyarakat yang ingin menegakkan konsep khilafah dalam kehidupan berbegara. Ia mengatakan bahwa apa yang selama ini menjadi viral di berbagai media tentang pendirian khilafah, di kampus UIN Jakarta justru tidak lagi bergema dan telah dianggap selesai.

“Kalaupun misalnya ada, itu hanya terbatas pada kajian akademik saja. Khilafah ini sudah selesai,” sebutnya.

Rektor lebih jauh menandaskan bahwa memodernisasi umat Islam bukan harus dengan mendirikan khilafah. Sebab, jika kembali kepada khilafah sama artinya dengan kembali kepada sejarah kelam monarki Islam masa silam. Monarki, kata Rektor, jelas sangat berlawanan dengan demokrasi.

Ditegaskan, Islam Indonesia saat ini sedang menikmati demokratisasi karena Islam sangat berdekatan dengan demokrasi. Demokrasi Indonesia, jelasnya, adalah demokrasi yang berbasis agama, bukan budaya. Demikian pula agama Islam bukanlah sebagai warisan budaya tetapi sebagai ajaran, sedangkan khilafah adalah budaya.

“Karena itu monarki Turki Usmani bukan demokrasi sehingga bertentangan dengan Kemal Pasha Ataturk,” tamsilnya. (ns)

Share This