Rektor UIN Jakarta: Inovasi dan Kreativitas Pilar Kemajuan Negara

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

BERITA UIN Online – Negara bisa maju dengan kekuatan inovasi dan kreativitas. Kekuatan inovasi dan kreativitas itu bisa dijadikan pilar penyangga Indonesia agar bisa dibangun dengan dorongan knowledge based economy.

Untuk itu, penelitian di perguruan tinggi menjadi sangat signifikan dan perlu digalakkan sebagai upaya membangun tradisi riset di perguruan tinggi. Dan tentu saja penelitian ini akan menghasilan hak paten bagi para peneliti.

Ada tiga hal tujun penelitian di perguruan tinggi. Tiga hal tujuan tersebut melingkupi penguatan bidang ilmu, inovasi dan new discovery, inovasi dan new technology (paten).

Pikiran di atas mengemuka dari Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Prof Dr Dede Rosyada, MA ketika menjadi narasumber dalam acara Diklat Teknis Substantif Keagamaan Angkatan III untuk untuk Peneliti/Dosen di Kampus Pusdiklat, Ciputat, Selasa (2/7). Dengan makalah bertajuk ‘Sinergi Penelitian Badan Litbang dan Universitas”, Dede mengurai berbagai manfaat penelitian di perguruan tinggi.

Bagi Dede, penelitian di perguruan tinggi ini dijamin sangat independen dan bisa untuk new discovery, evaluasi atau analisis kebijakan baru atas permintaan pemerintah pusat atau pemerintah daerah.

“Penelitian di perguruan tinggi didedikasi untuk ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan penelitian ini diinisiasi oleh ilmuwan dan atas kemauan para ilmuwan,” tegas Dede Rosyada di depan para peneliti dan dosen seluruh Indonesia.

Dede berharap para peneliti dan dosen di perguruan tinggi di bawah payung Kemenag RI, meluangkan waktunya untuk melakukan penelitian sebagai bentuk sikap inovatif dan kreatif.

Ada beberapa kemungkinan penelitian yang bisa disinergikan dengan penelitian perguruan tinggi negeri. Sinergi itu meliputi sharing sumber daya manusia, sharing program dan kolaborasi antara dosen dan peneliti litbang, dengan tema yang sesuai untuk kepentingan kedua institusi.

“Bisa saja pihak Puslitbang Kehidupan Keagaman bersinergi dengan para Guru Besar yang ada di Fakutltas Ushuludin atau Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi,” ujar Dede.

Kerja sama antara Puslitbang Kehidupan Keagaman dan Fakultas Ushuludin dan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, lanjut Dede, itu seperti evaluasi kebijakan tentang kerukunan, pengembangan model unity in diversity atau bagaimana melahirkan teknologi dakwah atau instrument yang bisa digunakan untuk mengembangkan komunikasi yang efektif dalam pembinaan keagamaan.