Bandung, BERITA UIN Online— UIN Jakarta menegaskan komitmennya mengejar rekognisi dunia menjadi 50 besar perguruan tinggi terkemuka di Asia Tenggara pada tahun 2021 mendatang. Hibah penelitian, publikasi di jurnal terindeks, kemitraan riset, guru besar tamu, dan kehadiran mahasiswa asing belajar di UIN Jakarta menjadi program kunci dalam mencapai rekognisi dunia.

Demikian disampaikan Rektor Prof. Dr. Dede Rosyada MA saat menutup Rapat Kerja Pimpinan UIN Jakarta, di Hotel el Royale, Bandung, Selasa (23/1/2018). Menurutnya, Rencana Strategis (Renstra) UIN Jakarta yang telah disepakati Pimpinan Senat dan Rektorat sebelumnya telah memasang target pencapaian UIN Jakarta sebagai 50 besar universitas terkemuka ASEAN

“Maka kita harus bekerja keras melakukan transforming into world class university, meng-encourage diri mencapai apa yang kita cita-citakan. Tak masalah jika ada yang men-discourage karena mungkin hanya kurang informasi tentang apa yang ingin dicapai UIN Jakarta,” paparnya.

Apa yang dilakukan UIN Jakarta, Rektor menandaskan, sudah sesuai dengan tahapan-tahapan yang dibutuhkan dalam meneguhkan posisi sebagai universitas kelas dunia. “Karena kita juga, misalnya, selalu menyesuaikan rules yang ditetapkan Kementerian Ristek Dikti,” ungkapnya.

Terkait itu, Rektor melanjutkan, UIN Jakarta berkomitmen untuk tidak mengurangi pemanfaatan hibah Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) untuk pembiayaan riset kalangan dosen-peneliti. Bahkan jika pendanaan dari BOPTN tidak memadai, UIN Jakarta siap mengalokasikan pembiayaan dari sektor Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Diakui Rektor, UIN Jakarta tahun ini mengalami penurunan alokasi BOPTN hingga 52% dibanding tahun lalu. Penurunan terjadi menyusul perubahan perhitungan aloksi BOPTN dengan hanya memperhitungkan rasio jumlah mahasiswa, dari sebelumnya memperhitungan jumlah profesor, doktor, sitasi, riset, prestasi akademik, termasuk jumlah mahasiswa sendiri. “Makanya kita turun 52%. Tapi saya ingin menegaskan, pendanaan penelitian tidak boleh turun. Jika Rp 15 miliar, pertahankan. Jika kurang, pertahankan dari PNBP. Sehingga kegiatan riset tetap eksis dan maju,” tandasnya.

Sejalan dengan itu, Rektor juga meminta agar kegiatan riset makin ditekuni oleh para dosen UIN Jakarta dengan memanfaatkan skema yang telah ditawarkan seperti visiting professor dan research collaborative dengan dosen-peneliti mitra dari berbagai perguruan tinggi terkemuka dunia. Hasilnya, selain dipublikasi melalui jurnal terindeks, Rektor meminta dosen-peneliti mulai mengarahkan orientasi hasil risetnya menjadi hak paten.

Selain itu, sambungnya, UIN Jakarta juga berkomitmen mendatangkan para mahasiswa asing untuk belajar di UIN Jakarta. Terkait ini, Rektor meminta masing-masing fakultas menyiapkan kelas khusus bagi mahasiswa asing yang ingin belajar di UIN Jakarta.

Lainnya, rektor menambahkan, UIN Jakarta juga akan selalu bekerja keras memasuki peringkat tertinggi dalam pemeringkatan lembaga-lembaga pemeringkat dunia. Terakhir misalnya, UIN Jakarta telah mendaftar untuk di-ranking oleh QS World University Rankings. “Mudah-mudahan apa yang kita cita-citakan bisa terealisasi dengan baik,” pungkasnya. (farah nh/yuni nk/zm)