Rektor: UIN Jakara Akan Buka Studi Kawasan Timur Jauh

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Ruang Diorama, BERITA UIN Online – Rektor Prof Dr Komaruddin Hidayat menyatakan, untuk lebih membuka wawasan tentang studi kawasan, UIN Jakarta akan segera membuka pusat kajian Timur jauh, seperti China, Jepang, dan Korea. Hal itu mengingat dari sisi geografis Indonesia cukup dekat namun masih sedikit perhatian dan pemahaman tentang budaya dan agama bangsa-bangsa tersebut.

Hal itu dikakatannya saat peluncuran buku Islam Damai di Negeri Asia Tmur Jauh: Meneropong Penyebaran dan Dinamika Islam di Korea karya Dr Ali An Sun Geun di Ruang Diorama, Rabu (30/3). Turut hadir dalam acara tersebut antara lain Wakil Duta Besar Korea untuk Indonesia Lee Dong Kwan, politisi Partai Golkar Ade Komaruddin Muhammad, politisi Partai Demokrat Imran Muchtar Alifia, dan Presiden Direktur Eco Frontier Korea JP Jaepil Song.

Menurut Rektor, secara kultural-intelektual dunia kampus di Indonesia lebih dekat dengan tradisi Barat dan Timur Tengah. Padahal, kerja sama ekonomi dengan China, Korea, dan Jepang semakin naik indeksnya. “Karena itu mendesak bagi UIN Jakarta memiliki Pusat Studi Budaya Timur yang serius, terutama China, Jepang, dan Korea dengan pendekatan kultural-ilmiah,” paparnya.

Buku mengenai Islam di Korea karya Ali An Sun Geun, kata Rektor, sangat penting dan bermanfaat. Apa yang ditulis dalam buku pria asal Korea yang kini menjadi warga negara Indonesia itu dapat dikatakan sebagai jendela informasi mengenai perkembangan Islam di Korea.

“Ali (Ali An Sun Geun) merupakan salah satu juru bicara Indonesia tentang Islam bagi pemerintah dan masyarakat Korea Selatan. Begitu pun sebaliknya, bagi Indonesia Ali merupakan narasumber terdekat untuk mengetahui perkembangan Islam di Korea Selatan,” jelas Rektor.

Sementara itu, Ali An Sun Geun mengungkapkan, Islam masuk ke Semananjung Korea dimulai pada abad ke-9 atau semasa Kerajaan Shilla (668-936 M) oleh para pedagang dari Arab dan Parsi melalui proses akulturasi. Perkembangan penduduk Muslim di Korea terus meningkat, terutama setelah Perang Korea tahun 1950-1953.

“Hingga kini penduduk asli Muslim Korea mencapai tak lebih 40.000 orang. Mereka terkonsentrasi di Kota Seoul, ibu kota Korea Selatan,” katanya.

Ali An Sun Geun kini bergiat di bidang dakwah Islam, baik untuk kalangan masyarakat Korea maupun para pengusaha asal Korea di Indonesia. Ia masuk Islam tahun 1979 dari agama sebelumnya, Budha. Ali masuk Islam setelah mendengar alunan suara adzan dari sebuah mushala di dekat rumahnya, di Distrik Kwang Ju, sekitar 45 kilometer dari Kota Seoul.

“Saya tertarik Islam karena agama tersebut mengajarkan monoteisme dan bersifat universal,” ujar pria bermata sipit ini.

Tahun 1984, Ali pergi ke Indonesia untuk menimba ilmu di IAIN Jakarta Fakultas Ushuluddin Jurusan Dakwah. Setelah tamat tahun 1989, ia melanjutkan program S2 di Universitas Indonesia pada bidang Antropologi Agama (1994). Kemudian ia megambil program Doktor bidang Kajian Islam di UIN Jakarta hingga tamat tahun 2010. (ns)