Rektor: Santri Dahulu Lebih Mementingkan Ilmu

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

 

Reporter: Fina Mairita

Gedung FU, BERITA UIN Online - Rektor Prof Dr Komaruddin Hidayat menyatakan, para pelajar pendahulu seperti santri di pesantren biasanya lebih mementingkan ilmu (belajar) dibandingkan dengan ijazah. Selain itu, budaya pesantren juga lebih kental dengan telaah kitab-kitab klasik dan diskusi. “Buktinya mereka (santri) lebih rajin berdiskusi ketimbang ngobrol-ngobrol yang tidak jelas,” katanya saat bedah buku berjudul Kiprah Kiyai Entrepreneur karya Drs Soleh Rosyad di Ruang Teater Prof Portosentono lantai IV Gedung FU, Selasa (15/11). Selain Rektor, pemibacara lain adalah pengamat politik Dr Fachry Ali dan praktisi dakwah Hafis Azhari.

Jika santri-santri telah cukup ilmunya, kata Rektor, mereka langsung mempraktikkan apa yang telah mereka peroleh di pesantren. Bahkan mereka lebih mencintai terjun ke masyarakat untuk mengajar dan berdiskusi ketimbang ke dunia politik. “Ketika berdiskusi dengan non-muslim, santri lebih menjaga keislamannya,” ujarnya

Senada dengan Rektor, Fachry Ali menyatakan, santri terdahulu yang masih klasik  memandang dunia pendidikan hanya sebatas “menuntut ilmu”. Tetapi kini hal itu telah mengalami perubahan, seperti menerima adanya pengukuhan dalam bentuk ijazah. “Hak warga negara itu kan harus mempunyai ijazah dalam modernisasi. Karena itu memiliki peranan penting terhadap negara,” tandas Fachry Ali.

Pada bagian lain, Fachry Ali mengatakan, Kiyai Ahmad Rifa’i Arief, pendiri Pesantren La Tansa di Banten,  berhasil membangun sebuah lembaga pendidikan Islam bermutu. Sebelum sukses, kiprah kiyai entrepreneur ini sempat mengalami masa-masa kesulitan. Misalnya ia pernah dituduh sebagai penganut suatu aliran tertentu. Tapi ia sendiri berhasil melepaskan hak kepemilikan “keluarga” dalam mengurus pesantren dengan mengikuti jejak Pesantren Gontor, Jawa Timur.

Fachry menilai, buku karya Drs Soleh Rosyad ini menarik, terlepas dari kualitas dan metodologi studinya. Alasanya, karya ini memberikan informasi “eksotik” tentang orang-orang yang berperan di belakang tokoh utama: Kiyai Ahmad Rifa’i Arief. “Tetapi bersamaan dengan itu, kita menemukan referensi ‘ideologi pemikiran’ para tokoh utama yang menjelaskan, misalnya, mengapa lahir seorang Nanang Tahqiq (alumni Pesantren La Tansa dan kini dosen Fakultas Ushuluddin, Red) beberapa dekade kemudian,” ujarnya.