Rektor : Nasionalisme Membuat Indonesia Teruji Lewati Krisis

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter : Luthfi Destianto

Auditorium Utama, UIN Online – Rektor Prof Dr Komaruddin Hidayat mengaku heran dengan anggapan sebagian orang yang menilai rasa nasionalisme bangsa Indonesia yang mulai memudar. Menurutnya, nasionalisme bangsa Indonesia sangat kuat. Kuatnya nasionalisme itu membuat Indonesia telah teruji melewati berbagai krisis dari generasi ke generasi.

“Komitmen dan loyalitas bangsa Indonesia tercipta bermula dari lahirnya inisiatif para pemuda berbagai suku bangsa di Indonesia untuk bersatu padu dalam Sumpah Pemuda 1928 yang memiliki semangat satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, itulah Indonesia. Kita berhasil melewati krisis dalam perjuangan meraih kemerdekaan, hingga krisis ekonomi tahun 1998 dan 2008. Negara kita masih berdiri hingga sekarang,” kata Rektor dalam Dialog Publik Penguatan Ketahanan Sosial Masyarakat Menghadapi Tantangan yang digelar atas kerjasama UIN Jakarta dan Kementerian Komunikasi dan Informatika di Auditorium Utama, Selasa, (30/3).

Hadir dalam kesempatan tersebut, Kepala Badan Informasi Publik Kementrian Komunikasi dan Informasi (BIP Kominfo) Drs Freddy H Tulung MUA dan dosen Departemen Filsafat Universitas Indonesia (UI) Dr Donny Gahral Adian.

Guru Besar Filsafat UIN Jakarta ini mengatakan, nasionalisme ini merupakan jati diri dan karakter bangsa yang harus terus dilestarikan. Organisasi masyarakat (ormas) sebesar Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah memiliki peran sentral dalam mengembangkan nilai nasionalisme. “Kedua organisasi ini telah terbukti secara konsisten untuk terus mempertahankan NKRI dan menjaga ideologi Pancasila,” kata Rektor.

Freddy menambahkan, ketahanan sosial akan terjadi apabila kita berhasil dalam melewati tiga isu utama ketahanan sosial yaitu globalisasi, perkembangan Iptek, dan demokratisasi. “Globalisasi merupakan tantangan untuk meningkatkan daya saing kita dibanding negara lain, negara kita harus maju dalam inovasi dan kreativitas dalam Iptek dan negara kita harus matang dalam berdemokrasi. Apakah ketiganya sudah terjadi di negara kita? Jika sudah berarti kita telah mencapai ketahanan sosial,” imbuhnya.

Freddy mengatakan, founding fathers telah menetapkan empat pilar pondasi bangsa yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika.  “Dari keempatnya, Bhineka Tunggal Ika adalah yang harus ditumbuhkembangkan karena hakekatnya kita hidup dalam perbedaan baik Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan (SARA),” imbuhnya.

Perbedaan, lanjut Freddy, membutuhkan sikap saling menghargai dan menghormati. Perbedaan  adalah aset dan modal sosial bangsa. Bhinneka Tunggal Ika sebagai pemersatu bangsa harus terus dijaga. Sehingga, ketahanan sosial akan tercipta ketika masyarakat dapat me-manage berbagai konflik yang ada dan berjalan secara dinamis. []

Rektor : Nasionalisme Membuat Indonesia Teruji Lewati Krisis

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter : Luthfi Destianto

Auditorium Utama, UIN Online – Rektor Prof Dr Komaruddin Hidayat mengaku heran dengan anggapan sebagian orang yang menilai rasa nasionalisme bangsa Indonesia yang mulai memudar. Menurutnya, nasionalisme bangsa Indonesia sangat kuat. Kuatnya nasionalisme itu membuat Indonesia telah teruji melewati berbagai krisis dari generasi ke generasi.

“Komitmen dan loyalitas bangsa Indonesia tercipta bermula dari lahirnya inisiatif para pemuda berbagai suku bangsa di Indonesia untuk bersatu padu dalam Sumpah Pemuda 1928 yang memiliki semangat satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, itulah Indonesia. Kita berhasil melewati krisis dalam perjuangan meraih kemerdekaan, hingga krisis ekonomi tahun 1998 dan 2008. Negara kita masih berdiri hingga sekarang,” kata Rektor dalam Dialog Publik Penguatan Ketahanan Sosial Masyarakat Menghadapi Tantangan yang digelar atas kerjasama UIN Jakarta dan Kementerian Komunikasi dan Informatika di Auditorium Utama, Selasa, (30/3).

Hadir dalam kesempatan tersebut, Kepala Badan Informasi Publik Kementrian Komunikasi dan Informasi (BIP Kominfo) Drs Freddy H Tulung MUA dan dosen Departemen Filsafat Universitas Indonesia (UI) Dr Donny Gahral Adian.

Guru Besar Filsafat UIN Jakarta ini mengatakan, nasionalisme ini merupakan jati diri dan karakter bangsa yang harus terus dilestarikan. Organisasi masyarakat (ormas) sebesar Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah memiliki peran sentral dalam mengembangkan nilai nasionalisme. “Kedua organisasi ini telah terbukti secara konsisten untuk terus mempertahankan NKRI dan menjaga ideologi Pancasila,” kata Rektor.

Freddy menambahkan, ketahanan sosial akan terjadi apabila kita berhasil dalam melewati tiga isu utama ketahanan sosial yaitu globalisasi, perkembangan Iptek, dan demokratisasi. “Globalisasi merupakan tantangan untuk meningkatkan daya saing kita dibanding negara lain, negara kita harus maju dalam inovasi dan kreativitas dalam Iptek dan negara kita harus matang dalam berdemokrasi. Apakah ketiganya sudah terjadi di negara kita? Jika sudah berarti kita telah mencapai ketahanan sosial,” imbuhnya.

Freddy mengatakan, founding fathers telah menetapkan empat pilar pondasi bangsa yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika.  “Dari keempatnya, Bhineka Tunggal Ika adalah yang harus ditumbuhkembangkan karena hakekatnya kita hidup dalam perbedaan baik Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan (SARA),” imbuhnya.

Perbedaan, lanjut Freddy, membutuhkan sikap saling menghargai dan menghormati. Perbedaan  adalah aset dan modal sosial bangsa. Bhinneka Tunggal Ika sebagai pemersatu bangsa harus terus dijaga. Sehingga, ketahanan sosial akan tercipta ketika masyarakat dapat me-manage berbagai konflik yang ada dan berjalan secara dinamis. []