Rektor: Tanpa Jiwa Rabbani, Manusia Tersesat

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Mesjid Al-Jamiah, BERITA UIN OnlineRektor UIN Jakarta  Prof Dr Komaruddin Hidayat mengatakan, puasa merupakan upaya Allah untuk melatih manusia menumbuhkembangkan jiwa rabbaninya. Jiwa rabbani hanya dimiliki manusia. Sementara jiwa nabati (vegetatif soul), jiwa hewani (animnal soul), dan jiwa insani (human soul) juga dimiliki makhluk lain, termasuk manusia.

Jiwa rabbani, jelas Guru Besar Filsafat Barat itu, sumbernya adalah roh Ilahi yang ditiupkan, bukan diciptakan, oleh Allah ke dalam tubuh manusia. Demikian pula halnya jiwa-jiwa yang lain.

“Tanpa bimbingan jiwa rabbani sesungguhnya jiwa insani memiliki kelemahan yang fatal. Makanya Allah mengirimkan para rasul dan kitab suci sepanjang sejarah manusia. Para rasul dan kitab suci itu sebagai peringatan, panduan,dan konsultan untuk meraih tahapan hidup yang lebih tinggi,lebih bermakna, dan lebih terarah,” ujar Rektor dalam tausiyahnya pada acara “Buka Bersama” sivitas akademik UIN Jakarta di Mesjid Al-Jamiah, Senin (6/8).

Ditegaskannya, hanya jiwa rabbani saja yang kekal ketika manusia meninggal dunia. Sementara jiwa yang lain mati bersamaan ketika ajal maut datang. Dengan begitu, manusia dapat melanjutkan perjalanan hidupnya di akherat kelak dengan selamat.

Menurutnya, dalam Alquran banyak ayat yang menegaskan, bahwa jiwa insani manusia cenderung kepada hal-hal yang negatif.  Di dalam Alquran (QS 32: 7,8,9) disebutkan, manusia diciptakan berasal dari tanah, lalu Allah menjadikan proses keturunannya dari air mani dan yang lebih hebat lagi, disempurnakanlah dengan ditiupkan roh-Nya ke dalam diri manusia.

“Misalnya Alquran menyebutkan, sungguh ketika manusia merasa dirinya kaya, maka mereka lalu bersikap sombong dan melampaui batas”(QS 96: 6,7). Manusia (insan) itu mudah berkeluh kesah ketika mendapatkan kesulitan, tetapi cepat berubah menjadi sombong dan kikir ketika nasibnya berubah menjadi kaya dan hidupnya enak (QS 79: 19,20,21),” paparnya.

Di tempat lain, sambungnya, manusia disebut Allah sebagai makhluk yang cerdas, tapi ia culas dan angkuh. “Manusia juga mudah sekali mengingkari nikmat Tuhan, enggan bersyukur (QS 100: 6). Manusia merasa hebat, pintar, tetapi sesungguhnya kesombongannya itu sekaligus menunjukkan kebodohannya (QS 33:72),”imbuhnya.

Rektor mengingatkan, masyarakat modern yang  jiwa insani yang tidak dibimbing jiwa rabbani  merasa telah mampu membuat loncatan sejarah dan peradaban sehingga di antara mereka tidak lagi emerlukan Tuhan.

“Semua persoalan hidup hendak dijelaskan dan diselesaikan dengan pendekatan empiris- ilmiah. Kalaupun mereka masih percaya kepada Tuhan dan agama, peran dan posisinya semakin kecil, terpinggirkan. Ini tentunya berbahaya,”tandasnya.

Acara buka bersama ini dihadiri  para pembantu rektor (purek), kepala biro, dekan, sesepuh, karyawan, dosen, masyarakat sekitar, dan mahasiswa. (d antariksa/Saifudin)