Rektor: Mahasiswa Kedokteran Perlu Perkaya Pengetahuan Sosial

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
Reporter: Jaenuddin Ishaq 

Syahida Inn, UINJKT Online – Rektor UIN Jakarta Prof Dr Komaruddin Hidayat mengatakan, mahasiswa kedokteran hendaknya tak sekadar mendalami bidang kedokteran secara akademis, lebih dari itu harus memperkaya diri dengan pengetahuan sosial kemasyarakatan. Hal itu dikatakan rektor ketika membuka May Meeting 2009 yang diadakan Center for Indonesian Medical Students Activities (Cimsa) di Syahida Inn, Kamis (21/5). 

Rektor melanjutkan, pengetahuan sosial kemasyarakatan penting bagi mahasiswa kedokteran agar mampu melakukan analisis sosial. Di samping itu, dalam melakukan tugas medis mereka juga membangun kontak batin dengan pasien, dan memotivasi agar pasien lekas sembuh.

Pembukaan acara bertema Chronic Diseases and Professional Ethnic dihadiri Pembantu Rekor Bidang Kemahasiswaan Prof Dr Ahmad Thib Raya, Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Prof Dr dr M K Tadjudin Sp And, Pejabat Direktorat Pelayanan Medik Departemen Kesehatan (Depkes) dr Tengku Marwan Narsi, sejumlah dosen FKIK, dan perwakilan mahasiswa kedokteran se-Indonesia.  

Lebih lanjut rektor mengungkapkan, ilmu kedokteran mempunyai akar teologis dalam membantu hamba Allah. “Karena itu ketika seseorang membunuh satu orang, maka seolah-olah telah membunuh seluruh manusia, dan sebaliknya ketika seseorang menolong satu orang seolah telah menolong seluruh umat manusia,” jelas Rektor. 

Sementara itu, Marwan mengatakan, dokter memiliki peran penting kepada masyarakat. Terlebih di pedesaan minim adanya dokter, padahal masyarakat pedesaan sangat membutuhkan. “Untuk itu kontribusi untuk melakukan kesehatan terhadap warga pedasaan perlu ditingkatkan. Tentunya melakukan kerja tim dan memiliki integritas,” ungkap Marwan. 

Kegiatan Bersifat Sosial 

Presiden Cimsa Haritsah Suhatril mengatakan, Cimsa merupakan wadah komunikasi dan diskusi mahasiswa kedokteran di Indonesia. Dengan memiliki enam bidang kerja yaitu kesehatan masyarakat, kesehatan reproduksi, terjun di dunia dokter, perputaran mahasiswa (kedokteran), penelitian, dan Hak Asasi Manusia (HAM). 

“Semuanya bersifat sosial, melihat dari visi kita yaitu empowering medical students and improving healthier Indonesia,” katanya. Siapa pun bisa bergabung, asal mahasiswa kedokteran.

Berdiri sejak 2001 di Jakarta, hingga kini Cimsa memiliki anggota dari 20 fakultas kedokteran yang tersebar di seluruh Indonesia, seperti Aceh, Padang, Jambi, dan Jakarta dengan anggota berjumlah lebih dari 2 ribu mahasiswa. 

Terkait berakhirnya masa jabatan Harist pada Mei ini, ia berharap, Cimsa dapat menjadi organisasi yang alur pekerjaannya berbasis sistem. “Dengan tentunya melihat pengalaman-pengalaman yang telah terjadi,” tutur mahasiswa FKIK UIN Jakarta yang kini tengah magang di salah satu rumah sakit swasta di Bogor. 

Kegiatan ini sengaja diberi nama ‘May Meeting’, karena kegiatan ini rutin diselenggarakan setiap bulan Mei. Dalam kegiatan tersebut akan dibahas AD/ART dan regenerasi kepengurusan. [Nif/Ed]

Rektor: Mahasiswa Kedokteran Perlu Perkaya Pengetahuan Sosial

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
Reporter: Jaenuddin Ishaq 

Syahida Inn, UINJKT Online – Rektor UIN Jakarta Prof Dr Komaruddin Hidayat mengatakan, mahasiswa kedokteran hendaknya tak sekadar mendalami bidang kedokteran secara akademis, lebih dari itu harus memperkaya diri dengan pengetahuan sosial kemasyarakatan. Hal itu dikatakan rektor ketika membuka May Meeting 2009 yang diadakan Center for Indonesian Medical Students Activities (Cimsa) di Syahida Inn, Kamis (21/5). 

Rektor melanjutkan, pengetahuan sosial kemasyarakatan penting bagi mahasiswa kedokteran agar mampu melakukan analisis sosial. Di samping itu, dalam melakukan tugas medis mereka juga membangun kontak batin dengan pasien, dan memotivasi agar pasien lekas sembuh.

Pembukaan acara bertema Chronic Diseases and Professional Ethnic dihadiri Pembantu Rekor Bidang Kemahasiswaan Prof Dr Ahmad Thib Raya, Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Prof Dr dr M K Tadjudin Sp And, Pejabat Direktorat Pelayanan Medik Departemen Kesehatan (Depkes) dr Tengku Marwan Narsi, sejumlah dosen FKIK, dan perwakilan mahasiswa kedokteran se-Indonesia.  

Lebih lanjut rektor mengungkapkan, ilmu kedokteran mempunyai akar teologis dalam membantu hamba Allah. “Karena itu ketika seseorang membunuh satu orang, maka seolah-olah telah membunuh seluruh manusia, dan sebaliknya ketika seseorang menolong satu orang seolah telah menolong seluruh umat manusia,” jelas Rektor. 

Sementara itu, Marwan mengatakan, dokter memiliki peran penting kepada masyarakat. Terlebih di pedesaan minim adanya dokter, padahal masyarakat pedesaan sangat membutuhkan. “Untuk itu kontribusi untuk melakukan kesehatan terhadap warga pedasaan perlu ditingkatkan. Tentunya melakukan kerja tim dan memiliki integritas,” ungkap Marwan. 

Kegiatan Bersifat Sosial 

Presiden Cimsa Haritsah Suhatril mengatakan, Cimsa merupakan wadah komunikasi dan diskusi mahasiswa kedokteran di Indonesia. Dengan memiliki enam bidang kerja yaitu kesehatan masyarakat, kesehatan reproduksi, terjun di dunia dokter, perputaran mahasiswa (kedokteran), penelitian, dan Hak Asasi Manusia (HAM). 

“Semuanya bersifat sosial, melihat dari visi kita yaitu empowering medical students and improving healthier Indonesia,” katanya. Siapa pun bisa bergabung, asal mahasiswa kedokteran.

Berdiri sejak 2001 di Jakarta, hingga kini Cimsa memiliki anggota dari 20 fakultas kedokteran yang tersebar di seluruh Indonesia, seperti Aceh, Padang, Jambi, dan Jakarta dengan anggota berjumlah lebih dari 2 ribu mahasiswa. 

Terkait berakhirnya masa jabatan Harist pada Mei ini, ia berharap, Cimsa dapat menjadi organisasi yang alur pekerjaannya berbasis sistem. “Dengan tentunya melihat pengalaman-pengalaman yang telah terjadi,” tutur mahasiswa FKIK UIN Jakarta yang kini tengah magang di salah satu rumah sakit swasta di Bogor. 

Kegiatan ini sengaja diberi nama ‘May Meeting’, karena kegiatan ini rutin diselenggarakan setiap bulan Mei. Dalam kegiatan tersebut akan dibahas AD/ART dan regenerasi kepengurusan. [Nif/Ed]