Rektor: UIN Jakarta Berkontribusi untuk Kemajuan Islam di Indonesia

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
Kuliah Kebangsaan

Rektor UIN Jakarta Prof Dr Dede Rosyada MA menyampaikan pidato dalam Kuliah Kebangsaan yang dihadiri Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo sebagai narasumbernya di Auditorium Harun Nasution, Selasa (29/11/2016)

Auditorium Harun Nasution, Berita UIN Online– Rektor UIN Jakarta Prof Dr Dede Rosyada MA berkesempatan menyampaikan pidatonya pada acara Kuliah Kebangsaan dengan tema Menguatkan Kebhinekaan untuk Indonesia Maju dan Berkeadaban pada Selasa (29/11/2016) di Auditorium Harun Nasution.

Dalam acara yang menghadirkan Jenderal TNI Gatot Nurmantyo sebagai narasumber utama tersebut, Dede menjabarkan sejumlah pemikiran tanggung jawab UIN Jakarta dalam mendorong kebhinekaan, toleransi dan kemajuan Islam di Indonesia. Berikut pemaparannya:

Sebagai sebuah bangsa yang dikenal dengan Bangsa Muslim terbesar di dunia, Indonesia bisa dikatakan selalu menghadapi tantangan-tantangan sosial, politik dan keagamaan yang mudah. Selalu saja terjadi ketegangan antara kelompok etnis, keagamaan yang mengemuka, khususnya jika masalah-masalah politik seperti Pilkada sekarang ini sedang berlangsung. Tapi ketegangan seperti itu tidak pernah terjadi secara berlarut-larut seperti di Afganistan, Syria, Mesir atau bahkan Irak. Dalam Index Bank Dunia, negara-negara yang saya sebutkan tadi saat ini masuk masuk ke dalam nagara yang mengandung resiko perpecahan, bahkan kegagalan (failed states).

Kita mungkin masih ingat, awal tahun 2000an konflik antar etnis dan agama meletus di sejumlah kota. Serangan bom juga sempat dilancarkan kelompok Muslim militan yang terkait dengan jaringan internasional, khususnya al-Qaeda. Namun kerja keras ulama, pemerintah dan pemimpin Muslim mampu menangani masalah-masalah tersebut dalam waktu yang tidak terlalu lama. Bangsa ini kembali mendapatkan stabilitas politik untuk dapat menjalankan pembangunan seperti periode-periode sebelumnya.

Menurut hemat saya, pilar penting yang menopang keutuhan Inndonesia adalah bahwa Islam Indonesia selama ini selalu berjalan selaras dengan derap kebhinekaan, toleransi antar agama, dan berorientasi pada kemajuan.Dalam konteks ini, kita semua juga menyadari bahwa peran lembaga pendidikan tinggi Islam seperti UIN untuk tampil menjadi wadah dalam mempererat kesatuan bangsa secara keseluruhan, juga tidak bisa diabaikan.

Berbagai segmen masyarakat yang telah dihasilkan dari proses pendidikan di UIN, termasuk di dalamnya adalah ulama, intelektual, akademisi, dan para politisi Muslim-untuk menyebutkan salah satu politisi nasional terkemuka, Ade Komarudin atau yang dikenal Akom- adalah alumni UIN. Mereka senantiasa berusaha mengembangkan pemahaman dan praktik Islam yang mendorong pada kemjuan bangsa. Wujudnya, lembaga pendidikan UIN terus bekerja dengan sungguh-sungguh menjaga pluralitas, toleransi dan menuju kamajuan (modernity).

Kerja keras itu tidak hanya didedikasikan untuk kelompok Muslim, tetapi juga bagi seluruh bangsa Indonesia. Dalam konteks ini, beberapa waktu yang lalu, UIN Jakarta memperoleh pengakuan internasional dari sebuah lembaga Index Sosial Keagamaan di Asia Tenggara yang menempatkan UIN Jakarta sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam yang berhasil menyemaikan Islam moderat dan progresif. Dua aspek inilah yang mendorong Islam Indonesia jauh berbeda dari ajaran dan nilai-nilai Islam yang berkembang di negara-negara lain, khususnya Timur Tengah.

Kemajuan Indonesia dapat dilihat melalui berbagai indikator pembangunan. Sejak 1970an, negara ini terus mengalami pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil. Terjadi interupsi pada akhir 1990 sampai awal 2000, tetapi berhasil kembali positif seperti dekade sebelumnya. Wajar jika kualitas hidup warganya juga mengalami peningkatan, dari mayoritas tidak mendapat pendidikan sampai bisa memperoleh pendidikan dasar universal. Mulai dari harapan hidup 50 tahun menjadi hampir 70 tahun; dan mulai dari pendapatan per kapita 500 dolar menjadi lebih dari 3.000 dolar per tahun. Fenomena perkembangan seperti ini jarang ditemukan di negara Muslim lain, dimana proses pembangunan berjalan secara berkesinambungan.

Dewasa ini, Indonesia dipandang sebagai salah satu -bukan satu-satunya- model demokrasi di Dunia Islam. Faktanya, Indonesia merupakan negara demokratis terbesar di Asia Tenggara, dan juga negara Muslim demokratis terbesar di dunia. Pengalaman berdemokrasi yang berlangsung secara berkelanjutan sejak 1998, menjadikan Indonesia referensi dalam melihat kompatibilitas Islam dan demokrasi. Prestasi yang dicapai Indonesia juga turut memperkuat aspek-aspek demokrasi dalam struktur ASEAN. Bahkan melalui Bali Democracy Forum (BDF) yang disponsori Indonesia, tema demokrasi menjadi topik kajian yang dibahas oleh banyak negara lain, khususnya yang belum atau sedang mengalami transisi menuju sistem politik yang lebih terbuka.

Prestasi ini patut kita catat terus, dan tentu saja perlu dipertahankan. Dalam konteks meneguhkan peran UIN Jakarta dalam mendorong terwujudnya kebhinekaan, toleransi dan meraih kemajuan inilah, dialog-dialog kebangsaan semacam ini perlu kita lakukan. Karena itu, di hari ini, saya mengajak sivitas akademik UIN Jakarta bersama Panglima TNI mengadakan Dialog Kebangsaan dalam rangka menjunjung tinggi prinsip-prinsip kemajemukan, keterbukaan, toleransi. Harapannya adalah terus berupaya mendorong Islam Indonesia merupakan potret Islam rahmatan lil alamin (rahmat untuk seluruh alam semesta).

Acara yang dihadiri ribuan mahasiswa dan sejumlah pejabat dan Guru Besar UIN Jakarta tersebut, dihadiri pula oleh Sekretaris Daerah Tangerang Selatan Drs H Muhammad MSi dan pendamping Gatot Asisten Operasi Panglima TNI Mayjen TNI Agung Risdhianto, Asisten Logistik Panglima TNI Marsda TNI Nugroho Prang Sumadi, Asisten Teritorial Panglima TNI Mayjen TNI Wiyarto, Danpom TNI Mayjen TNI Dodik Wijanarko dan Kapuspen TNI Mayjen TNI Wuryanto. (mf)