Rektor: Ramadlan, Bulan Penyucian Jiwa

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Masjid Al-Jami’ah, BERITA UIN Online— Rektor UIN Jakarta Prof. Dr. Komaruddin Hidayat menegaskan, bahwa Ramadlan adalah bulan tazkiyah al-nafs, yaitu bulan penyucian jiwa seorang Muslim. Hal inilah yang utama dan penting dalam ibadah Ramadlan.

“Selama 11 bulan kita manusia hidup bebas. Di bulan ini manusia diberi kesempatan untuk mennyucikan diri,” ujar Rektor di Masjdi Al-Jami’ah usai salat Dzuhur berjama’ah pada acara “Ramadlan in Campus”, Rabu (10/7/2013).

Menurutnya, Ramadlan disebut bulan suci, karena di bulan tersebut Allah menyediakan sarana selama sebulan penuh untuk penyucian diri manusia dan terdapat peristiwa Nuzul Alquran. Namun, seseorang tidak dapat meraih kesucian jika ia tak mau menyucikan diri. “Nilai-nilai suci Alquran pun tidak akan nuzul (turun) kepada jiwa, ruh, pikiran dan jasad seseorang,” imbuhnya.

Dijelaskannya, tentunya tidak semua dosa bisa diampuni dengan amaliyah Ramadlan. “Dosa-dosa kriminal seperti korupsi, itu tidak bisa terhapus dengan Ramadlan,” tegas Guru Besar Filsafat Agama Fakultas Ushulddin itu.

Dalam kesempatan itu, Rektor juga menjelaskan, bahwa hidup manusia itu terus bergerak. Dalam Alquran banyak ditemukan istilah yang mengisyaratkan hal itu, misalnya, isra’, hijrah, sa’i, thawaf, dan sebagainya. “Itu simbolisasi moving dalam kehidupan. Jadi manusia itu terus bergerak,” terangnya.

Memasuki bulan Ramadlan, lanjutnya,  seseorang  memasuki fase istirahat dari kepenatan pekerjaan selama 11 bulan. “Ibarat orang jalan, ketika Ramadlan ia memasuki lorong waktu. Di situlah seseorang berstirahat setelah capek bekerja. Dalam Islam, ada tempat dan waktu tujuan yang dituju setelah bergerak,” tuturnya.

Selain diisi dengan kultum ba’da salat Zhuhur, Ramadlan in Campus 2013 juga dimeriahkan dengan acara buka bersama dan Halal bi Halal. (D antariksa/ Saifudin)